Rencana memperluas jaringan kereta listrik dari kawasan Jabodetabek ke wilayah penyangga kembali menemukan momentumnya. Kali ini, arah pengembangan mengarah ke selatan, menuju Bogor hingga Sukabumi.
Bagi masyarakat yang selama ini bergantung pada kereta api, rencana tersebut bukan sekadar perubahan jenis kereta. Elektrifikasi berarti membuka kemungkinan hadirnya layanan dengan kapasitas lebih besar, perjalanan lebih sering, serta konektivitas yang semakin terintegrasi dengan jaringan KRL Jabodetabek.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) sebelumnya mengungkapkan bahwa elektrifikasi jalur Bogor-Sukabumi sedang disiapkan sebagai bagian dari pengembangan jaringan commuter line. Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan, perluasan tersebut merupakan bagian dari visi jangka panjang pengembangan KRL Jabodetabek.
Rencana itu muncul di tengah pertumbuhan mobilitas masyarakat yang terus meningkat. Di lintas Bogor, jumlah pengguna KRL tercatat mencapai 155.009.997 pelanggan sepanjang 2025. Sementara pada Januari hingga Maret 2026, jumlah pengguna sudah mencapai 38.203.481 pelanggan.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan transportasi berbasis rel tidak lagi hanya terkonsentrasi di pusat Jakarta. Kawasan penyangga semakin berkembang menjadi pusat aktivitas baru, termasuk Bogor dan Sukabumi.
Dari Bogor ke Lido Cigombong, Lalu Sukabumi
Langkah menuju elektrifikasi tersebut mulai terlihat dari rencana aktivasi layanan kereta antara Bogor dan Lido Cigombong. Pada 20 Agustus 2026, KAI bertemu Pemerintah Kota Bogor untuk membahas pengembangan fasilitas dan layanan perkeretaapian. Salah satu agenda yang mencuat adalah rencana aktivasi relasi Bogor-Lido Cigombong sekaligus revitalisasi Stasiun Bogor.
Bobby mengatakan, pengembangan tersebut tidak hanya menyangkut perjalanan kereta, tetapi juga bagaimana stasiun menjadi bagian penting dari wajah kota.
“Sehingga nanti diharapkan Stasiun Bogor ini lebih nyaman dan tentunya akan menjadi ikonik dari Bogor untuk masa depan,” katanya.
Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim juga menyebut aktivasi jalur tersebut sebagai salah satu pembahasan utama dalam pertemuan dengan KAI.
“Alhamdulillah PT KAI sudah hadir ke Bogor. Tadi sudah disampaikan bahwa pembahasannya meliputi beberapa poin. Yang pertama dan paling utama adalah penataan kawasan Stasiun Bogor, Alun-alun, dan rencana aktivasi dari Bogor ke Lido Cigombong,” ujar Dedie Rachim.
Dari Lido Cigombong, perhatian kemudian mengarah pada pertanyaan yang lebih besar: kapan elektrifikasi benar-benar bisa membawa KRL menuju Sukabumi?
KAI sebelumnya menyatakan bahwa elektrifikasi Bogor-Sukabumi menjadi bagian dari rencana perluasan jaringan KRL. Jika terealisasi, masyarakat Sukabumi akan memiliki akses langsung menuju jaringan transportasi massal Jabodetabek.
Namun, proyek tersebut tentu membutuhkan infrastruktur pendukung. KAI menyiapkan kebutuhan seperti depo, perpanjangan peron, jalur stabling, hingga penambahan sarana kereta. Artinya, elektrifikasi bukan hanya memasang jaringan listrik di sepanjang rel, tetapi membutuhkan kesiapan sistem secara menyeluruh.
Apakah Bisa Tembus Cipatat hingga Padalarang?
Jika Bogor-Sukabumi nantinya terealisasi, muncul peluang pembicaraan yang lebih panjang mengenai masa depan jalur selatan Jawa Barat. Salah satunya adalah kemungkinan menghidupkan kembali konektivitas menuju wilayah seperti Cipatat dan Padalarang melalui jalur yang pernah menjadi bagian penting perjalanan kereta di kawasan tersebut.
Namun, perluasan hingga Cipatat atau Padalarang tidak secara otomatis menjadi bagian dari proyek elektrifikasi Bogor-Sukabumi yang saat ini disampaikan KAI. Pengembangan tersebut akan membutuhkan kajian tersendiri, terutama terkait kondisi prasarana, kebutuhan investasi, keselamatan, serta kelayakan operasional.
Meski begitu, arah kebijakan KAI menunjukkan bahwa elektrifikasi tidak lagi dipandang sebatas proyek di dalam Jabodetabek. Kepala Badan Pengelola BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria bahkan meminta progres elektrifikasi Jakarta-Cikampek, Jakarta-Sukabumi, dan Jakarta-Merak dipantau secara serius.
“Monitor di antaranya program kita elektrifikasi Jakarta-Cikampek, Jakarta-Sukabumi, Jakarta-Merak. Ini sudah harus dilakukan monitor progresnya sampai mana,” tegas Dony.
Bagi KAI, pengembangan ini juga berkaitan dengan target meningkatkan kapasitas angkutan KRL Jabodetabek hingga sekitar 2 juta penumpang per hari pada 2030. Pada akhirnya, perjalanan menuju KRL Sukabumi bukan hanya soal kereta listrik yang melintas lebih jauh. Ini adalah upaya membentuk konektivitas baru antara pusat kota, kawasan hunian, dan pusat ekonomi.
Jika Bogor-Lido Cigombong menjadi langkah awal, maka elektrifikasi hingga Sukabumi bisa menjadi bab berikutnya. Dan apabila suatu hari konektivitas tersebut kembali diperpanjang menuju Cipatat hingga Padalarang, jalur selatan Jawa Barat berpotensi kembali memainkan peran besar dalam peta transportasi regional.

