dari bundaran hi suara untuk penanganan karhutla yang lebih baik bergaung - News | Good News From Indonesia 2026

Dari Bundaran HI, Suara untuk Penanganan Karhutla yang Lebih Baik Bergaung

Dari Bundaran HI, Suara untuk Penanganan Karhutla yang Lebih Baik Bergaung
images info

Aksi damai Greenpeace di Bundaran HI | Greenpeace


Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda berbagai daerah di Indonesia belum mereda. Saat kebakaran hebat di Kalimantan dan Sumatra belum sepenuhnya padam, beberapa wilayah lain seperti Papua hingga banyak titik di Jawa terpantau ikut terbakar.

Asap hasil kebakaran bukan hanya menghantui masyarakat sekitar lokasi. Saking parahnya dampak yang ditimbulkan, negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, hingga Tailan dan Filipina ikut terdampak.

Bahkan, citra satelit NASA pada 13-15 Oktober 2026 lalu menunjukkan tingginya konsentrasi gas karbon monoksida (CO) di atmosfer di atas wilayah Indonesia. Citra itu menunjukkan Indonesia dikelilingi warna merah dan oranye yang mencapai lebih dari 160 ppbv.

Kawan GNFI, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga sempat menyatakan pada Jumat, 16 Oktober 2026 jika asap karhutla sempat memasuki wilayah Jawa bagian barat meskipun hanya sesaat. Sementara itu, sebaran asap karhutla masih terpantau di sebagian besar Sumatra, Kalimantan, Sulawesi bagian tengah hingga selatan, Kepulauan Maluku, serta sebagian besar Papua.

Kawan GNFI, kondisi ini semakin parah dengan cuaca ekstrem yang melanda hampir seluruh wilayah Indonesia. Riset Greenpeace Indonesia, krisis iklim yang semakin parah belakangan bukan hanya menghancurkan lingkungan, tapi juga menggerus penghasilan daya dan beli pekerja.

Krisis iklim yang semakin serius ini mendorong Greenpeace Indonesia untuk menggelar aksi damai tanpa kekerasan di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat. Greenpeace mendesak pemerintah agar lebih serius untuk menangani krisis iklim yang terus mengancam kualitas hidup masyarakat Indonesia.

Suara Damai dari Bundaran HI

Tanpa teriakan, tanpa senjata, tanpa massa yang besar, aktivis Greenpeace menggelar aksi damai yang terbilang unik untuk menyuarakan keresahan mereka dengan membentangkan dua spanduk berukuran raksasa dari atas Patung Selamat Datang, Selasa 20 Oktober 2026 pagi.

Ada dua spanduk yang dipasang. Spanduk jumbo pertama yang berwarna kuning itu mejeng dan dihadapkan ke arah Istana Merdeka di utara dan bertuliskan β€œTangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup”. Sementara itu, spanduk lainnya menghadap ke selatan Bundaran HI dengan tulisan β€œBencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?”.

Greenpeace mendesak pemerintah untuk segera memberikan penanganan yang lebih serius terhadap krisis iklim yang makin memperburuk kualitas hidup masyarakat.

baca juga

β€œCuaca ekstrem dan bencana ekologis tidak hanya mengancam keselamatan dan kesehatan masyarakat, tapi juga mengganggu sumber penghidupan, menekan pendapatan, dan mendorong kenaikan harga pangan. Kabut asap berkepanjangan adalah salah satu contoh nyata bagaimana krisis ekologis membebani kehidupan masyarakat, mulai dari gangguan kesehatan hingga aktivitas ekonomi sehari-hari,” kata Jeanny Sirait, Juru Kampanye Keadilan Iklim Greenpeace Indonesia dalam rilis pers resminya.

Namun, spanduk yang dipasang oleh enam aktivis Greenpeace ini tidak bertahan lama. Beberapa saat setelah dipasang, spanduk diturunkan oleh aparat terkait.

Greenpeace menyatakan, pihaknya melakukan aksi damai tanpa kekerasan dan tiada kerugian apa pun pada cagar budaya Patung Selamat Datang.

Krisis Iklim yang Harus Ditanggapi Serius

Hingga saat ini, karhutla belum dijadikan sebagai bencana nasional. Di tengah kondisi ini, masyarakat juga dihadapkan dengan tekanan ekonomi yang mencekik.

Biaya hidup yang makin tinggi serta bencana iklim yang semakin mengkhawatirkan jelas menjadi ancaman serius yang harus dihadapi masyarakat.

Di sisi lain, Kementerian Kesehatan RI mencatat total ada 306.309 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat karhutla hingga pertengahan Oktober 2026. Kasus ISPA terbanyak diderita oleh anak-anak berusia 6-9 tahun, yakni 77.022 kasus.

Karhutla harus ditanggapi serius karena dampaknya bukan lagi menyoal pada masalah lingkungan lokal, tapi sudah menjadi ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat. Tak hanya itu, jika dibiarkan, masalah ini bisa mengganggu stabilitas ekonomi sampai reputasi Indonesia di mata dunia.

baca juga

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.