sebelum ada pendingin ruangan begini cara masyarakat pada masa majapahit bikin hunian tetap sejuk - News | Good News From Indonesia 2026

Sebelum Ada Pendingin Ruangan, Begini Cara Masyarakat pada Masa Majapahit Bikin Hunian Tetap Sejuk

Sebelum Ada Pendingin Ruangan, Begini Cara Masyarakat pada Masa Majapahit Bikin Hunian Tetap Sejuk
images info

Rumah khas zaman Majapahit | Radar Majapahit


Bagi Kawan yang ingin tinggal di tempat sejuk dan dingin, tentu penggunaan Air Conditioner (AC) dan kipas angin di rumah sudah menjadi solusi. Saat sedang diluar pun, penggunaan kipas angin portable juga sudah semakin eksis saat ini.

Tapi apakah pernah terpikir? Bagaimana orang jaman dulu yang pada saat itu alat pendingin ruangan belum secanggih sekarang, menyiasati agar rumah mereka juga tetap sejuk?

Jauh sebelum ada alat pendingin ruangan, masyarakat Nusantara ternyata sudah punya caranya sendiri. Hal itu yang terjadi di pemukiman Majapahit Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Daerah tersebut merupakan bekas Kerajaan Majapahit yang menjadi peradaban Hindu terbesar di Nusantara pada abad ke-13 sampai ke-16.

Masyarakat Majapahit pada saat itu, merancang daerah tempat tinggalnya dengan bijak dan cerdas. Mereka memperhatikan iklim sebagai bagian dari kearifan bioklimatik Nusantara, yaitu pengetahuan tradisional untuk menyesuaikan bangunan dengan cuaca dan alam.

Tentu pengetahuan tersebut didasari pada nilai-nilai baik, aturan adat, dan tindakan nyata yang menyesuaikan lingkungan sekitar. Sehingga pengalaman yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun, bisa diwariskan pada genrerasi selanjutnya dan menguntungkan kedua belah pihak: manusia dan alam.

baca juga

Arah Jalan yang Menjadi "Kipas Alami" Trowulan

Dimulai dari tata pemukiman yang mengikuti kosmologi Ciwa-Buddha, kepercayaan utama masyarakat Majapahit pada saat itu. Disana terdapat Gunung Penanggungan di tenggara dan Laut Jawa di utara.

Jalan-jalan di Trowulan juga mengikuti arah itu, sehingga saling bersilangan tegak lurus ke arah utara-selatan dan timur-barat. Susunan blok pemukiman dan jalan ini membentuk semacam koridor yang mengalirkan angin dari dataran tinggi di selatan ke dataran rendah di utara.

Angin yang mengalir bebas itu bisa menurunkan suhu dan kelembapan. Jadi bisa dibilang, Trowulan sudah punya "kipas alami" sejak dulu.

Selain itu, di ruang terbuka juga ada pepohonan, termasuk beringin yang tumbuh di ruang publik. Pepohonan ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Majapahit untuk melindungi lingkungan dari radiasi matahari tropis dan menciptakan iklim mikro yang nyaman.

Permukaan jalannya juga lebih rendah dari tanah asli sekitar satu sampai dua meter. Perbedaan tinggi ini diduga ikut mengalirkan air hujan, sehingga pemukiman terlindung dari genangan saat musim hujan.

Bagaimana Bangunan Rumahnya?

Selanjutnya, jika Kawan masuk ke kompleks rumahnya, disana ada dua bangunan yang dapat menjaga rumah agar tetap sejuk. Yaitu bale meten dan bale.

Bale meten adalah kamar tidur dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu atau papan kayu yang punya celah. Jadi meskipun tidak ada jendela pun, celah itu dapat membiarkan udara tetap lewat yang membuat sirkulasi udara dan kelembaban ruangan tetap terjaga.

Sementara bale, bentuknya adalah paviliun terbuka tanpa dinding yang biasa dipakai sebagai ruang keluarga atau pusat kegiatan saat siang hari. Konsep bale yang terbuka ini sangat adaptif terhadap iklim, karena udara tetap bisa bergerak sehingga orang yang ada didalamnya merasa nyaman.

Di sisi lain, Majapahit memang dikenal sebagai negara maritim yang berdagang dengan banyak pihak, tetapi mereka tidak mengimpor bahan bangunan. Mereka memakai bahan alami yang ada disekitanya, seperti batu bata, genteng dan kisi-kisi ventilasi.

Contohnya, terlihat pada artefak rumah miniatur yang ada di Museum Majapahit. Genteng terakotanya dipasang denga pola berselang-seling. Pola ini disebut sebagai solusi teknis supaya air hujan tidak masuk ke dalam bangunan.

baca juga

Selain genteng, mereka juga menyadari pentingnya ventilasi dengan mengembangkannya menjadi ornamen dekoratif yang menarik. Hal ini membuktikan bahwa mereka paham cara memanfaatkan aliran udara dari luar ke dalam bangunan. Sehingga membuat suasana terasa lebih nyaman.

Kearifan seperti ini ternyata tidak berhenti di Trowulan saja. Menurut Yosafat Winarto, Happy Ratna Santosa, dan Sri Nastiti N. Ekasiwi, yang dirilis dalam jurnal Procedia Social and Behavioral Sciences (2015), tradisi ini masih terjaga hingga sekarang di pemukiman Hindu tradisional di Bali.

Dalam penelitiannya, mereka berharap konsep sadar iklim yang sudah diterapkan oleh masyarakat Majapahit pada saat itu, bisa menjadi solusi lingkungan dan contoh untuk masyarakat masa kini maupun masa depan saat ingin menata tempat tinggalnya dengan menerapkan kembali kearifan budaya dari masa lalu.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

HK
FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.