“Saya bilang daripada kita buang-buang, pemerintah juga kesulitan lahan ngolah sampah. Nah, bisa nggak UMY ini mengolah sampahnya mandiri,” kata Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Achmad Nurmandi.
UMY akhirnya memilih mengelola sampahnya sendiri. TPA Piyungan sudah lama penuh, dan kampus ini tidak ingin ikut menambah beban. Sampah tidak lagi dikirim keluar. Semua proses dikerjakan di dalam area kampus.
Anggaran pembuangan sampah yang sebelumnya mencapai Rp10 juta per bulan—atau sekitar Rp120 juta per tahun—kini menjadi nol rupiah.
Bagaimana UMY Mengelola Sampah?
UMY berdiri di atas lahan sekitar 35 hektare dengan 44 gedung aktif. Aktivitas ribuan orang setiap hari menghasilkan sampah antara 300 kilogram hingga 1 ton. Jumlah ini sudah setara dengan satu kawasan permukiman.
Jenisnya beragam, seperti daun gugur dari pepohonan kampus; sisa makanan dari kantin; hingga kertas, kardus, dan plastik dari aktivitas harian.
Seluruh sampah tersebut kini dikelola melalui Rumah Pengolahan Sampah UMY, yang diresmikan pada 27 Desember 2024.
Di tempat ini, sampah tidak langsung dibuang, tetapi dipilah dan diperlakukan sesuai jenisnya.
Daun-daun kering dikumpulkan lalu diolah menjadi pupuk kompos. Prosesnya memakan waktu sekitar 35 hari hingga siap dimanfaatkan. Sisa makanan tidak langsung dibuang. Biasanya diambil oleh pegawai untuk pakan ternak.
Sementara itu, sampah yang sudah tidak memiliki opsi pengolahan masuk kategori residu. Jenis sampah ini kemudian diproses menggunakan insinerator.
Insinerator merupakan alat pembakaran bersuhu tinggi untuk mengurangi volume sampah. Di UMY, penggunaannya terbatas. Alat ini hanya dipakai untuk sisa yang benar-benar tidak bisa dimanfaatkan kembali.
Sampah Dijual Ulang, Bukan untuk Kampus
Sampah anorganik seperti botol plastik dan kardus dipilah satu per satu. Setelah terkumpul, sampah ini dijual ke pengepul. Nilainya berkisar antara Rp500 ribu hingga Rp700 ribu per bulan.
Uang tersebut tidak masuk ke laporan keuangan kampus. Seluruh hasil penjualan menjadi hak para petugas pemilah.
“Nah, kemudian yang anorganik ini dipilah, kemudian dijual untuk kesejahteraan mereka yang milah itu. Ya, ambil aja untuk mereka,” kata Achmad Nurmandi.
Artinya, orang-orang yang setiap hari bergelut dengan sampah ikut merasakan manfaatnya secara langsung dan tidak sekadar menjalankan tugas.
Praktik ini dikenal sebagai ekonomi sirkular, yaitu upaya memutar kembali nilai material yang biasanya dianggap habis pakai. Manfaatnya tidak berhenti di institusi, tetapi sampai ke pekerja lapangan.
Manfaat pengolahan sampah juga dirasakan warga sekitar. Pupuk kompos hasil olahan daun dapat diambil oleh para petani.
“Contohnya adalah para petani, itu kita berikan kesempatan untuk mengambil pupuk organik yang telah kita hasilkan. Jadi mereka tidak bayar, tapi ngangkut sendiri karena kita nggak punya angkutan. Jadi mereka boleh ngambil,” ujar Direktur Operasi dan Infrastruktur Berkelanjutan UMY, Surya Budi Lesmana, dikutip dari Kumparan.
Rumah Pengolahan Sampah sebagai Ruang Belajar
Rumah Pengolahan Sampah ini tidak hanya berfungsi sebagai unit operasional. Tempat ini juga menjadi ruang belajar bagi mahasiswa.
Mahasiswa terlibat langsung dalam penyelesaian persoalan teknis. Salah satunya melalui alat press botol plastik yang digunakan di lokasi tersebut. Konsep dan desain alat ini berasal dari mahasiswa, lalu diproduksi vendor sesuai kebutuhan lapangan.
“Dari mahasiswa punya konsep, terus diorderkan ke vendor pembuat sehingga sesuai kebutuhan,” kata Kepala Subdirektorat Infrastruktur Berkelanjutan UMY, Ferriawan.
Jika muncul kendala teknis, mahasiswa kembali diajak berdiskusi. Mereka tidak hanya mengamati, tetapi ikut mencari solusi.
“Karena kan nanti ke depannya juga problem solving-nya kan mereka. Ya mahasiswa itu kan mecahin masalah,” lanjut Ferriawan.
Langkah UMY menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak harus selalu menunggu solusi besar dari kota. Dengan keputusan di tingkat kampus, masalah yang selama ini dianggap pelik dan kompleks bisa ditangani dari sumbernya. Sampah tidak lagi sekadar dibuang, tapi dikelola.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


