Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan, tetapi juga menghasilkan kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat.
Untuk mengatasi dampaknya, pemerintah menguji penggunaan dry ice atau es kering yang disebarkan melalui pesawat di Sumatera Selatan. Metode ini diharapkan dapat mengurangi penumpukan asap dan memperbaiki kualitas udara di wilayah terdampak.
Apa Itu Dry Ice?
Dry ice atau es kering merupakan karbon dioksida (COβ) yang berbentuk padat. Tidak seperti es biasa yang terbuat dari air, es kering tidak melewati fase cair saat terkena suhu yang lebih hangat. Pada tekanan udara normal, material ini langsung berubah menjadi gas melalui proses yang dikenal sebagai sublimasi.
Dry ice memiliki suhu sekitar minus 78,5 derajat Celsius. Karena suhunya sangat rendah, material ini dapat menyebabkan luka akibat paparan dingin ekstrem jika bersentuhan langsung dengan kulit. Oleh karena itu, penanganannya membutuhkan perlengkapan pelindung khusus.
Selama ini, dry ice banyak digunakan untuk menjaga suhu makanan dan obat-obatan selama pengiriman. Material tersebut juga dimanfaatkan untuk menghasilkan efek kabut dalam pertunjukan dan produksi film. Dalam industri, es kering digunakan untuk membersihkan permukaan tertentu tanpa meninggalkan residu air.
Namun, penggunaan dry ice tidak terbatas pada kebutuhan pendinginan. Material ini juga dapat dimanfaatkan dalam teknik modifikasi cuaca, termasuk penyemaian awan (cloud seeding).
Pada kondisi atmosfer yang sesuai, partikel es kering dapat membantu pembentukan kristal es di dalam awan dan memengaruhi proses terjadinya hujan.
Dalam penanganan karhutla, pemerintah menguji pemanfaatan dry ice dengan tujuan yang berbeda dari pemadaman api secara langsung. Teknologi ini diarahkan untuk membantu mengatasi kabut asap yang menumpuk di udara, terutama ketika kondisi atmosfer menghambat pergerakan asap.
Bagaimana Dry Ice Digunakan untuk Menangani Asap Karhutla?

Dry Ice | Foto: (Tony Webster | Wikipedia Commons)
Pemerintah menguji penyebaranΒ dry ice menggunakan pesawat sebagai salah satu upaya mengurangi dampak kabut asap. Pada tahap awal, sebanyak 1,5 ton es kering disiapkan untuk mendukung kegiatan tersebut. Penyebarannya dilakukan bersamaan dengan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), tetapi keduanya memiliki sasaran yang berbeda.
Penggunaan dry ice difokuskan pada upaya mengurangi penumpukan asap di atmosfer. Sementara itu, OMC bertujuan merangsang pembentukan hujan buatan untuk membantu proses pemadaman kebakaran. Dengan demikian, penyebaran es kering bukanlah metode utama untuk memadamkan api di hutan atau lahan gambut.
Salah satu kondisi atmosfer yang menjadi perhatian dalam pengujian ini adalah lapisan inversi. Kondisi tersebut terjadi ketika suhu udara meningkat pada lapisan tertentu seiring bertambahnya ketinggian. Akibatnya, pergerakan udara secara vertikal dapat terhambat sehingga asap dan polutan sulit naik dan menyebar ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi.
Dalam kondisi tersebut, asap dapat bertahan di dekat permukaan dan menurunkan kualitas udara. Penyemaian dry ice dikaji sebagai salah satu pendekatan untuk memengaruhi kondisi atmosfer yang menghambat pertumbuhan awan sekaligus membantu asap yang terperangkap bergerak mengikuti angin. Meski demikian, efektivitas metode ini masih perlu dibuktikan melalui pengamatan ilmiah.
Hasil pemantauan awal di Palembang pada 15 Oktober 2026 menunjukkan adanya peningkatan jarak pandang dari 650 meter menjadi 2.800 meter setelah dua kali penyemaian dry ice. Pengujian tersebut dijadwalkan berlangsung hingga 18 Oktober 2026. Selama periode itu, pemerintah akan mengevaluasi hasilnya untuk menilai kemungkinan penerapan metode serupa di wilayah lain yang terdampak karhutla.
Meski menunjukkan perbaikan jarak pandang, perubahan tersebut belum dapat dipastikan sepenuhnya sebagai dampak penggunaan dry ice. Faktor atmosfer dan kondisi lingkungan lainnya juga perlu diperhitungkan dalam evaluasi. Oleh karena itu, diperlukan pengamatan lebih lanjut untuk mengetahui efektivitas metode tersebut dalam mengurangi konsentrasi kabut asap.
Jika hasil pengujian menunjukkan efektivitas yang memadai, metode ini berpeluang diterapkan di wilayah lain yang mengalami masalah serupa. Salah satu wilayah yang menjadi sasaran adalah Palangka Raya, Kalimantan Tengah, untuk membantu memperbaiki jarak pandang dan mendukung akses penerbangan di Bandara Tjilik Riwut.
Penggunaan dry ice menjadi salah satu pendekatan yang sedang diuji untuk mengurangi dampak kabut asap akibat karhutla. Namun, penerapannya tetap memerlukan evaluasi ilmiah, sedangkan pemadaman api harus terus dilakukan melalui operasi khusus di darat maupun udara.


