Dulu dunia mengenal satu julukan yang sangat menyakitkan. Filipina pernah disebut sebagai si orang sakit. The Sick Man of Asia. Julukan itu melekat sangat lama. Sekarang keadaan berbalik. Filipina sudah lari kencang, pertumbuhannya di atas 5 persen. Justru tetangga kita, Thailand, yang sejak lama meninggalkan kita, kini terlihat masuk IGD. Banyak ekonom mulai menyebut Thailand sebagai the new sick man of Asia.
Laporan IMF terbaru sudah keluar. Angkanya membuat banyak orang geleng-geleng kepala. Terutama orang Thailand. Pada 2026, ekonomi Thailand diproyeksikan hanya tumbuh sekitar 1,6 persen. Ini terendah di antara ekonomi utama Asia Tenggara. Di tingkat Asia, posisinya hanya sedikit di atas Jepang yang ekonominya sudah maju, dan jenuh. Jauh di bawah Indonesia yang tetap bertahan di sekitar 4,9 persen (bahkan bisa lebih).
Masuk IGD bukan berarti kolaps. Thailand belum runtuh. Kota-kotanya masih tampak makmur. Tetapi tanda-tanda daruratnya jelas. Pertumbuhan terlalu rendah untuk negara berpendapatan menengah. Utang rumah tangga menekan konsumsi. Populasi menua cepat. Politik tidak stabil. Tanpa perubahan arah, kondisi ini mudah memburuk. Inilah yang membuat Thailand terlihat bukan sekadar melambat, tetapi berada dalam situasi yang membutuhkan penanganan segera.
Namun harus jujur. Dalam ukuran pendapatan per kapita, Indonesia masih tertinggal. Pada 2025, pendapatan per kapita Thailand berada di kisaran 7.800 sampai 8.000 dolar AS per orang. Indonesia masih di sekitar 4.900 sampai 5.000 dolar AS per orang. Jaraknya masih lebar. Hampir dua kali lipat.
Pertanyaannya bukan siapa lebih kaya hari ini. Pertanyaannya siapa yang bergerak lebih sehat untuk sepuluh tahun ke depan.
Saya baru saja pulang dari Bangkok minggu lalu. Kota ini jelas makmur. Jauh lebih hidup dibanding banyak kota lain di Thailand. Namun ada satu kesan yang sulit dihindari. Bangkok terasa stagnan.
Bangunan dan beton yang saya lihat lima belas tahun lalu, saat pertama kali datang, masih tampak sama pada awal 2026. Tidak banyak yang berubah. Tidak terlihat lompatan baru. Saya sudah lebih dari sepuluh kali ke Thailand dan Bangkok. Kesan itu konsisten. Kota ini tidak jatuh. Tetapi juga tidak bergerak jauh.
Di balik kemakmuran Bangkok, ekonomi Thailand sedang meriang parah.
Masalah utamanya adalah arah. Sejak 2006, sudah ada sekitar sepuluh perdana menteri yang diangkat dan digulingkan. Dalam tiga tahun terakhir saja, pergantian terjadi berulang. Pemerintahan silih berganti. Kebijakan ekonomi sulit konsisten. Reformasi besar selalu tertunda. Investor jangka panjang butuh kepastian. Thailand gagal memberikannya.
Masalah kedua adalah utang rumah tangga. Rasionya mendekati 90 persen dari PDB. Angka ini menekan kehidupan sehari-hari. Banyak keluarga bekerja keras hanya untuk mengejar cicilan. Ketika pendapatan habis untuk membayar utang, konsumsi melemah. Ketika konsumsi melemah, usaha ikut terpukul. Di Bangkok, restoran mulai sepi. Toko-toko tutup lebih cepat.
Masalah ketiga adalah demografi. Thailand menua lebih cepat dari negara lain di kawasan. Angka kelahiran jatuh ke titik terendah dalam puluhan tahun. Tenaga kerja menyusut. Produktivitas sulit naik. Pertumbuhan kehilangan tenaga.
Gabungan faktor inilah yang membuat ekonomi Thailand terlihat sehat dari luar, tetapi rapuh di dalam. Kota-kotanya tampak makmur. Namun mesinnya melambat.
Di titik inilah peluang Indonesia muncul.
Indonesia berada di posisi yang berbeda. Pertumbuhan ekonomi stabil di kisaran 5 persen. Konsumsi domestik kuat. Transisi politik berjalan tanpa guncangan besar. Arah kebijakan relatif terjaga. Stabilitas ini adalah fondasi utama untuk mengejar pendapatan per kapita.
Menyalip yang dimaksud di sini bukan sekadar ukuran ekonomi, tetapi kualitas pendapatan warganya.
Selama puluhan tahun, Thailand unggul karena mampu menjaga produktivitas kelas menengahnya. Upah di sektor formal relatif stabil. Itulah yang membuat pendapatan per kapita mereka melampaui Indonesia. Sementara Indonesia lama terjebak pada pertumbuhan yang tidak cukup menaikkan produktivitas rata-rata.
Kini pola itu mulai berubah.
Pertumbuhan Indonesia tidak lagi hanya bergantung pada harga komoditas. Struktur ekonomi menjadi lebih beragam. Sektor formal membesar. Jasa modern tumbuh. Digitalisasi memperluas kesempatan kerja dan usaha. Semua ini penting karena pendapatan per kapita naik bukan dari angka PDB semata, tetapi dari produktivitas orang per orang.
Sementara itu, Thailand menghadapi tekanan ke arah sebaliknya. Utang menekan konsumsi. Populasi menua menekan produktivitas. Politik menghambat reformasi. Dengan pertumbuhan di bawah 2 persen, mempertahankan keunggulan pendapatan per kapita menjadi sangat sulit.
Jika tren ini bertahan, jarak bisa menyempit dari dua arah. Indonesia naik perlahan tetapi konsisten. Thailand melambat dan tersendat.
Indonesia tidak perlu tumbuh spektakuler untuk mengejar. Cukup menjaga pertumbuhan di sekitar 5 persen. Cukup memastikan produktivitas naik. Dalam satu dekade, selisih pendapatan per kapita itu bisa tertutup.
Tentu ini tidak otomatis. Indonesia masih punya pekerjaan rumah besar. Biaya logistik tinggi. Kepastian lahan sering bermasalah. Kualitas pendidikan dan keterampilan tenaga kerja harus dikejar. Tetapi arah besarnya sudah benar.
Yang paling penting sekarang adalah konsistensi. Kebijakan yang tidak mudah berubah. Reformasi yang dijaga. Stabilitas yang dirawat.
Jika itu bisa dipertahankan, Indonesia bukan hanya akan menyalip Thailand dalam ukuran ekonomi. Indonesia punya peluang nyata mengejar, bahkan melampaui, pendapatan per kapita mereka.
Momentum seperti ini jarang datang. Jika ragu, peluang akan lewat. Jika berani dan disiplin, Indonesia bisa benar-benar menyalip. Bukan di slogan semata. Tetapi di pendapatan warganya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


