Batu Layar adalah salah satu bebatuan yang berada di pinggir Pantai Larike, Maluku. Konon ada sebuah cerita rakyat dari Maluku yang mengisahkan legenda asal usul dari Batu Layar yang ada di Negeri Larike tersebut.
Simak kisah dari cerita rakyat Maluku tersebut dalam artikel berikut ini.
Legenda Asal Usul Batu Layar di Negeri Larike, Cerita Rakyat dari Maluku
Dikutip dari artikel Syarifa Munira Bin Thahir, "Legenda Batu Layar di Negeri Larike" dalam buku Antologi Cerita Rakyat Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease, alkisah pada zaman dahulu terdapat sebuah kapal yang sudah lama berlayar di laut lepas. Kapal ini dipimpin oleh seorang nahkoda yang bernama Amar.
Terhitung sudah lebih sebulan lamanya mereka berlayar di lautan. Hal ini membuat perbekalan yang ada di atas kapal kian menipis.
Keadaan ini disadari oleh Ahmad, salah seorang awak di kapal tersebut. Dirinya kemudian bertanya ke Amar berapa lama mereka akan berlayar.
Amar menjawab bahwa dia juga belum tahu berapa lama lagi mereka ada di lautan lepas. Sebab tidak terlihat sedikitpun daratan yang ada di sekitar mereka.
Dirinya kemudian meminta Ahmad dan awak kapal lain untuk bersabar. Dia juga berharap agar diberi petunjuk dan jalan keluar dari masalah yang tengah mereka alami.
Beberapa hari berlalu, suasana di atas kapal kian mencekam. Cuaca panas dan angin kencang menerjang kapal mereka selama berhari-hari.
Di tengah situasi yang mencekam, secercah harapan muncul. Dari kejauhan terlihat sebuah daratan dengan hamparan hutan yang hijau dan rimbun.
Hal ini membuat Ahmad dan awak kapal lainnya bersorak bahagia. Namun hal yang sama tidak dirasakan oleh Amar.
Dirinya justru merasa bimbang apakah mesti berlabuh di daratan itu. Di satu sisi, persediaan dan perbekalan di atas kapal mereka kian menipis.
Di sisi lain, dia juga khawatir jika pulau tersebut kosong tak berpenghuni. Tiba-tiba, Amar dan semua awak mendengar suara tertawa, "Ha.. ha.. haa" dari gunung yang ada di pulau tersebut.
Mendengar suara itu, Amar merasa lega dan menjawab kebimbangan yang dia rasakan. Akhirnya Amar mengarahkan kapal ke pulau tersebut.
Amar memotivasi semua awak kapal untuk mengayuh lebih cepat. Dia pun berteriak, "Rike! Rike! Rike!" yang berarti "Cepat" untuk menyemangati awak kapal.
Gemuruh ini bersahutan dengan suara yang berasal dari pulau tersebut. Sekilas terdengar kata, "Haharike, Haharike, Haharike" dari sorakan tersebut.
Akhirnya kapal Amar berhasil berlabuh di pulau tersebut. Ternyata mereka disambut dengan ramah oleh penduduk yang ada di sana.
Mereka kemudian diajak untuk berjalan ke arah pedalaman pulau. Setelah berjalan cukup lama, sampailah mereka di sebuah desa yang ada di kaki gunung di pulau tersebut.
Amar dan semua awak kapal kemudian sadar bahwa suara yang mereka dengar sebelumnya berasal dari desa tersebut. Mereka kemudian berbaur dan hidup bersama masyarakat yang ada di sana.
Tidak terasa sudah berbulan-bulan mereka menetap di sana. Amar dan semua wak kapal memutuskan untuk menetap di sana dan tidak melanjutkan perjalanan yang mereka jalani sebelumnya.
Daerah tersebut kemudian diberi nama Harike oleh masyarakat yang ada di sana. Hal ini sesuai dengan perpaduan suara yang didengar oleh Amar ketika berlayar di sana dulunya.
Ketika Portugis datang, nama daerah tersebut sempat diubah menjadi Larique. Setelah itu, nama daerah ini kemudian lebih dikenal sebagai Larike.
Seiring berjalannya waktu, kapal yang dulunya berlabuh di pinggiran pantai menjadi hancur karena dihantam gelombang laut. Perahu yang bernama Raja Wangi tersebut kemudian hancur lebur di pinggir pantai.
Layar dari kapal itu kemudian terdampar di Pantai Larike. Lambat laun layar kapal tersebut membatu dan dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama Batu Layar.
Begitulah kisah dari legenda asal usul Batu Layar yang ada di Negeri Larike, Maluku.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


