“Perkenalkan, saya Isa Al-Masih. Tenang, tenang, tenang, ada lanjutannya Pak Rektor, Putra Muhammadiyah,” kata Isa yang disambut gelak tawa dan tepuk tangan riuh.
Isa memperkenalkan dirinya di hadapan para wisudawan dan tamu undangan dalam Wisuda ke-123 UMM di Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (24/9/2026).
Ya, nama aslinya Isa Almasih Putra Muhammadiyah. Memang unik sehingga sejak awal kuliah, namanya kerap jadi bahan pertanyaan.
Saat mengikuti P2KK (semacam orientasi mahasiswa baru khas UMM), pada masa awal perkuliahan, sampai saat aktif di organisasi kampus, berulang kali Isa harus meyakinkan orang bahwa nama itu benar-benar tertulis di KTP-nya.
Ayah Isa, Fatah Al Basid, mengatakan dirinya memang sengaja memberikan nama Isa Al-Masih kepada anaknya.
“Saya yang memberi nama Isa Al Masih. Nama nabi yang sebenarnya jarang atau tidak pernah dijadikan nama anak oleh umat Muslim,” ujar Basid, sebagaimana dikutip dari detikJatim.
Lantas, mengapa ada Putra Muhammadiyah? Basid menambahkan, nama Isa Al-Masih beberapa kali membuat orang mengira anaknya bukan seorang Muslim. Pengalaman itu terjadi ketika Isa masih duduk di bangku sekolah dasar.
Saat harus dirujuk ke rumah sakit dan menjalani rawat inap, Isa disebut sampai tiga kali dikira sebagai nonmuslim.
“Jadi namanya sering dikira orang nonmuslim. Makanya di belakang saya tambahkan Putra Muhammadiyah jadi jelas,” ujar Basid.
Basid sendiri merupakan warga Muhammadiyah.
Nah, yang menarik, ini bukan pertama kali UMM meluluskan mahasiswa dengan nama unik. Kampus yang akrab disebut "Kampus Putih" ini sebelumnya juga pernah meluluskan mahasiswa bernama Imam Mahdi.
Bagi Isa, kebetulan semacam ini jadi bagian dari cerita unik yang mewarnai kehidupan akademiknya di UMM.
Masuk PAI Tanpa Latar Pesantren
Kawan, Isa merupakan lulusan Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UMM. Empat tahun lalu, ia mengaku datang ke UMM dengan perasaan bangga sekaligus pesimis.
Ia bangga karena bisa kuliah di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah. Akan tetapi, di sisi lain, ia sempat minder dengan prodi yang dipilih. Sebab, ia tidak memiliki latar belakang pendidikan pesantren.
Dengan tidak membawa bekal ilmu agama yang cukup dari pesantren, Isa merasa dirinya harus mengejar banyak hal agar bisa mengikuti lingkungan akademiknya.
Akan tetapi, pandangan itu perlahan berubah setelah Isa berinteraksi dengan dosen, senior, dan teman-temannya. Ruang kelas memang menjadi tempat utama untuk belajar. Namun, pengalaman organisasi dan obrolan sehari-hari ternyata ikut membentuk cara pandangnya.
“Dari ruang kelas, organisasi, dan obrolan-obrolan sederhana itulah, perlahan saya mulai memahami bahwa kuliah bukan hanya tentang mendapatkan gelar, tetapi tentang bagaimana cara kita memandang ilmu, bekerja, dan memberi manfaat,” tuturnya.
Dari pengalaman tersebut, Isa kemudian membawa gagasan tentang ilmu dan kebermanfaatan ke dalam penelitian tugas akhirnya.
Meneliti Nilai Al-'Ashr di Lingkungan UMM
Isa menamatkan statusnya sebagai mahasiswa dengan menuntaskan tugas akhir berjudul “Teologi al-‘Ashr sebagai Basis Budaya Organisasi di Universitas Muhammadiyah Malang”.
Al-‘Ashr yang dimaksud Isa adalah Surah Al-‘Ashr dalam Al-Qur’an, yaitu surah ke-103 yang hanya terdiri dari tiga ayat. Surah ini dinilai penting karena dikaitkan dengan etos menggunakan waktu, keimanan, amal, dan kebermanfaatan.
Dalam penelitian tersebut, ia menemukan bahwa nilai-nilai al-'Ashr tidak hanya dipelajari melalui materi perkuliahan. Nilai tersebut juga tercermin dalam kehidupan kampus. Salah satu yang ia soroti adalah nilai IIIMAN.
IIIMAN merupakan kependekan dari Ikhlas, Ihsan, Itqan, Ma’iyyah, Amanah, dan Nazahah.
Nilai-nilai tersebut berkaitan dengan bagaimana seseorang bekerja dengan tulus, menjaga kualitas, membangun kebersamaan, memegang tanggung jawab, serta mempertahankan integritas.
Bagi Isa, nilai tersebut menjadi bagian dari prosesnya memahami kehidupan akademik dan organisasi.
“Di sini saya belajar bahwa iman harus melahirkan amal, ilmu harus melahirkan kebermanfaatan, dan keduanya harus dijaga oleh etika,” katanya.
Pemahaman tersebut kemudian membawa Isa pada satu kesimpulan lain. Belajar di perguruan tinggi tidak cukup hanya dengan mengumpulkan nilai dan menyelesaikan tugas.
Makanya, Isa tidak hanya kuliah, tapi juga berorganisasi dan aktif dalam kegiatan masyarakat. Salah satu buktinya, pada Maret 2026, ia menjadi khatib Salat Idulfitri di Nganjuk, Jawa Timur.
Wisuda memang menandai selesainya masa kuliah. Namun, ilmu yang diperoleh selama berada di kampus justru baru akan terlihat manfaatnya ketika digunakan di luar kampus.
“Ijazah adalah tanda bahwa kita pernah belajar; tetapi kebermanfaatan adalah bukti bahwa kita benar-benar telah belajar,” pungkasnya.


