Legenda Buaya Learissa Kayeli merupakan salah satu cerita rakyat yang berasal dari daerah Maluku. Konon buaya ini tinggal di Pulau Haruku dan suka membantu masyarakat yang ada di sana.
Bagaimana kisah dari legenda Buaya Learissa Kayeli tersebut?
Cerita Rakyat dari Maluku, Legenda Buaya Learissa Kayeli
Disitat dari artikel Betsi P. Urlialy, "Buaya Learissa Kayeli Sang Pemberani" dalam buku Antologi Cerita Rakyat Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease, pada zaman dahulu di Pulau Haruku, hiduplah seekor buaya betina di tengah masyarakat. Buaya tersebut bernama Learissa Kayeli.
Masyarakat Pulau Haruku sangat menghormati dan menyayangi Learissa Kayeli. Sebab dirinya selalu menjaga masyarakat yang ada di sana.
Tidak hanya itu, Learissa Kayeli suka membantu masyarakat yang ada di sana. Jika ada yang meminta bantuannya, maka Learissa Kayeli akan langsung memberikan bantuan yang mereka butuhkan.
Pada suatu masa, tengah terjadi teror di tepi pantai Pulau Seram. Di sana ada seekor ular besar yang suka memangsa hewan-hewan yang ada di sana.
Para buaya yang ada di Pulau Seram menjadi kesulitan untuk mencari makan. Sebab mereka baru bisa mendapatkan makanan melimpah dengan dari pinggir pantai.
Bala bantuan juga sudah mereka datangkan. Ketua buaya Pulau Seram meminta bantuan pada jagoan buaya yang ada di Pulau Buru.
Namun ular besar tersebut tetap bisa mengalahkannya. Di tengah kebingungan tersebut, tiba-tiba ada seekor buaya yang memberikan ide kepada yang lainnya.
Buaya tersebut berkata bahwa dia pernah mendengar kabar ada seekor buaya betina yang sangat dihormati di Pulau Haruku. Dia menyebutkan bahwa buaya tersebut bernama Learissa Kayeli.
Harapan pun muncul di tengah mereka. ketua buaya kemudian mengirim utusan ke Pulau Haruku untuk meminta bantuan pada Learissa Kayeli.
Keesokan harinya, utusan ketua buaya tersebut kembali ke Pulau Seram bersama Learissa Kayeli. Buaya betina yang pada waktu itu tengah hamil tersebut bersedia memberikan bantuan untuk melawan ular besar.
Tidak tunggu lama, Learissa Kayeli langsung menghampiri sarang raja ular yang ada di pinggir pantai. Dirinya langsung menantang raja ular tersebut untuk bertarung satu sama lain.
Raja ular tentu menyambut Learissa Kayeli dengan sombongnya. Dia merasa yakin bisa mengalahkan buaya betina tersebut dengan mudah.
Pertarungan antara Learissa Kayeli dan raja ular akhirnya pecah. Kedua hewan sakti tersebut saling bertarung satu sama lain dengan sengitnya.
Pada satu kesempatan, raja ular berhasil melilit Learissa Kayeli dan menggigitnya. Namun Lewarissa Kayeli bisa melepaskan lilitan tersebut dan melancarkan serangan.
Pertarungan antara raja ular dan Learissa Kayeli berlangsung selama berhari-hari lamanya. Para buaya yang ada di Pulau Seram hanya bisa menyaksikan pertarungan tersebut dan berharap Learissa Kayeli dapat selamat dan mengalahkan raja ular.
Tepat pada hari keempat pertarungan, kedua hewan ini terlihat mulai kelelahan. Namun mereka masih bertekad untuk mengalahkan antara satu sama lain.
Dalam sebuah kesempatan, Learissa Kayeli melihat peluang untuk menyerang raja ular. Momentum ini tidak dia sia-siakan dan langsung mengebaskan ekornya ke raja ular.
Serangan ini membuat raja ular terjatuh tak sadarkan diri. Melihat hal ini, Learissa Kayeli langsung memerintahkan ketua buaya dan anggotanya untuk segera menghabisi raja ular tersebut.
Tidak menunggu lama, para buaya langsung menyerang raja ular. Akhirnya teror raja ular di Pulau Seram berakhir saat itu juga.
Para buaya berterima kasih kepada Learissa Kayeli atas jasanya. Learissa Kayeli kemudian pamit untuk kembali ke Pulau Haruku.
Tubuh Learissa Kayeli yang luka-luka akibat pertarungan tersebut membuatnya tidak kuat kembali ke Pulau Haruku. Di tengah perjalanan, dirinya terdampar di Desa Weii.
Kemunculan buaya betina ini tentu membuat masyarakat Desa Weii takut. Mereka langsung mengerubungi Learissa Kayeli dan hendak membunuhnya.
Namun Learissa Kayeli memohon agar masyarakat tidak membunuhnya karena sedang mengandung. Dirinya kemudian meminta agar masyarakat menusuk perutnya dengan lidi jika takut dengan keberadaannya.
Selain itu, dia meminta agar anak-anaknya dibiarkan kembali ke Pulau Haruku. Masyarakat Desa Weii kemudian memenuhi permintaan buaya betina tersebut.
Ketika perutnya ditusuk dengan lidi, tiba-tiba anak-anak Learissa Kayeli keluar dari perutnya. Buaya betina tersebut kemudian berpesan agar anak-anaknya kembali ke Pulau Haruku, tempat mereka berasal sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


