Di tengah perkembangan teknologi perfilman yang semakin modern, Rajawali Cinema di Purwokerto, Jawa Tengah, memiliki cara unik untuk menarik perhatian penonton.
Bioskop legendaris ini masih mempertahankan tradisi melukis poster film secara manual. Tradisi tersebut menjadikannya ikon lokal yang memadukan hiburan, sejarah, dan seni lukis di tengah perubahan zaman.
Sejarah Rajawali Cinema, Bioskop yang Bertahan Sejak 1980
Rajawali Cinema merupakan salah satu bioskop legendaris yang berada di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Berdiri sejak 1980, bioskop ini telah melewati berbagai perubahan dalam industri hiburan, mulai dari masa kejayaan bioskop konvensional hingga era digital yang menawarkan kemudahan menonton film melalui berbagai platform.
Di tengah persaingan dengan bioskop modern, Rajawali Cinema tetap mempertahankan identitasnya melalui sejumlah ciri khas, terutama tradisi poster film yang dilukis menggunakan tangan.
Keunikan ini membuatnya berbeda dari kebanyakan bioskop yang kini mengandalkan poster cetak dan media promosi digital.
Bagi masyarakat setempat, Rajawali bukan sekadar tempat untuk menikmati film di layar lebar. Bioskop ini juga menyimpan kenangan lintas generasi dan menjadi bagian dari perjalanan budaya hiburan di Purwokerto.
Tradisi Poster Film yang Dilukis Secara Manual
Hal paling menarik dari Rajawali Cinema adalah poster film yang terpampang di bagian depan gedung. Alih-alih menggunakan poster hasil cetakan mesin, bioskop ini masih memanfaatkan lukisan tangan untuk memperkenalkan film-film yang sedang maupun akan ditayangkan.
Tradisi tersebut telah dipertahankan sejak bioskop ini berdiri. Ketika teknologi digital semakin memudahkan proses pembuatan materi promosi, Rajawali tetap memberikan ruang bagi seni lukis manual untuk menjadi bagian dari pengalaman menonton film.
Keunikan ini bahkan membuat Rajawali dikenal sebagai satu-satunya bioskop di Indonesia yang masih mempertahankan tradisi poster film lukisan tangan.
Poster-poster tersebut bukan hanya penunjuk film yang sedang tayang, melainkan juga karya seni yang menghadirkan sentuhan manusia di ruang publik. Setiap gambar memiliki karakter tersendiri, berbeda dari hasil cetakan digital yang dapat direproduksi dengan bentuk seragam.
Parsan, Seniman di Balik Poster Rajawali Cinema
Keberlangsungan tradisi ini tidak terlepas dari sosok Parsan, seniman veteran yang telah bertahun-tahun melukis poster film untuk Rajawali Cinema. Ia menuangkan gambar karakter dan adegan berbagai judul film ke atas papan triplek berukuran sekitar 220 x 110 sentimeter.
Proses tersebut membutuhkan keterampilan menggambar, ketelitian, dan kemampuan menerjemahkan gambar referensi menjadi lukisan berukuran besar. Poster yang dihasilkan harus cukup menarik untuk dilihat dari kejauhan sekaligus mampu menggambarkan identitas film yang dipromosikan.
Keberadaan Parsan menunjukkan bahwa tradisi ini bukan hanya berkaitan dengan kebijakan pengelola bioskop, tetapi juga bergantung pada keterampilan seorang seniman. Tanpa regenerasi atau upaya menjaga keahlian tersebut, tradisi poster lukisan tangan berisiko menghilang seiring perubahan zaman.
Menggunakan Papan yang Dapat Dipakai Kembali
Selain memiliki nilai artistik, penggunaan papan lukisan juga memberikan keuntungan praktis. Menurut keterangan pihak bioskop, media promosi tersebut pernah menggunakan kain sebelum akhirnya beralih ke papan triplek.
Papan triplek dipilih karena dapat digunakan berulang kali. Setelah masa penayangan film berakhir, permukaan papan dapat ditutup dengan cat hitam sebelum dilukis kembali untuk mempromosikan judul film berikutnya.
Dengan begini, satu papan disebut dapat digunakan untuk sekitar enam hingga tujuh judul film. Pemanfaatan berulang ini membantu mengurangi kebutuhan membeli media promosi baru untuk setiap pergantian film.
Warisan Budaya di Tengah Modernisasi
Keberadaan Rajawali Cinema memperlihatkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu harus menghapus kebiasaan lama. Di saat bioskop modern mengutamakan promosi digital, Rajawali mempertahankan identitas visual yang membuatnya mudah dikenali.
Lukisan-lukisan tersebut juga menghadirkan pengalaman yang berbeda bagi pengunjung. Sebelum memasuki ruang pemutaran, penonton dapat menikmati karya seni yang dibuat dengan tangan, sekaligus melihat bagaimana sebuah tradisi mampu bertahan di tengah perubahan industri hiburan yang cepat.


