Jalur Kereta Api Bogor - Sukabumi bisa dibilang unik. Jalur dengan pemandangan alam ciamik ini memiliki dinamika perjalanan yang penuh pasang surut dua dekade belakangan. Lintasan sepanjang 57 kilometer ini ternyata pernah mengalami mati suri beberapa kali sebelum akhirnya diaktifkan kembali.
Jika di masa lalu jalur ini dianggap sangat vital karena dipakai untuk mengangkut sumber daya alam, tahun 2006 jalur Bogor - Sukabumi justru tidak dioperasikan karena okupansinya yang minim. Tak hanya itu, usia prasarana yang sudah uzur turut menjadi salah satu alasan di balik ditutupnya jalur itu. Selama "vakum", jalur ini mengalami perbaikan. Kemudian, barulah di tahun 2008, muncul Kereta Api Bumi Geulis yang dioperasikan untuk mendukung pariwisata Bogor-Sukabumi sekaligus mendukung mobilisasi masyarakat setempat.
Sayangnya, pada 15 Desember 2012, KA Bumi Geulis berhenti beroperasi. Penyebab utamanya adalah kerusakan parah pada rangkaian yang menjadi andalan operasional saat itu. Walhasil, jalur ini ditutup lagi. Tak ada kereta yang melayani, sehingga memaksa masyarakat beralih ke moda transportasi lain.
Akan tetapi, jalur ini tak dibiarkan "menganggur". Pemerintah memperbaiki jalur tersebut, termasuk perubahan rel kereta api. Jika awalnya rel di jalur itu masih menggunakan tipe R33, pemerintah mengubahnya menjadi tipe R54. Perubahan ini membuat lokomotif berat seperti CC 206 bisa melintasi jalur tersebut.
Kemudian, pada 9 November 2013, PT KAI akhirnya meluncurkan KA Pangrango sebagai armada pengganti. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama sang istri, Ani Yudhoyono, bahkan ikut menjajal langsung rute reaktivasi ini pada awal tahun 2014. Ia menikmati perjalanan sembari memastikan kenyamanan fasilitas kereta baru yang sudah dilengkapi pendingin udara (AC) di semua kelas itu.

Sejak saat itu, peningkatan fasilitas terus dilakukan demi memanjakan para penumpang. Pada tahun 2019, PT KAI mendatangkan Lokomotif CC300 Diesel Hidrolik buatan PT INKA yang jauh lebih andal untuk melintasi medan pegunungan Jawa Barat yang menanjak dan berkelok. Lokomotif ini juga dirancang lebih kuat menerjang banjir hingga batas toleransi ketinggian air 25 sentimeter.
Langkah pembenahan ini sempat terhambat saat pandemi melanda. Pada 1 April 2020, perjalanan KA Pangrango terpaksa dihentikan sementara guna menekan potensi penyebaran virus Covid-19 seiring merosotnya okupansi hingga 70 persen. Penghentian operasional ini akhirnya berlangsung cukup lama karena adanya pengerjaan proyek jalur ganda (double track).
Pemerintah mengoptimalkan masa "vakum" itu untuk menyelesaikan pembangunan jalur ganda pada segmen Bogor Paledang hingga Cicurug. Setelah dinonaktifkan selama dua tahun, KA Pangrango akhirnya resmi kembali meluncur pada 10 April 2022. Kehadiran jalur ganda terbukti memangkas waktu tempuh perjalanan secara signifikan dari yang semula 2 jam menjadi sekitar 1,5 jam saja.
Pembenahan interior kereta juga mengalami revolusi besar-besaran. Sejak 1 Juli 2025, armada KA Pangrango mulai menggunakan kereta kelas ekonomiย new generation hasil modifikasi Balai Yasa Manggarai. Kursi ekonominya kini mengusung formasi 2-2 yang jauh lebih ergonomis karena sudah bisa direbahkan (reclining) serta diputar searah laju kereta.
Berdasarkan Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) 2025, frekuensi perjalanannya kini dilayani sebanyak 8 kali sehari. Untuk tarif terjauh, tiket dibanderol Rp45.000 hingga Rp55.000 untuk kelas ekonomi dan Rp80.000 untuk kelas eksekutif. Dengan stasiun yang makin tertata rapi, perjalanan Bogor-Sukabumi kini kembali menjadi pilihan utama yang aman, cepat, dan menyenangkan.
- ย


