Usia 63 tahun tidak membuat Jumari memilih rute gowes yang aman-aman saja.
Sabtu, 19 September 2026, anggota komunitas Gowesmu Turi itu mengayuh sepeda seorang diri dari Turi, Sleman, menuju kawasan Kelok 23 di jalur Kretek-Girijati.
Jaraknya bukan hanya belasan atau puluhan kilometer. Jika dihitung pulang-pergi, rute tersebut mencapai sekitar 130 kilometer. Sebab, ia sempat nyasar sehingga jarak yang ditempuh lebih jauh dari seharusnya.
Jumari berangkat dari rumah sekitar pukul 06.00 WIB. Empat jam kemudian, tepatnya pada 10.00 WIB, ia akhirnya tiba di kawasan Kelok 23.
Gowes Sendirian, Melewati Tanjakan dan Turunan
Kawan, Jumari sengaja gowes dengan menempuh jarak dari ujung utara menuju selatan Jogja untuk menguji daya tahan tubuhnya. Ia juga ingin merasakan suasana jalan yang baru dibuka, yakni Kelok 23.
Sebagai informasi, rute dari Turi menuju Kelok 23 bukan jalur datar yang bisa dilalui sambil santai.
Sebagaimana namanya, Gunungkidul merupakan kawasan yang terdiri dari perbukitan. Oleh karena itu, untuk mencapai Kelok 23, Jumari harus melewati kawasan perbukitan sehingga ia dihadapkan tanjakan dan turunan.
Kondisi jalan seperti ini tentu membuat perjalanan dengan sepeda membutuhkan tenaga sekaligus konsentrasi lebih.
Bahkan, Jumari sempat salah mengambil arah. Akibatnya, jarak yang ditempuh menjadi lebih panjang dari rencana. Karena nanggung, ketimbang berhenti, Jumari tetap lanjut dan mencari kembali jalur yang benar sampai akhirnya tiba di titik tujuan.
Sebab, bagi Jumari, perjalanan tersebut memang bukan perkara berapa kilometer yang berhasil ditaklukkan. Menurutnya, mengayuh sepeda sambil menikmati perjalanan lebih berarti daripada hanya sekadar mencapai tujuan.
βPerjalanan ini bukan hanya soal sampai tujuan, tetapi juga bagaimana menikmati proses selama perjalanan,β kata Jumari, sebagaimana dikutip dari mediacenter.slemankab.go.id.
Kelok 23 Sedang Diuji Coba
Kawan, Jumari tiba di Kelok 23 sekitar pukul 10.00 WIB ketika kawasan tersebut sedang ramai.
Pada 14-20 September 2026, Jalan Baru Kretek-Girijati memang tengah menjalani masa uji coba pembukaan lalu lintas atau open traffic.
Nama Kelok 23 muncul karena karakter jalannya. Ruas ini memiliki 23 tikungan yang mengikuti kontur perbukitan di kawasan selatan Yogyakarta.
Jalan tersebut membentang sekitar lima kilometer dan menghubungkan wilayah Kabupaten Bantul dengan Kabupaten Gunungkidul.
Pembangunannya berada di bawah Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah-DIY.
Ruas ini merupakan bagian dari pengembangan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS), yang juga dikenal sebagai jalur Pantai Selatan (Pansela) DIY.
Buat Apa Kelok 23 Dibuka?
Kawan, Kelok 23 dibangun untuk membuka akses dan memperkuat konektivitas
Ruas ini menjadi bagian dari Jalur Pantai Selatan (Pansela) DIY yang juga diarahkan untuk membuka akses menuju kawasan wisata dan sentra ekonomi masyarakat.
Kelebihan utama dari jalur ini adalah para pengguna jalan dapat menikmati panorama Pantai Selatan. Pemerintah bahkan menyiapkan tiga gardu pandang di sepanjang Kelok 23 untuk menikmati lanskap dari ketinggian.
Jadi, fungsi Kelok 23 memang bukan semata-mata untuk wisata. Jalan ini dibangun untuk konektivitas, tetapi kontur perbukitan dan pemandangannya membuat perjalanan di sana punya nilai tambah.
Jalur yang melewati kawasan perbukitan selatan ini pun membuka kemungkinan baru untuk aktivitas masyarakat, termasuk perjalanan wisata. Panorama perbukitan menjadi salah satu daya tarik yang ikut muncul ketika akses baru tersebut dibuka.
Hal itu terlihat selama masa open traffic. Masyarakat datang bukan hanya untuk melintas, tetapi juga melihat langsung ruas jalan yang sebelumnya masih berada dalam tahap pembangunan.
Jumari jadi salah satu orang yang ikut penasaran dengan jalan baru ini. Bedanya, ia tidak memilih motor atau mobil. Ia datang dengan sepeda, mengayuh dari Turi, Sleman.


