operasi modifikasi cuaca mengundang hujan demi memadamkan karhutla - News | Good News From Indonesia 2026
2/21
Beragam Jurus Melawan Karhutla
1Karhutla Menyala, Indonesia Pantang Diam Saja!2Operasi Modifikasi Cuaca, "Mengundang" Hujan demi Memadamkan Karhutla3Mengatasi Karhutla dengan Water Bombing, "Mengebom" dengan Air untuk Melawan Api4Memadamkan Karhutla dengan Ubi, Apakah Efektif?5Menjaga Lahan Gambut, Solusi Paling Paten untuk Mencegah Karhutla6Dari Bundaran HI, Suara untuk Penanganan Karhutla yang Lebih Baik Bergaung7Jurus Jitu Mengatasi Karhutla: Pemadaman & Pencegahan Perlu Jalan Beriringan8Dari Modifikasi Cuaca hingga Water Bombing, Begini Upaya Pemerintah Memadamkan Karhutla9Karhutla di Lahan Gambut, Kebakaran yang Bisa Bertahan Meski Api Tak Terlihat10Lahan Bekas Karhutla Bukan Ladang Bisnis, Ini Deretan Pohon yang Bisa Memulihkan Hutan11Dengan Selang dan Motor, 140 Lebih Perempuan Ketapang Jaga Hutan dari Karhutla 202612Karhutla Belum Usai, Komunikasi Pemerintah Harus Akurat dan Terbuka agar Publik Tak Semakin "Panas"13The Power of Mama, Pasukan Ibu-Ibu yang Turun Padamkan Karhutla di Kalimantan14Jenis Masker untuk Melindungi Pernapasan dari Asap Karhutla15Dry Ice untuk Penanganan Kebakaran Hutan, Apa Itu Dry Ice?16Mengenal Tanah Gambut, Salah Satu Faktor Risiko Kebakaran Hutan17Mengenal Jenis-Jenis APAR dan Fungsinya untuk Menangani Kebakaran18Ini Cara Melindungi Diri dari Asap Kebakaran Hutan19Pohon Sengon dan Beragam Manfaatnya bagi Manusia serta Lingkungan20Mengapa Jelutung Rawa Berpotensi Besar untuk Restorasi Gambut?21Apakah Hujan Bisa Menghilangkan Kabut Asap? Memahami Cara Alam Bantu Bersihkan Udara

Operasi Modifikasi Cuaca, "Mengundang" Hujan demi Memadamkan Karhutla

Operasi Modifikasi Cuaca, "Mengundang" Hujan demi Memadamkan Karhutla
images info

Operasi Modifikasi Cuaca di Lampung | BNPB


Ikuti GNFI di WhatsApp

Sebagaimana diketahui, El Nino membuat kebakaran hutan dan lahan alias karhutla menjadi semakin sulit ditangani. El Nino membuat cuaca jadi panas dan kering dengan curah hujan yang relatif sedikit. Padahal, "bantuan alam" berupa hujan akan mempercepat padamnya api.

Di tengah kondisi demikian, menciptakan hujan buatan jadi langkah yang bisa diambil pihak berwenang. Tentu bukan dengan kekuatan gaib atau memanggil pawang hujan, melainkan dengan melakukan operasi modifikasi cuaca alias OMC. Ya, ilmu pengetahuan memang memungkinkan manusia untuk mencegah maupun mendorong terjadinya hujan meski itu juga tidak sepenuhnya menjamin kondisi cuaca bisa benar-benar sesuai dengan skenario yang diinginkan.

Saat karhutla berskala besar melanda sejumlah wilayah di Indonesia sejak Agustus lalu, OMC jadi salah satu inisiatif utama yang ditempuh sebagai bagian dari upaya penanganan. Biasanya, OMC dilakukan selama beberapa hari. Namun, dalam situasi mendesak seperti di Kalimantan beberapa waktu lalu, OMC bisa digelar tanpa batas waktu.

"Operasi Modifikasi Cuaca tidak ada kata berakhir selama potensi bibit awan hujan masih ada. Begitu BMKG mendeteksi adanya potensi awan, armada pesawat OMC wajib langsung melakukan penyemaian. Jika kebutuhan armada kurang, pusat siap menambah unit pesawat tambahan," ujar Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, saat memimpin Rapat Koordinasi dan Evaluasi Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Kalimantan Tengah, di Palangka Raya, pada Jumat, 11 September 2026, lalu.

OMC dilakukan dengan cara menyemai bahan seperti NaCl alias garam dapur ke dalam awan yang sedang tumbuh. Tujuannya untuk mempercepat proses kondensasi dan pembentukan butiran air. Di Kalimantan sendiri, potensi bibit awan dapat diketahui dari data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Saat potensi bibit awan hujan itu terdeteksi ada di langit, BNPB akan menerbangkan pesawat untuk mengangkut garam dan menyemainya di langit. Ketergantungan terhadap potensi bibit awan hujan ini pula yang bikin OMC tidak selalu membuahkan hasil.

Selain bibit awan hujan, garam yang harus disiapkan juga jumlahnya sangat banyak. Sebagai gambaran, OMC yang dilakukan BNPB di Kalimantan pada awal September 2026 membutuhkan 7 ton bahan semai untuk operasi selama 15 jam 3 menit jam terbang.

Selain bibit awan hujan serta bahan semai, OMC juga tentu membutuhkan armada pesawat terbang. Indonesia sendiri punya beberapa unit pesawat terbang yang siap digunakan untuk OMC. Di Kalimantan misalnya, sejak Agustus lalu, BNPB bersama TNI menurunkan pesawat Cassa 212 A-2103. Kemudian, ada pula pesawat lain seperti Cessna 208. Pesawat ini pula yang digunakan untuk OMC di Riau karena dampak karhutla juga terasa di sana.

Memasuki akhir September, karhutla, terutama di Kalimantan, belum juga sepenuhnya padam. Akan tetapi, OMC terus dilakukan. Pada Selasa, 22 September 2026, misalnya, BNPB kembali melakukan OMC di tiga bandar udara yang disiagakan sebagai base operasi modifikasi cuaca. Ketiga bandara tersebut adalah Bandara Tjilik Riwut di Palangka Raya, Bandara Iskandar di Pangkalan Bun, serta Bandara Syamsudin Noor di Banjarbaru. Seperti sebelumnya, OMC ini mengandalkan pesawat Cessna Caravan untuk membawa garam sebagai bahan semai di awan.

"Asap ini tidak ada teknologi untuk menghilangkannya, hanya ada dua cara. Yang pertama angin, yang kedua hujan," jelas Suharyanto.

"Sekecil apa pun potensi adanya awan hujan, kita akan maksimalkan untuk modifikasi cuaca, untuk mendatangkan hujan buatan," tegasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aulli Atmam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aulli Atmam.

AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.