Β
βKami tidak merespons. Kami tidak bisa membantu karena dia sudah merendahkan kami selama dua bulan,β kata Melyanti (26) sebagaimana dikutip The Jakarta Post, dalam terjemahan bahasa Indonesia.
Kisah itu terjadi ketika lahan milik seorang warga terbakar. Biasanya, Melyanti dan tim sigap membantu untuk memadamkan api. Akan tetapi, kali itu mereka memilih bergeming.
Alasannya, kata Melyanti, warga tersebut selama ini kerap meremehkan pekerjaan yang mereka lakukan. Makanya, ketika lahannya terbakar, mereka tidak turun tangan.
Melyanti merupakan perempuan yang bekerja sebagai perawat lansia sekaligus menjadi pemadam api paruh waktu βThe Power of Mamaβ. Prinsipnya, selama mampu, mereka akan membantu siapa pun yang meminta tolong.
Melyanti tidak sendirian. Ada juga Ramilah (46), seorang ibu yang memulai harinya dengan mengurus rumah, memberi makan sapi, dan memberi makan ikan nila milik keluarga.
Setelahnya, sekitar pukul 10.00 sampai 13.00, Ramilah melakukan patroli dan pemadaman. Setelah itu, ia kembali bekerja di rumah sampai malam.
Siti Nuraini mengawali harinya dengan cara serupa. Menurut BBC, ia memasak nasi dan membereskan rumah sejak subuh. Sebelum berangkat patroli, ia mengoleskan pasta buatan sendiri dari beras dan daun pandan yang dihaluskan ke wajah.
βKalau tidak dioles, terik matahari akan membakar kami,β ujarnya.
Setelah itu ia berangkat dengan sepeda motor bersama enam perempuan lain. Ia memakai hijab cokelat berlengan panjang bertuliskan βThe Power of Mamaβ dan sepatu bot karet setinggi lutut.
Cerita di Balik Terbentuknya Power of Mama
Kawan, The Power of Mama adalah kelompok perempuan yang bergerak dalam pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan di Ketapang, Kalimantan Barat. Anggotanya berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari ibu rumah tangga, petani, hingga guru.
The Power of Mama dibentuk Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) pada 2022.
Gagasannya berawal dari pengalaman yang cukup ironis. Direktur YIARI, Karmele Llano Sanchez, menyaksikan seorang petani membakar lahan. Staf YIARI memintanya memadamkan api, tetapi ia tidak peduli. Pemerintah setempat juga tidak berhasil membuatnya menurut.
βTapi kemudian kami memberi tahu istrinya, yang lalu menegurnya, dan dia memadamkan apinya,β kata Sanchez.
Pengalaman itu membuat YIARI menilai bahwa perempuan bisa mengubah sikap warga terhadap pencegahan kebakaran.
Dari 44 Relawan Menjadi Ratusan
Sejak dibentuk, jumlah anggota The Power of Mama terus bertambah. Pada awal pembetukannya tahun 2022, sebanyak 44 perempuan mendaftar untuk bergabung.
Angka itu terus bertambah hingga 146 perempuan bergabung, dengan rentang usia 20 sampai 58 tahun. Ratusan perempuan itu berasa dari 10 desa.
Banyak anggota bergabung karena urusan keluarga. Dalam tayangan Metro TV, Eli Marlina mengatakan, anaknya pernah terkena ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) pada 2019, saat karhutla (kebakaran hutan dan lahan) melanda lingkungan mereka.
Sedang menurut pengalaman Siti Nuraini, asap pernah memaksa warga mengungsi dan sekolah libur.
Irma, anggota dari Desa Sungai Putri, juga turut menyampaikan alasan mengapa The Power of Mama masih eksis, malah makin banyak peminatnya. Salah satunya adalah senabis sepenanggungan.
βKarena kami ibu rumah tangga, kamilah yang paling merasakan dampaknya,β katanya.
Nah, dengan visi yang mereka bawa, anggota The Power of Mama jelas punya bekal dan tak asal-asalan. Mereka dilatih memadamkan api, mengoperasikan drone pengawas, dan melakukan penyuluhan ke warga.
Para Mama sebenarnya dibentuk tidak untuk melarang. Ratinah, yang bergabung pada 2023, menjelaskan pendekatan mereka.
βKami tidak melarang Bapak membuka lahan, tapi tolong apinya dikendalikan supaya tidak menyebar,β ungkapnya.
Penghargaan dan Makna yang Lebih Luas
Pada November 2023, kelompok ini menerima penghargaan Indonesia Clean Air Championship. Penghargaan tersebut diberikan atas upaya mereka menjaga udara bersih bagi warga.
Usai mendapat penghargaan, mereka tak berhenti. Malahan, sejak September 2026, The Power of Mama ikut turun langsung dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan di Ketapang, Kalimantan Barat.


