tol bocimi jalur penghubung bogor sukabumi yang menyimpan drama panjang - News | Good News From Indonesia 2026

Tol Bocimi, Jalur Penghubung Bogor-Sukabumi yang Menyimpan Drama Panjang

Tol Bocimi, Jalur Penghubung Bogor-Sukabumi yang Menyimpan Drama Panjang
images info

Tol Bocimi | Kementerian PU


Melancong dari Bogor ke Sukabumi atau sebaliknya, moda transportasi darat yang tersedia tidak hanya kereta api. Kedua daerah terbilang sangat mudah diakses menggunakan mobil atau bahkan sepeda motor berhubung akses jalan yang tersedia juga terbilang memadai.

Salah satu rute yang bisa dipakai ialah melalui Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi alias Bocimi. Bisa dibilang, inilah game changer bagi orang-orang yang kerap bepergian antara Bogor dan Sukabumi. Dengan adanya tol ini, waktu perjalanan dapat dipangkas secara signifikan dan semakin banyak penumpang maupun barang yang bisa diangkut. Mulai dari mobil kecil, minibus, hingga bus antarkota antarprovinsi (AKAP) dan truk kontainer, semua bisa meluncur dengan mulus.

Bayangkan saja, sebelum adanya Tol Bocimi, perjalanan Bogor-Sukabumi biasanya memakan waktu lima jam. Bahkan saat jalanan sedang macet-macetnya, durasi tersebut dapat molor hingga tujuh jam. Selain waktu yang dipangkas, akses ke kota lain seperti Jakarta dan berbagai daerah di Pantura Pulau Jawa pun jadi semakin mudah.

Tol Bocimi resmi beroperasi pada 1 Desember 2018. Saat itu, seksi pertama tol tersebut yang membentang dari Ciawi hingga Cigombong yang berada di perbatasan antara Bogor dan Sukabumi diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. Dalam acara peresmian yang dilakukan di Gerbang Tol Cigombong 1 itu, Jokowi menyampaikan harapannya agar Tol Bocimi membawa manfaat untuk masyarakat.

“Kita harapkan bisa berkembang ekonomi yang ada di Sukabumi, terutama sisi pariwisata yang kita lihat, saya kira memiliki kekuatan yang besar Kabupaten Sukabumi, siap berkembang dengan baik,” kata Jokowi saat itu.

Peresmian Seksi 1 Tol Bocimi oleh Jokowi sekaligus mengakhiri drama panjang yang menyertai proses pembangunannya. Alkisah, pembangunan Tol Bocimi sebenarnya sudah dicanangkan sejak tahun 1997. Nahasnya, berbagai masalah datang melanda, mulai dari hantaman krisis ekonomi, pembebasan lahan yang berjalan alot, hingga investor yang sering berganti membuat semua jadi ruwet. Jadilah, pada 2015 pemerintah turun tangan untuk mengambil alih pembangunan.

Melalui negosiasi yang juga penuh tarik ulur, pemerintah akhirnya bisa benar-benar memegang kendali pembangunan Tol Bocimi. Pada awal 2016, proses pembangunan dan pembebasan lahan yang terhenti selama 21 tahun bisa dilanjutkan kembali.

Tol Bocimi

Setelah Seksi I sepanjang 15,3 km rampung, pembangunan Tol Bocimi dilanjutkan ke Seksi II yang menghubungkan Cigombong dengan Cibadak sepanjang 11,9 km. Seksi ini mulai dibangun pada Januari 2019 dan diresmikan pada 4 Agustus 2023. Kemudian untuk Seksi III yang membentang di antara Cibadak dan Sukabumi Barat dengan panjang 13,7 km pembangunannya masih berlangsung dan ditargetkan rampung pada kuartal kedua tahun 2027. Sementara itu, Seksi IV yang menyambungkan Sukabumi Barat-Sukabumi Timur dengan panjang 13 km masih berada di tahap persiapan konstruksi serta pembebasan lahan.

Di balik cepat dan efisiennya perjalanan antara Bogor dan Sukabumi di Tol Bocimi, ada pula cerita kurang mengenakkan yang tersimpan. Boleh jadi banyak pihak yang terbantu dengan keberadaan tol ini, baik masyarakat umum maupun industri yang memang banyak berada di Sukabumi. Akan tetapi, terdapat pula sebagian yang justru merasakan efek negatif.

Saat masa pembangunan misalnya, polusi yang dihasilkan kendaraan proyek membuat warga terganggu. Ini sebagaimana pernah tertuang dalam laporan Liputan6.com yang tayangkan pada 6 Mei 2026. Dalam laporan tersebut, terungkap bahwa proyek Tol Bocimi Seksi 3 di wilayah Desa Karangtengah, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, menghasilkan debu yang sampai masuk ke rumah-rumah warga.

Akibat debu, rumah warga kotor. Tempat-tempat usaha pun harus bekerja keras melindungi barang dagangannya, terutama yang berjualan makanan. Untungnya, pihak desa dan pengelola menemukan jalan keluarnya: truk harus disemprot dan muatannya ditutup terpal untuk meminimalisir debu yang beterbangan, lalu jam operasionalnya juga dibatasi.

Tak hanya pada tahap konstruksi, saat pembangunan rampung pun Tol Bocimi berpotensi menimbulkan sejumlah dampak negatif. Ini sebagaimana diuraikan Ina Revayanti dari Fakultas Teknik Universitas Winaya Mukti dalam kajiannya yang dipublikasikan di jurnal Geoplanart pada 2019. Dampak-dampak tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari fisik, sosial, hingga ekonomi.

Secara fisik, adanya jalan tol mengakibatkan menurunnya aksesibilitas antarwilayah permukiman. Lalu dari aspek sosial, hal itu membuat ikatan kekeluargaan di antara masyarakat ikut mengendur, ditambah berpotensi masuknya banyak pendatang yang kemudian mengubah struktur dan sistem sosial yang sudah lama terbentuk.

Sementara itu secara ekonomi, tol membuat warga harus menempuh jarak lebih jauh untuk mencapai pusat ekonomi. Para petani juga terancam kesulitan untuk mencari penghidupan lantaran lahannya sudah dibebaskan untuk pembangunan, sementara beralih profesi pun belum tentu mampu dilakukan. Di tengah kondisi seperti itu, masyarakat lokal bisa saja justru tergoda untuk hidup konsumtif setelah mendapat banyak uang dari pembebasan lahan.

Dengan segala persoalan yang ada, kajian yang sama juga menawarkan solusi untuk meminimalisir dampak negatif dari pembangunan Tol Bocimi. Misalnya saja, perlu diadakan penyuluhan, pelatihan, dan pembinaan dalam hal sistem ganti untung, kewirausahaan, juga peningkatan sumber daya manusia. Pemerintah juga perlu memfasilitasi masyarakat yang ingin beralih profesi dari petani menjadi wirausahawan, misalnya pengrajin cenderamata.

 

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aulli Atmam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aulli Atmam.

AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.