Wilayah Nusantara berada di atas pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia, yaitu Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Kondisi geologis ini secara alamiah menyimpan potensi aktivitas seismik yang konstan, salah satunya ancaman gempa megathrust.
Menanggapi bayang-bayang potensi bencana tersebut, Pakar Manajemen dan Mitigasi Bencana Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. Hijrah Saputra, ST., MSc., menegaskan pentingnya perubahan pola pikir. Menurutnya, masyarakat perlu menggeser fokus dari kepanikan menuju penguatan kapasitas kesiapsiagaan.
Dalam keterangannya di unair,ac,id, Hijrah menilai jika pemerintah sebetulnya sudah memiliki kesadaran untuk mengatur kesiapsiagaan bencana secara terstruktur. Salah satunya adalah penyediaan teknologi Early Warning System (EWS).
Namun, ia tak menampik jika implementasi sistem peringatan dini masih menyisakan βcelahβ yang harus terus diperbaiki.
Empat Pilar Efektivitas Early Warning System
Hijrah menyebutkan, keberadaan EWS adalah kemajuan yang cukup signifikan bagi upaya mitigasi di Indonesia. Namun, keberhasilan teknologi ini tidak bisa berdiri sendiri tanpa dukungan komponen pendukung lainnya.
Ia menjelaskan bahwa efektivitas EWS sangat bergantung pada empat pilar utama yang berjalan secara terpadu.
βEWS yang efektif itu terdiri dari empat komponen yang harus berjalan bersama, yakni pengetahuan tentang risiko, pemantauan dan peringatan, penyebaran informasi kepada masyarakat, serta kemampuan respons masyarakat,β jelasnya. βKalau salah satu komponen itu lemah, maka EWS secara keseluruhan bisa gagal,β jelasnya.
Apa Itu Megathrust?
Lebih lanjut, soal fenomena gempa megathrust, akumulasi tekanan pada zona penunjaman lempeng menjadi penyebab utamanya. Tekanan yang terus menumpuk lambat laun akan melampaui ambang batas elastisitas batuan.
βSesuai hukum elastisitas batuan, saat lempeng terus tertekan hingga tidak lagi mampu menahan beban, batuan akan retak atau patah secara mendadak dan memicu pelepasan gelombang gempa,β imbuhnya.
Kawasan Selatan Jawa menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus dari para peneliti. Hal ini disebabkan oleh keberadaan fenomena seismic gap di kawasan tersebut.
Seismic gap sendiri merujuk pada segmen rawan bencana yang dalam jangka waktu relatif lama belum melepaskan akumulasi energinya.
Apa yang Harus Dilakukan?
Untuk meretas kebuntuan mitigasi, pendekatan keselamatan bencana harus diterapkan secara komprehensif. Langkah ini terbagi ke dalam tiga lapis kesiapsiagaan, mulai dari struktur pemerintah, komunitas lokal, hingga unit keluarga.
Pemodelan jangkauan gelombang tsunami dan pemetaan rute evakuasi harus terkoordinasi dengan baik di lapangan. Selain itu, latihan simulasi respons cepat perlu digelar secara berkala di kawasan rawan bencana.
βDi level struktural, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) secara intensif sudah melakukan sosialisasi dan simulasi. Instansi terkait juga melakukan pengujian skala nasional dengan membuat skenario terburuk. Peneliti telah memodelkan seberapa jauh tinggi gelombang masuk ke daratan saat terjadi gempa dengan magnitudo tertentu, lalu berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk membuat jalur evakuasi. Potensi rawan tiap titik memiliki karakteristik yang berbeda-beda sehingga tidak bisa digeneralisir,β tegasnya.
Selain penguatan sarana fisik, strategi komunikasi risiko memegang peranan krusial untuk mencegah timbulnya kepanikan massal. Informasi kebencanaan perlu disampaikan secara menenangkan agar tidak memicu kebingungan publik.
Ia menekankan agar penyampaian informasi kebencanaan menghindari penggunaan istilah-istilah akademis yang terlalu rumit. Sebaliknya, pendekatan kearifan lokal melalui pelibatan tokoh agama dan tokoh adat setempat disebutnya justru jauh lebih efektif.
βKomunikasi bencana dapat dilakukan dengan basis solusi dan bukan ancaman, pesan konsisten dan terkoordinasi, menggunakan bahasa sederhana dan konseptual, melibatkan tokoh lokal dan media lokal, serta edukasi berkelanjutan. Jadi, panik itu wajar, jangan menyalahkan diri sendiri, dan jangan biarkan kepanikan mengendalikan diri,β pungkasnya.


