menjaga lahan gambut solusi paling paten untuk mencegah karhutla - News | Good News From Indonesia 2026
5/21
Beragam Jurus Melawan Karhutla
1Karhutla Menyala, Indonesia Pantang Diam Saja!2Operasi Modifikasi Cuaca, "Mengundang" Hujan demi Memadamkan Karhutla3Mengatasi Karhutla dengan Water Bombing, "Mengebom" dengan Air untuk Melawan Api4Memadamkan Karhutla dengan Ubi, Apakah Efektif?5Menjaga Lahan Gambut, Solusi Paling Paten untuk Mencegah Karhutla6Dari Bundaran HI, Suara untuk Penanganan Karhutla yang Lebih Baik Bergaung7Jurus Jitu Mengatasi Karhutla: Pemadaman & Pencegahan Perlu Jalan Beriringan8Dari Modifikasi Cuaca hingga Water Bombing, Begini Upaya Pemerintah Memadamkan Karhutla9Karhutla di Lahan Gambut, Kebakaran yang Bisa Bertahan Meski Api Tak Terlihat10Lahan Bekas Karhutla Bukan Ladang Bisnis, Ini Deretan Pohon yang Bisa Memulihkan Hutan11Dengan Selang dan Motor, 140 Lebih Perempuan Ketapang Jaga Hutan dari Karhutla 202612Karhutla Belum Usai, Komunikasi Pemerintah Harus Akurat dan Terbuka agar Publik Tak Semakin "Panas"13The Power of Mama, Pasukan Ibu-Ibu yang Turun Padamkan Karhutla di Kalimantan14Jenis Masker untuk Melindungi Pernapasan dari Asap Karhutla15Dry Ice untuk Penanganan Kebakaran Hutan, Apa Itu Dry Ice?16Mengenal Tanah Gambut, Salah Satu Faktor Risiko Kebakaran Hutan17Mengenal Jenis-Jenis APAR dan Fungsinya untuk Menangani Kebakaran18Ini Cara Melindungi Diri dari Asap Kebakaran Hutan19Pohon Sengon dan Beragam Manfaatnya bagi Manusia serta Lingkungan20Mengapa Jelutung Rawa Berpotensi Besar untuk Restorasi Gambut?21Apakah Hujan Bisa Menghilangkan Kabut Asap? Memahami Cara Alam Bantu Bersihkan Udara

Menjaga Lahan Gambut, Solusi Paling Paten untuk Mencegah Karhutla

Menjaga Lahan Gambut, Solusi Paling Paten untuk Mencegah Karhutla
images info

Foto oleh Ries Bosch di Unsplash


Ikuti GNFI di WhatsApp

Lahan gambut menjadi salah satu kawasan yang paling rentan karhutla karena api dapat menyebar di bawah permukaan tanah.

Gambut terbentuk dari tumpukan sisa tumbuhan yang menumpuk selama ribuan tahun. Dalam kondisi alami, lapisan ini menyimpan banyak air sehingga tidak mudah terbakar.

Gambut juga menyimpan karbon dalam jumlah besar. Luasnya hanya sekitar 3 persen dari daratan bumi, tetapi kandungan karbonnya mencapai hampir 30 persen dari seluruh karbon tanah dunia.

Ekosistem gambut juga membantu menahan air, mengurangi risiko banjir, menyediakan sumber air, dan menjadi tempat hidup berbagai tumbuhan serta satwa.

Gambut tropis hanya mencakup sekitar 8 persen dari seluruh lahan gambut dunia. Sekitar 60 persen gambut tropis berada di Asia Tenggara. Indonesia sendiri memiliki lahan gambut tropis terluas di dunia. Luasnya mencapai 13,43 juta hektare yang tersebar di tiga pulau besar.

Sumatra memiliki sekitar 5,8 juta hektare gambut, Kalimantan memiliki 4,5 juta hektare, sedangkan Papua memiliki 3 juta hektare.

Luas dan kedalaman gambut berhubungan dengan jumlah karbon yang tersimpan. Gambut yang lebih dalam menyimpan karbon lebih banyak. Jika mengering atau terbakar, karbon tersebut dapat terlepas ke udara.

Pakar Ekologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB Dr Elham Sumarga menjelaskan gambut dalam kondisi alami sulit terbakar karena selalu basah.

“Ketika lahan gambut tidak memiliki air lagi, bahan organik yang mengering tersebut berubah menjadi akumulasi bahan bakar di hamparan yang sangat luas,” ujar Elham.

Kanal yang dibuat untuk membuka akses atau mengembangkan budi daya dapat mengalirkan air keluar dari kawasan gambut. Lapisan organik kemudian mengering dan mudah terbakar.

Api di lahan gambut juga berbeda dari api di lahan biasa, yang tidak hanya membakar permukaan, tetapi dapat bergerak di bawah tanah secara perlahan. Karena itu, api bisa tetap menyala meski permukaan terlihat sudah padam. Bara di dalam tanah juga dapat memunculkan asap selama berhari-hari.

Kebakaran gambut ini menghasilkan asap yang mengandung partikulat halus, termasuk PM2.5. Asap tersebut dapat mengganggu sistem pernapasan dan aktivitas masyarakat.

Sekolah, layanan publik, kegiatan ekonomi, dan penerbangan dapat ikut terganggu ketika kabut asap menyebar. Asap juga dapat terbawa angin hingga ke wilayah lain atau melintasi batas negara.

Tak hanya itu, kebakaran merusak habitat satwa liar. Orangutan di Kalimantan, misalnya, dapat terjebak atau kehilangan ruang hidup ketika api meluas.

Kebakaran juga melepaskan karbon yang tersimpan selama ribuan tahun. Emisi tersebut menambah gas rumah kaca di atmosfer.

Elham mengatakan pembasahan kembali atau rewetting dapat digunakan untuk memulihkan kondisi gambut. Penggunaan sekat kanal dapat diterapkan untuk menahan air agar tidak mengalir keluar dan menjaga lapisan gambut tetap lembap.

Pemulihan tersebut perlu berjalan bersama kegiatan ekonomi yang sesuai dengan karakter lahan basah. Paludikultur atau budi daya di lahan basah dapat menjadi pilihan.

Jelutung, sagu, dan purun merupakan contoh tanaman yang dapat tumbuh di lahan gambut tanpa harus mengeringkannya. Perikanan rawa juga dapat dikembangkan sesuai kondisi setempat.

“Kita harus mereplikasi kearifan lokal pertanian ramah gambut yang telah sukses berjalan. Ketika gambut tetap basah, warga mendapat panen ekonomi berkelanjutan,” kata Adib.

Sementara itu, guru Besar Antropologi Ekologi FISIP Universitas Airlangga Prof Muhammad Adib mengatakan karhutla di Kalimantan dapat berdampak hingga ke negara lain karena kabut asap tidak mengenal batas wilayah.

Menurut Adib, karhutla tidak hanya dipicu kekeringan atau fenomena iklim. Kerusakan ekosistem dan cara pengelolaan lahan juga berperan dalam memperbesar risiko kebakaran.

“Kondisi ini bukan murni sebagai kutukan alam. El Nino hanyalah katalis kekeringan bentang alam. Sumbu utamanya bersifat antropogenik dan struktural,” tegas Adib.

Adib mengusulkan pengelolaan gambut berbasis tapak. Menurutnya, gambut perlu dipandang sebagai ruang hidup bersama yang pengelolaannya melibatkan pemerintah, masyarakat, akademisi, dan pelaku usaha.

Menurutnya, peneliti bisa menyediakan teknologi pembasahan gambut, pemerintah daerah memperkuat aturan dan penegakan hukum, sementara masyarakat mengelola tata air dan mengawasi kondisi lahan sehari-hari.

 

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.