ketika naginata jadi alat propaganda jepang di indonesia - News | Good News From Indonesia 2026

Ketika Naginata Jadi Alat Propaganda Jepang di Indonesia

Ketika Naginata Jadi Alat Propaganda Jepang di Indonesia
images info

Ketika Naginata Jadi Alat Propaganda Jepang di Indonesia


Masa pendudukan Jepang di Indonesia - yang saat itu masih dalam kuasa kolonialisme Belanda -mulai terjadi pada 1942. Tepatnya pada 11 Januari 1942, ketika militer Jepang mendarat di Tarakan, Kalimantan Timur. Militer Jepang yang tengah berperang dengan angkatan laut Amerika Serikat di Samudra Pasifik memilih Asia Tenggara sebagai lumbung sumber daya alam yang berguna di tengah peperangan.

Perlahan tapi pasti, militer Jepang merembet menguasai kota-kota di Indonesia. Ibu Kota Hindia Belanda, Batavia akhirnya diduduki pada 5 Maret 1942 dan membuat kekuasaan kolonialisme Belanda runtuh seketika. Masuknya militer Jepang di beberapa tempat Indonesia menciptakan banyak perubahan, contoh sederhananya perubahan nama Batavia menjadi Jakarta. Perubahan nama-nama unsur ke-Belanda-an memang dilakukan sebagai bentuk propaganda ke bangsa Indonesia bahwa Jepang hadir sebagai penyelamat.

Propaganda militer Jepang terhadap bangsa Indonesia tak hanya lewat perubahan nama tempat. Berbagai tradisi dan kebudayaan khas coba ditularkan mereka kepada orang-orang Indonesia, salah satunya melalui seni bela diri. Jepang memiliki sejumlah seni bela diri, dan salah satu yang unik mereka coba tularkan ialah naginata.

Erat Digunakan Wanita

Naginata merujuk ke senjata tradisional Jepang. Bentuknya seperti tombak dengan ujung mata pisau melengkung menyerupai katana atau pedang samurai. Beberapa sumber menyebutkan naginata dipakai wanita kelas samurai sejak periode Heian dan Kamakura yang berlangsung sekitar tahun 749 hingga 1333.

"Naginata adalah senjata yang dipilih banyak wanita kelas samurai karena efektif melawan pedang, senjata andalan samurai pria. Dengan ukurannya yang panjang seorang wanita bisa menahan juga membalas serangan pendekar pedang. Banyak tokoh wanita terkenal dalam sejarah Jepang memakai senjata ini," begitulah yang dikatakan David E Jones lewat buku Women Warriors: A History.

Lukisan Izanami dan Izanagi karya Kobayashi Eitaku yang dilukis sekitar tahun 1885. (Foto: Wikimedia Commons/Lamre)
info gambar

Lukisan Izanami dan Izanagi karya Kobayashi Eitaku yang dilukis sekitar tahun 1885. (Foto: Wikimedia Commons/Lamre)


Dikutip juga dari buku Women and Martial Art in Japan karya Kate Sylvester, naginata kemudian menjadi satu kurikulum dalam sekolah seni bela diri pada era Tokugawa. Kate menyebut unsur kewanitaan terus melekat pada naginata, sehingga jarang ada dokumentasi pria memainkan seni bela diri ini. Eratnya senjata ini dipakai oleh wanita diwariskan pula lewat cerita-cerita kerakyatan salah satunya melalui tokoh samurai wanita terkenal yang terlibat dalam Genpei War pada abad ke-12, Tomoe Gozen.

Namun, menurut Fumon Tanaka dalam bukunya Samurai Fighting Arts: The Spirit and the Practice, naginata tak hanya wanita yang memakainya, tetapi pria juga. Naginata yang dipakai wanita disebut ko-naginata yang bentuk bilah pisaunya kecil. Sementara, 0-naginata yang dikhususkan untuk pria memiliki bilah pisau lebih besar. Penggambaran naginata juga dipakai pria bisa dilihat dari lukisan Kobayashi Eitaku yang melukiskan Izanagi - dewa pencipta dunia kepercayaan Shinto – sedang memegang naginata saat bersanding dengan istrinya Izanami.

Meskipun juga dipakai pria, naginata nyatanya lebih erat dengan wanita di Jepang. Setelah restorasi Meiji pada 1860-an dan dihapusnya golongan samurai, ilmu tradisional (Koryu) coba dipertahankan salah satunya naginata. Seni bela diri naginata terus lestari dengan dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan Jepang modern dan dikhusukan bagi siswi sekolahan. Maka dari itu, tak heran di Jepang praktisi seni bela diri ini biasanya dari kalangan wanita.

Naginata di Indonesia

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa seni bela diri yang memadukan kekuatan dan keanggunan seperti naginata ini pernah menjadi alat propaganda Jepang saat menduduki Indonesia. Latihan menggunakan naginata terekam dalam media propaganda Jepang saat menduduki Jawa yaitu Djawa Baroe. Dalam terbitan 15 Juni 1943 majalah dwimingguan itu, dikabarkan wanita Indonesia dilatih memakai naginata di Jakarta.

Para wanita Indonesia memasang tampang serius saat berlatih naginata. (Foto: Djawa Baroe)
info gambar

Para wanita Indonesia memasang tampang serius saat berlatih naginata. (Foto: Djawa Baroe)


"Di Tjiahaja-Gakko, Djakarta-Shi, telah diadakan kursus naginata suatu ilmu keprajuritan yang sesuai benar bagi kaum wanita pembangun Asia. Yang menjadi guru ialah Komandan barisan Sjimozono dan yang menjadi murid ialah 10 orang guru perempuan. Pada akhir kursus tadi hasilnja ternyata, hingga tiada akan terkira oleh orang, bahwa lamanya pelajaran itu sesungguhnya dua minggu cuma," tulis DjawaBaroe lewat artikel “Wanita Indonesia MEMPELADJARI NAGINATA”.

Para wanita Indonesia yang mengikuti pelatihan dikabarkan bersemangat mengikuti berbagai teknik ilmu naginata yang diajarkan sensei Sjimozono. Sesuai kutipan di atas, pelatihan naginata ini berjalan selama dua pekan dan tidak menutup kemungkinan akan ada latihan lanjutan. Djawa Baroe mengungkapkan pelatihan serupa bahkan siap memberikan pelatihan naginata ke anak-anak.

Jepang cuma tiga setengah tahun menduduki Indonesia. Meski begitu, pengaruhnya menularkan olahraga khas mereka terbilang berhasil. Naginata mungkin tidak terlihat sekarang ini, tapi lain halnya dengan judo dan jiujitsu. Setelah Jepang angkat kaki, bela diri tersebut berkembang dan populer oleh beberapa kalangan sampai sekarang. Legenda bulu tangkis Indonesia, Ferry Sonneville menjadi salah satu tokoh yang mempopulerkan seni bela diri itu dan membuka dojo-nya di bilangan Pasar Baru, Jakarta.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dimas Wahyu Indrajaya lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dimas Wahyu Indrajaya.

DW
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.