Baru berusia 20 tahun, Nisrina Andini Alifah sudah menyelesaikan statusnya sebagai mahasiswa Prodi S1 Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Gigi (FKG).
Disebutkan saat diwisuda Periode III Tahun Akademik 2025/2026 pada Sabtu (19/9/2026) di Gedung Samantha Krida, Alifah lulus mengantongi IPK 3,86. Perempuan ini pun menyandang dua gelar, yakni sebagai wisudawan terbaik sekaligus wisudawan termuda Universitas Brawijaya (UB).
Tak puas dengan prestasi itu, Alifah melanjutkan studinya dengan mengambil Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UB. Dalam Pangkalan Data Pendidikan Tinggi tercatat, Alifah sudah menjadi mahasiswa aktif pendidikan profesi sejak Januari 2026, jauh sebelum ia resmi menjalani wisuda.
Sempat Merasa Tertinggal, Alifah Malah Terpicu
Mendapat gelar sebagai wisudawan terbaik sekaligus wisudawan termuda membuat Alifah kilas balik perjalanannya pada masa awal perkuliahan.
Saat pertama kali menjadi mahasiswa baru, Alifah mengaku sempat minder. Sebab, banyak temannya yang sudah punya pengalaman mengikuti olimpiade sains, sementara ia belum.
Akan tetapi, Alifah tidak larut dalam perasaan kecil itu. Malah ia mengatur ritme belajarnya agar lebih keras sehingga bisa mengejar teman-temannya.
"Kuncinya belajar lebih keras. Saya membuat target sendiri, timelinenya juga sudah saya susun supaya tidak kehilangan arah dan bisa memaksimalkan waktu yang saya punya," katanya, sebagaimana dikutip dari laman resmi Universitas Brawijaya.
Alifah Terbiasa Belajar Lebih Keras dan Cepat
Sebenarnya, belajar lebih keras dengan ritme yang lebih cepat bukan jadi persoalan yang besar bagi Alifah. Ia memang sudah biasa menerapkan strategi manajemen waktu.
Sejak kecil, Alifah menempuh pendidikan lebih cepat dari teman seusianya. Ia masuk sekolah dasar pada usia 5,5 tahun, jauh lebih muda dari rata-rata anak Indonesia yang umumnya masuk SD di usia 6-7 tahun.
Saat SMA, ia juga mengikuti program akselerasi yang memungkinkannya menyelesaikan jenjang pendidikan lebih singkat.
Strategi agar berani memulai lebih awal dan disiplin menyusun target inilah yang akhirnya membawanya lulus kuliah kedokteran gigi di usia 20 tahun, jauh lebih muda dari rata-rata lulusan pendidikan dokter gigi di Indonesia.
Setelah Diteliti, Getah Pohon Pinggir Jalan Ternyata Bisa Menyembuhkan Luka Gusi
Kawan, Alifah lulus dengan menyetorkan tugas akhir yang meneliti pohon angsana atau Pterocarpus indicus.
Pohon ini jamak ditemui di pinggir jalan. Batangnya mengeluarkan cairan kemerahan saat disayat. Makanya, getah pohon angsana memang punya julukan "darah pohon" karena warnanya yang mirip darah manusia.
Getah ini keluar sebagai mekanisme pertahanan alami pohon terhadap serangga dan pembusukan, dan sifatnya anti jamur.
Nah, dari getah "berdarah" inilah Alifah menyusun skripsinya. Ia meneliti efektivitas gel ekstrak getah angsana untuk penyembuhan luka pada gusi.
"Getah angsana memiliki banyak senyawa, salah satunya tanin yang berperan dalam penyembuhan luka. Hasilnya pemberian gel ekstrak getah angsana bisa meningkatkan kepadatan kolagen untuk penyembuhan luka gusi," jelasnya.
Bagi yang belum familiar, tanin adalah senyawa alami tumbuhan yang punya sifat mengikat protein dan membantu menutup jaringan yang terluka. Sementara kolagen adalah protein utama yang membentuk struktur jaringan tubuh, termasuk gusi.
Semakin padat kolagen di area luka, semakin cepat pula proses penyembuhannya. Jadi secara sederhana, riset Alifah menemukan bahwa getah angsana punya potensi mempercepat regenerasi jaringan gusi yang terluka.
Alifah sendiri menyadari betapa pohon ini kurang diperhatikan. Makanya, ia berharap penelitiannya bisa mendorong perhatian lebih besar pada tanaman yang selama ini dianggap biasa saja itu.
"Pohon angsana banyak ditemui di pinggir jalan, tetapi belum banyak yang mempelajari secara detail manfaat kandungannya," ujarnya.
Bukan Cuma Kutu Buku, Alifah Juga Aktif Berorganisasi dan Berwirausaha
Kawan, berstatus sebagai mahasiswa fakultas kedokteran gigi tak membuat Alifah absen dalam kegiatan. Selama kuliah, ia malah aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan mengikuti sejumlah kompetisi nasional, mulai dari lomba menulis esai, literature review, hingga scientific competition.
Ia juga merambah dunia wirausaha kampus. Alifah mendapat pendanaan dari Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) FKG UB untuk mengembangkan produk es krim berbahan dasar biji nangka.
Pada akhirnya, bahan yang biasanya jadi limbah dapur ternyata bisa diolah jadi produk bernilai jual.


