stasiun bogorsukabumi bisa menjadi pintu masuk wisata - News | Good News From Indonesia 2026

Stasiun KA di Jalur Bogor–Sukabumi Bisa Jadi Pintu Masuk Wisata, Berminat Mampir?

Stasiun KA di Jalur Bogor–Sukabumi Bisa Jadi Pintu Masuk Wisata, Berminat Mampir?
images info

Situ Gunung


Selain dari segi jarak tempuh, jika jalur Bogor–Sukabumi kelak semakin terintegrasi dengan layanan KRL atau elektrifikasi, ada peluang lain yang tentu tidak kalah menarik, utamanya dari sektor pariwisata.

Stasiun-stasiun di sepanjang jalur Bogor–Sukabumi bisa berkembang menjadi pintu masuk menuju destinasi wisata. Sebab, Sukabumi punya satu modal yang cukup besar untuk menarik wisatawan, yakni keindahan alam.

Situ Gunung bisa menjadi contoh paling jelas mengenai bagaimana stasiun dapat berfungsi sebagai pintu masuk wisata.

Kawasan wisata yang berada di Kabupaten Sukabumi ini memiliki jembatan gantung, hutan, air terjun, hingga wahana Keranjang Sultan. Nama terakhir bahkan sempat menarik perhatian aktor Hollywood Will Smith pada 2024. Ia membagikan ulang video Keranjang Sultan di akun Instagram-nya dan menulis, “Where is this?” Unggahan tersebut kemudian membuat wahana di Situ Gunung semakin ramai diperbincangkan.

Beberapa hari setelah unggahan tersebut, ratusan wisatawan terlihat mengantre di kawasan Situ Gunung, termasuk untuk mencoba Keranjang Sultan. Artinya, Sukabumi sebenarnya sudah mempunyai destinasi yang mampu menarik perhatian wisatawan di luar daerah, bahkan sampai mendapat sorotan figur internasional.

Yang masih bisa diperkuat adalah cara wisatawan menuju ke sana. Jika koneksi Stasiun Cisaat–Situ Gunung dibuat lebih mudah, kawasan ini berpotensi menjadi salah satu contoh paling menarik dari konsep rail tourism di Sukabumi.

Wisata Sepanjang Jalur Bogor–Sukabumi

Kawan, tidak hanya tujuan akhir stasiun Sukabumi yang punya wisata ciamik. Sebelum masuk Kabupaten Sukabumi, kawasan sekitar stasiun Cigombong di Kabupaten Bogor juga layak masuk daftar destinasi wisata. Salah satunya Danau Lido di Watesjaya. Ada pula Kampung Wisata Ciwaluh serta sejumlah curug di kawasan Bogor Selatan.

Memasuki Sukabumi, Cicurug punya karakter yang berbeda. Dari kawasan ini, wisatawan dapat meneruskan perjalanan menuju Cidahu dan sejumlah kawasan wisata alam di sekitarnya. Ada pula Tangga Seribu serta berbagai lokasi camping dan wisata berbasis alam. Kawasan Cidahu sendiri menawarkan jalur menuju sejumlah curug dan kawasan perbukitan.

Tidak semua wisata harus memiliki objek ikonik seperti Situ Gunung. Ada pula wisata yang justru menarik karena suasananya: camping, perkebunan, curug, jalur trekking, hingga desa wisata. Cicurug bisa menjadi salah satu titik untuk menghubungkan wisatawan kereta dengan jenis wisata tersebut.

Hal serupa berlaku di Parungkuda. Kawasan ini memang belum memiliki nama sebesar Situ Gunung. Namun, letaknya strategis untuk menuju sejumlah destinasi alam di kawasan Ciambar dan sekitarnya. Justru karena belum terlalu populer, Parungkuda bisa menjadi pilihan menarik jika pengembangan transportasi wisata dilakukan secara serius.

Cibadak Bisa Menawarkan Paket yang Berbeda

Cibadak memiliki peluang lain. Kawasan ini tidak hanya menawarkan wisata alam, tetapi juga wisata religi dan rekreasi. Ada Bukit Panenjoan, Sparks Forest Adventure, hingga Gua Maria Sumber Kahuripan. Kombinasi tersebut membuat Cibadak berpotensi menjadi titik pemberhentian dengan pilihan wisata yang lebih beragam.

Lanjut ke stasiun Sukabumi. Stasiun ini punya keuntungan yang tidak dimiliki beberapa stasiun lain, yakni wisata kota berada relatif dekat dengan pusat perjalanan. Wisatawan tidak harus langsung mencari kendaraan untuk pergi jauh ke pegunungan. Mereka bisa berjalan atau menggunakan transportasi lokal menuju kawasan pusat kota. Ada Alun-Alun Sukabumi, Lapang Merdeka, museum, hingga kawasan bersejarah.

Salah satu yang menarik adalah Museum Tionghoa Soekaboemi yang berada tidak jauh dari stasiun. Jika perjalanan wisata tidak berhenti di pusat kota, wisatawan juga dapat meneruskan perjalanan menuju kawasan Goalpara.

Goalpara Tea Park berada di kawasan perkebunan teh Sukabumi dan menawarkan pengalaman yang berbeda dari wisata Situ Gunung. Ada hamparan perkebunan, wahana rekreasi, hingga berbagai aktivitas untuk pengunjung. Akses dari Stasiun Sukabumi masih membutuhkan perjalanan lanjutan menggunakan kendaraan.

Jika nantinya ada angkutan wisata yang menghubungkan stasiun dengan destinasi-destinasi unggulan, perjalanan menggunakan kereta tidak harus berakhir di Stasiun Sukabumi.

Stasiun bisa menjadi hub kecil pariwisata. Dari satu titik, wisatawan bisa memilih beberapa tujuan: pusat kota, Situ Gunung, Goalpara, perkebunan teh, hingga berbagai destinasi alam di Kabupaten Sukabumi.

Kabupaten Sukabumi sebenarnya memiliki modal wisata yang terbilang lengkap, mulai dari gunung, rimba, laut, pantai hingga sungai yang terangkum dalam konsep Gurilaps. Meski demikian, Wakil Bupati Sukabumi H. Andreas menilai kekayaan alam tersebut perlu diimbangi dengan pengelolaan yang baik agar benar-benar mampu menjadi daya tarik wisata.

Menurutnya, pembangunan destinasi tidak harus identik dengan hotel bertingkat atau bangunan megah, tetapi justru perlu mengutamakan kebersihan, kenyamanan, identitas budaya, serta kelestarian lingkungan. Bangunan juga sebaiknya disesuaikan dengan karakter kawasan dan tidak mengorbankan pepohonan maupun lanskap alam.

Dengan begitu, kemudahan akses yang nantinya semakin terbuka menuju Sukabumi dapat diikuti dengan kualitas destinasi yang membuat wisatawan tidak sekadar datang, tetapi juga mendapatkan pengalaman yang khas.

Potensi Pengembangan Perumahan di Pinggiran Jakarta

Rencana elektrifikasi jalur Bogor–Sukabumi juga membuka peluang lain di luar sektor pariwisata, yakni tumbuhnya kawasan permukiman di Sukabumi. Jika perjalanan menuju Bogor dan kawasan Jabodetabek menjadi semakin mudah, Sukabumi berpotensi semakin menarik sebagai tempat tinggal, terutama bagi masyarakat yang ingin mendapatkan lingkungan hunian dengan biaya dan kepadatan yang berbeda dari kawasan Bogor dan sekitarnya.

Kehadiran kereta juga memungkinkan konsep hunian yang lebih terhubung dengan transportasi publik, terutama jika pembangunan perumahan diarahkan di sekitar stasiun dan dilengkapi akses menuju pusat ekonomi, pendidikan, maupun layanan publik.

Namun, peluang tersebut datang bersamaan dengan tantangan tata ruang. Kabupaten Sukabumi telah kehilangan sekitar 350 hektare sawah akibat alih fungsi sepanjang 2025, sementara dari sekitar 62.000 hektare Lahan Baku Sawah, baru sekitar 14.000 hektare yang masuk dalam skema LP2B. Karena itu, pertumbuhan permukiman akibat kemudahan akses kereta bukan berarti harus dihentikan, melainkan perlu diarahkan ke kawasan yang memang disiapkan untuk berkembang.

Dengan perencanaan yang tepat, elektrifikasi justru dapat mendorong pertumbuhan hunian sekaligus mengurangi pembangunan yang menyebar secara tidak terkendali ke lahan pertanian produktif.

 

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.