Siang belum benar-benar tiba ketika aktivitas sudah dimulai di sebuah dapur di belakang Kantor Desa Sungai Baru. Sejak pukul 12.30, para relawan telah bergerak menyiapkan berbagai kebutuhan untuk kegiatan Pos Gizi DASHAT (PGD).
Ada yang menyiapkan bahan makanan, memotong sayuran, memasak, hingga mengisi rapor perkembangan anak. Ketika kegiatan dimulai pukul 14.00, dapur tersebut berubah menjadi ruang belajar bersama bagi anak dan orang tua.
Program PASTI (Partner Akselerasi Penurunan Stunting di Indonesia) adalah program kemitraan antara Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN dengan Tanoto Foundation, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) dan PT Bank Central Asia Tbk dan diimplementasikan oleh Wahana Visi Indonesia untuk percepatan pencegahan dan penurunan stunting dan perbaikan status gizi di Indonesia hingga Januari 2027.
Selama periode April–Desember 2025, Program PASTI telah menjangkau total 10.528 penerima manfaat dengan rincian : 6.764 dewasa, 2.515 remaja, dan 1.249 baduta. Kelompok dewasa meliputi tim pendamping, relawan, orang tua/pengasuh, ibu hamil risiko KEK, remaja >19 tahun, serta peserta pelatihan dan anggota TPPS.
Penerima manfaat remaja mencakup usia 15-19 tahun, di bawah 15 tahun, fasilitator Genre, peserta Ansit, dan pertemuan non rutin. Sementara baduta adalah anak di bawah dua tahun yang mengikuti Pos Gizi DASHAT.
Namun, yang dilakukan para relawan bukan sekadar memasak dan membagikan makanan. Melalui PGD, Wahana Visi Indonesia (WVI) bersama relawan dan masyarakat berupaya mengubah cara pandang orang tua mengenai gizi dan pola asuh anak.
Pesan yang dibangun sederhana: makanan bergizi tidak harus mahal dan bahan pangan yang tersedia di sekitar desa dapat diolah menjadi makanan yang disukai anak.
Desa Sungai Baru menjadi salah satu desa model yang didampingi WVI. Program tersebut juga diarahkan agar masyarakat tidak hanya mengetahui kondisi anak melalui data posyandu, tetapi mampu menggunakan data tersebut sebagai dasar untuk melakukan tindakan.
Pendamping relawan PGD, Rafika Nury Simanjuntak mengatakan perubahan bermula ketika masyarakat mulai melihat PGD dengan cara berbeda.
“Jadi ketika kita di tahun-tahun sebelumnya PGD yang ada di beberapa desa termasuk yang di desa model khususnya, masyarakat tidak terlalu antusias karena berpikirnya PGD itu adalah untuk anak yang kurang gizi,” ujarnya.
Persepsi tersebut kemudian perlahan diubah melalui pendampingan dan keterlibatan masyarakat. Menariknya, penggerak kegiatan di Sungai Baru justru banyak datang dari kalangan anak muda.
“Motornya adalah anak muda,” kata Fika.
Dapur Kecil, Tempat Orang Tua Belajar
PGD di Sungai Baru dimulai pada 16 April 2026. Kegiatan kelas makan berlangsung selama 12 hari, kemudian dilanjutkan dengan kelas edukasi selama 11 minggu.
Pada awalnya terdapat 10 anak batita dan satu ibu hamil yang mengikuti kelas makan. Dalam perkembangannya, peserta anak bertambah menjadi 14 orang.
Di dalam dapur PGD, edukasi mengenai gizi tidak disampaikan melalui teori semata. Orang tua ikut terlibat dalam proses memasak dan belajar bagaimana mengolah bahan pangan yang mudah ditemukan di sekitar mereka.
Menu yang disiapkan pun dibuat dengan pendekatan yang dekat dengan keseharian warga. Ada bola-bola telur puyuh berbahan kentang, mie goreng pelangi yang dibuat sendiri, bakso lohua, hingga otak-otak ayam ceria.
Daun katuk juga kerap digunakan sebagai bagian dari menu.
“Karena kita di sini daun katuk itu dianggap mungkin tidak ada itunya, cuma kami menekankan bahwa daun katuk ini bagus untuk pertumbuhan dan perkembangan anak,” tutur Relawan PGD, Azkia.
Pendekatan tersebut membuat bahan makanan yang sebelumnya dianggap biasa menjadi lebih menarik bagi anak-anak.
Salah satu contohnya adalah seorang anak yang sebelumnya tidak mau mengkonsumsi protein hewani seperti telur, ayam, dan hati ayam. Setelah mengikuti kegiatan PGD, anak tersebut mulai mau mencoba makanan yang sebelumnya ditolak.
Pemilihan bahan pangan lokal juga bukan tanpa alasan. WVI ingin makanan yang dipelajari di PGD dapat dibuat kembali oleh orang tua setelah mereka pulang ke rumah.
“PGD-nya menggunakan bahan pangan lokal yang ada di desa itu. Jangan dicari yang tidak ada di desa. Kenapa? Karena nanti ketika PGD-nya habis, ibu-ibunya enggak bisa masak, enggak bisa niru,” jelas Fika.
Dengan begitu, dapur PGD bukan hanya menjadi tempat makan bersama, tetapi juga tempat orang tua belajar menerapkan pola makan yang lebih baik.
Setelah kegiatan di dapur, pendampingan berlanjut melalui kunjungan rumah atau visit-edukasi. Di tahap ini, relawan mencoba melihat bagaimana pengetahuan mengenai gizi dan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) diterapkan dalam keseharian keluarga.
Ketika Relawan Menjadi Penghubung Perubahan
Peran relawan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan PGD di Sungai Baru. Mereka bukan hanya membantu memasak, tetapi juga menjadi penghubung antara program dan masyarakat.
Relawan melakukan kunjungan rumah untuk melihat pola makan anak, menanyakan menu yang diberikan, serta memberikan edukasi kepada orang tua mengenai pemberian makanan pendamping ASI.
Pembahasan tidak berhenti pada jenis makanan. Orang tua juga mendapatkan pemahaman mengenai variasi makanan, tekstur hingga frekuensi makan anak.
Pendekatan tersebut dilakukan secara langsung di lingkungan tempat tinggal warga. Relawan berusaha menyampaikan informasi dengan cara yang lebih dekat dan tidak menggurui.
Azkia melihat perubahan pola pikir orang tua sebagai bagian penting dari keberhasilan program.
“Berat badan anak itu berhasil itu bonus lah menurut saya. Tetapi bagaimana kita mengubah cara pandang orang tua terhadap pola asuh anak tersebut,” kata Azkia.
Pandangan tersebut sejalan dengan tujuan utama PGD yang ditekankan WVI.
“PGD adalah perubahan perilaku. Bukan hanya menaikkan berat badan anaknya saja,” ujar Fika.
Karena itu, relawan tidak hanya datang untuk memasak. Mereka juga membangun komunikasi dengan keluarga dan melihat langsung kondisi yang dihadapi orang tua setelah kegiatan PGD berlangsung.
Di sisi lain, masyarakat turut memberikan dukungan. Orang tua ikut melakukan demo masak, sementara anggota keluarga lain membantu menyiapkan menu. Keterlibatan tersebut membuat kegiatan tidak hanya menjadi program yang datang dari luar desa, tetapi mulai menjadi aktivitas bersama.
Bagi Fika, kunci dari proses tersebut adalah menemukan orang-orang yang mau bergerak.
“Yang penting adalah ketemu penggeraknya yang benar, ketemu relawannya yang benar, yang mau belajar,” katanya.
Bukan Sekadar Berat Badan, tetapi Kebiasaan
Pencegahan stunting sering kali dikaitkan dengan angka pertumbuhan dan kondisi berat badan anak. Namun, pengalaman di Sungai Baru menunjukkan bahwa perubahan juga berlangsung di balik angka-angka tersebut.
Orang tua mulai belajar bahwa makanan bergizi dapat dibuat dari bahan yang tersedia di sekitar mereka. Mereka juga mendapatkan pemahaman mengenai variasi makanan, tekstur dan frekuensi pemberian makanan kepada anak.
Keterlibatan keluarga menjadi penting karena kebiasaan tersebut harus terus berjalan setelah kelas makan dan edukasi selesai.
Itulah mengapa penggunaan bahan pangan lokal menjadi salah satu prinsip dalam PGD. Makanan yang dipelajari selama kegiatan harus memungkinkan untuk dibuat kembali di rumah.
Perubahan perilaku juga menjadi alasan mengapa kegiatan tidak berhenti setelah 12 hari kelas makan. Edukasi dilanjutkan selama 11 minggu agar orang tua memiliki waktu untuk memahami, mencoba, dan menerapkan pengetahuan tersebut.
Di Sungai Baru, gotong royong juga menjadi bagian dari proses itu. Relawan, orang tua, kader posyandu, pemerintah desa dan masyarakat memiliki peran masing-masing.
Dari dapur sederhana tersebut, perubahan perlahan bergerak keluar. Anak mencoba makanan baru, orang tua belajar mengolah pangan lokal, dan relawan membawa kembali pengetahuan tersebut melalui kunjungan ke rumah-rumah warga.
Ketika Angka Bukan Satu-satunya Cerita
Pada akhirnya, Pos Gizi DASHAT di Sungai Baru bukan hanya cerita tentang makanan yang dimasak dan kemudian disantap anak-anak. Ia adalah cerita tentang orang tua yang belajar melihat gizi dengan cara berbeda, relawan yang bersedia datang dari rumah ke rumah, serta anak muda yang mengambil peran dalam menggerakkan masyarakat.
Bagi Fika, keberadaan penggerak dan relawan menjadi bagian penting agar perubahan dapat terus berjalan.
“Yang penting adalah ketemu penggeraknya yang benar, ketemu relawannya yang benar, yang mau belajar,” katanya.
Sementara bagi Azkia, keberhasilan tidak semata-mata dilihat dari angka di timbangan.
Di Sungai Baru, dapur kemudian menjadi lebih dari sekadar tempat memasak. Ia menjadi ruang belajar, tempat orang tua mencoba kebiasaan baru, dan tempat relawan membangun komunikasi dengan keluarga.
Sebab, mencegah stunting tidak hanya soal apa yang tersaji di atas piring. Di balik setiap porsi makanan, ada pengetahuan yang sedang dibangun, kebiasaan yang sedang diubah, dan harapan agar anak-anak tumbuh dengan bekal yang lebih baik untuk masa depan.

