“Awal mula pendirian pesantren ini didorong oleh kondisi sosial, banyaknya konflik sosial ekologis di Indonesia dan krisis iklim dalam skal, global,” Roy Murtadho atau yang akrab dipanggil Gus Roy.
Pesantren Ekologi Misykat Al-Anwar dibentuk tidak hanya untuk mengaji. Berdiri di Desa Carangpulang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, pesantren ini tumbuh dan berkembang dengan diskusi tentang krisis iklim. Bagi pengasuhnya, merawat bumi adalah bagian dari iman.
Gus Roy, pengasuh utama Pesantren Misykat Al-Anwar, tidak langsung berniat mendirikan pesantren ketika hijrah ke Bogor pada 2017. Sebelumnya, ia dikenal aktif sebagai peneliti dan aktivis lingkungan. Ia juga pernah terlibat dalam Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT) Jombang.
Dorongan untuk mendirikan pesantren justru datang dari diskusi-diskusi bersama jejaringnya. Dari situlah muncul gagasan pendidikan alternatif berbasis pesantren. Pesantren ini didesain sebagai ruang belajar yang menyatu dengan alam sekitar.
Kurikulum Alternatif yang Disusun Mandiri
Nama Misykat Al-Anwar diambil dari karya Imam Al-Ghazali. Artinya cahaya di atas cahaya.
Bagi Gus Roy, cahaya spiritual tidak cukup berhenti pada ibadah individual. Ia harus hadir dalam upaya merawat bumi dan membela yang lemah.
Misykat Al-Anwar mengembangkan kurikulum secara mandiri. Kurikulum ini berdiri di atas prinsip inklusif, Islam ahlussunnah waljamaah, humanis, ekologis, berpikir kritis, dan berkeadilan gender.
“Kami beranggapan membuat orang pintar itu mudah. Namun untuk membangun orang dengan karakter terbuka, toleran, berkeadilan gender, berpihak pada kaum marjinal, merawat bumi, dan siap bekerjasama itu tidak mudah, dan harus dipupuk sejak dini,” kata Gus Roy.
Santri tetap belajar Al-Qur’an, hadis, dan kitab kuning. Namun, mereka juga dikenalkan sejak awal pada konsep ekologi politik, eco-feminism, filsafat ilmu, dan multikulturalisme.
Ekologi politik membahas hubungan kekuasaan, ekonomi, dan kerusakan lingkungan.
Eco-feminism melihat keterkaitan antara eksploitasi alam dan ketidakadilan gender. Pendekatan ini jarang ditemui di pesantren konvensional.
Kebun dan Dapur sebagai Ruang Belajar
Di Misykat Al-Anwar, kebun menjadi ruang belajar utama. Santri menanam umbi-umbian, sayur, dan jagung. Dua kali dalam sepekan, mereka terlibat langsung dalam praktik bercocok tanam. Hasil kebun tidak dijual. Sayuran itu diolah sendiri oleh santri.
“Banyak orang melihat pesantren hanya sebatas mengaji kitab. Padahal, menanam pada hakikatnya ya mengaji juga,” ujar Gus Roy
Dari kebun dan dapur, santri belajar rantai pangan, diet plastik sekali pakai, dan pengelolaan sampah rumah tangga. Mereka tahu apa yang mereka makan, dari mana asalnya, dan bagaimana prosesnya.
Kesetaraan Gender yang Dipraktikkan Sehari-hari
Relasi laki-laki dan perempuan di pesantren ini tidak diatur dengan sekat ruang yang kaku. Pendekatannya berbasis nilai.
Santri laki-laki dan perempuan memiliki tanggung jawab yang sama. Prinsip anti-kekerasan seksual dan keadilan gender ditanamkan melalui percakapan harian, bukan sekadar aturan tertulis.
“Karena itu kami selalu mengatakan, mereka boleh memiliki rasa suka, tetapi tidak boleh melakukan pelecehan seksual. Bertemanlah dengan cara wajar, membangun dan bermartabat,” jelas Gus Roy.
Pesantren ini bahkan pernah menerima santri queer untuk mengikuti kelas berseri. Dalam berbagai kajian sosial, istilah queer digunakan oleh individu yang tidak ingin atau belum ingin mengunci identitasnya dalam kategori heteroseksual, cisgender, atau gender biner. Di Indonesia, identitas semacam ini kerap berhadapan dengan tafsir agama yang kaku dan biner. Alih-alih dirangkul, kelompok queer sering kali disudutkan.
Gus Roy, menerima santri tersebut tanpa diskriminasi.
“Enggak apa-apa. Orang santri-santrinya sudah tahu kok tentang keberagaman, tentang queer dan sebagainya,” kata Gus Roy, dikutip dari Tirto.
Energi Bersih sebagai Praktik Iman
Kesadaran ekologi di Misykat Al-Anwar tidak berhenti pada kebun. Pesantren ini mulai menggunakan panel surya sejak 2020.
Langkah ini sejalan dengan temuan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang menyebut bahwa peningkatan suhu global sejak pertengahan abad ke-20 sangat dipengaruhi oleh emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia
Gus Roy juga merencanakan pengembangan mikrohidro, yaitu pembangkit listrik tenaga air skala kecil yang memanfaatkan aliran sungai tanpa bendungan besar. Inspirasi ini datang dari kiprah Tri Mumpuni, tokoh energi terbarukan Indonesia.
“Di lokasi kami yang baru terdapat sungai yang bisa dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik mikrohidro,” kata Gus Roy
Di luar pendidikan, Gus Roy dan jejaringnya juga melakukan pendampingan petani dan merintis gerakan energi bersih berbasis komunitas bersama organisasi masyarakat sipil seperti Greenpeace Indonesia dan Trend Asia.
Pesantren ini menunjukkan bahwa pendidikan agama bisa berjalan seiring dengan kesadaran ekologis. Bahwa menanam, mengelola energi, dan menjaga relasi sosial adalah bagian dari iman yang hidup.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


