Pulau Molana adalah salah satu pulau yang ada di antara Negeri Haria dan Negeri Aboru di Maluku. Konon ada sebuah cerita rakyat dari Maluku yang menceritakan tentang legenda asal usul Pulau Molana tersebut.
Bagaimana kisah dalam legenda asal usul Pulau Molana yang ada di Maluku tersebut?
Legenda Asal Usul Pulau Molana, Cerita Rakyat dari Maluku
Disitat dari artikel Risna J. Muskitta, "Pulau Molana" dalam buku Antologi Cerita Rakyat Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease, alkisah pada zaman dahulu di Negeri Aboru terdapat sebuah batu dan pohon besar yang tumbuh di pinggir pantai. Pohon dan batu ini membuat pemandangan di pantai tersebut menjadi indah.
Tidak heran orang-orang di Negeri Aboru menyenangi batu dan pohon tersebut. Begitupun dengan seekor anjing besar yang hidup di Negeri Aboru dulunya.
Pada suatu hari, anjing besar ini tengah bermain di dekat batu dan pohon besar tersebut. Ketika asyik bermain, anjing besar ini menggonggong dengan kerasnya.
Hal ini ternyata membuat batu dan pohon besar tersebut ketakutan. Akhirnya mereka meninggalkan pantai di Negeri Aboru.
Batu dan pohon besar ini terus berjalan menjauh. Setelah sekian lama, sampailah batu dan pohon besar ini di Negeri Haria.
Ketika mendekati Negeri Hari, batu dan pohon besar ini tiba-tiba berubah menjadi sebuah pulau. Pulau ini memiliki ukuran yang lebih kecil jika dibandingkan pulau-pulau lain yang ada di sekitarnya.
Meskipun demikian, pulau ini memiliki kondisi alam yang indah. Pulau yang tidak berpenghuni tersebut berada di antara Negeri Aboru dan Negeri Haria.
Pada suatu waktu, terjadi perselisihan antara orang-orang dari Negeri Aboru dan Negeri Haria. Tidak ada yang mau mengalah antara satu sama lain dalam pertengkaran tersebut.
Melihat masalah yang terus berlarut, akhirnya muncul kesepakatan di antara mereka. Orang Aboru dan Haria sepakat untuk mengadakan perlombaan penggayo perahu.
Dalam perlombaan ini, orang Aboru dan Haria akan berpacu untuk mencapai pulau yang ada di antara kedua negeri mereka. Orang Aboru dan Haria pun sepakat dengan perlombaan tersebut.
Panitia perlombaan pun kemudian dibentuk. Masing-masing perahu kemudian diletakkan di kedua negeri tersebut.
Perahu orang Aboru diletakkan di pinggir Pantai Aboru. Begitu pula dengan perahu orang Haria yang berada di pinggir Pantai Haria.
Orang-orang Aboru dan Haria mengirimkan peserta terbaiknya untuk mengikuti perlombaan tersebut. Masyarakat juga berbondong-bondong berdatangan untuk menyaksikan perlombaan itu.
Semua peserta kemudian menaiki perahunya masing-masing. Panitia perlombaan kemudian memberikan aba-aba untuk memulai pertandingan.
Para peserta mengerahkan tenaganya semaksimal mungkin. Baik orang Aboru maupun Haria sama-sama ingin memenangkan perlombaan tersebut.
Ternyata pendayung dari Haria berhasil memenangkan perlombaan tersebut. Kemenangan ini disambut sorak sorai dari masyarakat Negeri Haria.
Mereka kemudian mengadakan pesta di pulau tidak berpenghuni tersebut untuk merayakan kemenangan. Ketika sedang asik berpesta, salah seorang kemudian bertanya apa nama dari pulau tersebut.
Salah seorang kemudian menyeletuk dan berkata jika pulau tersebut diberi nama Pulau Mau Mana. Namun hal ini ditolak oleh para tetua adat.
Tetua adat kemudian menyarankan agar pulau tersebut diberi nama Pulau Molana. Semua masyarakat pun setuju dengan saran tersebut.
Setelah puas berpesta, masyarakat Negeri Haria kemudian kembali ke daerahnya masing-masing. Begitupun dengan masyarakat Aboru yang menerima kekalahan dengan lapang dada dan kembali ke tempat asal mereka.
Sejak saat itu tidak ada lagi perselisihan yang terjadi antara orang-orang Negeri Aboru dan Negeri Haria.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


