Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan beberapa titik di Sumatra masih menghantui masyarakat. Kepulan asap kebakaran menutupi langit dan membuat jarak pandang menjadi terbatas. Belum lagi masalah kesehatan yang timbul akibat asap yang dampaknya dirasakan langsung oleh warga.
Bahkan, asap hasil kebakaran juga menyebar hingga ke negara tetangga terdekat seperti Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura. Beberapa waktu lalu, asap juga diberitakan sudah memasuki wilayah Filipina dan Tailan.
Di Malaysia, pemerintah setempat beberapa kali menutup sekolah akibat asap yang semakin tebal sejak Agustus 2026 lalu. Beberapa wilayah seperti Johor, Melaka, Negeri Sembilan, Selangor, Kuala Lumpur, Putrajaya, Distrik Rompin di Pahang, sampai Sarawak tercatat pernah menutup sekolah akibat asap karhutla.
Situasi kabut asap yang memburuk sangat mengkhawatirkan. Pemerintah Malaysia merespons hal tersebut dengan melakukan operasi penyemaian awan.
Pada September lalu, Malaysia melakukan penyemaian awan selama tiga hari di Sarawak untuk menambah cadangan air bendungan serta mengurangi asap di kawasan tersebut. Sarawak sendiri memang berbatasan darat langsung dengan Indonesia.
Tawaran Bantuan dari Malaysia untuk Indonesia
Malaysia menawarkan satu pesawat, tiga helikopter, dan 55 personel untuk diterjunkan membantu operasi pemadaman api di wilayah terdampak.
Mengutip dari Sinar Harian, tawaran bantuan ini disampaikan oleh Ahmad Zahid, Wakil Perdana Menteri Malaysia, saat berkunjung ke Jakarta beberapa waktu lalu. Ia berjumpa dengan Presiden Prabowo dan Wapres Gibran dalam agenda tersebut.
Zahid mengatakan, Agensi Pengurusan Bencana Negara Malaysia (NADMA) dan Kementerian Luar Negeri Malaysia sudah mengirimkan surat kepada mitra terkait di Indonesia untuk menindaklanjuti tawaran itu. Namun, pemerintah Malaysia mengaku belum menerima respons dari Indonesia atas tawaran untuk memadamkan kebakaran hutan di Sumatra dan Kalimantan tersebut.
"Kita menawarkan dengan ikhlas, tetapi tidak ada respons untuk kita membantu mereka. Kita ucapkan terima kasih," ungkap Zahid, Minggu (11/10/2026).
Di sisi lain, pemerintah Indonesia mengaku tidak pernah menolak mentah-mentah bantuan yang ditawarkan. Pemerintah sangat menghargai bantuan dari negara lain.
Mengutip ANTARA, Kepala Biro Humas, Data, dan Informasi Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam), Brigjen TNI Honi Havana, mengatakan bahwa pemerintah Indonesia masih menjalin komunikasi dengan Malaysia terkait tawaran bantuan penanganan kebakaran tersebut.
"Statusnya masih komunikasi, tentunya sedang on going, kanal tentunya melalui Kementerian Luar Negeri," katanya.
Lebih lanjut, Honi menjelaskan bahwa pemerintah harus berdiskusi terlebih dahulu terkait teknis tata cara pengiriman bantuan dan pengoperasiannya di lapangan. Hasil diskusi itu nantinya akan menjadi landasan diterima atau tidaknya bantuan tersebut.
Kawan GNFI, ini bukan kali pertama Malaysia menawarkan dan memberikan bantuan kepada Indonesia. Bukan hanya saat terjadi karhutla, sebelum-sebelumnya Malaysia juga membantu Indonesia saat terjadi bencana lain, seperti banjir Sumatra hingga gempa bumi Lombok.


