mengenal tan hoan liong pecatur top indonesia yang sering dikira legenda persija - News | Good News From Indonesia 2026

Mengenal Tan Hoan Liong, Pecatur Top Indonesia yang Sering Dikira Legenda Persija

Mengenal Tan Hoan Liong, Pecatur Top Indonesia yang Sering Dikira Legenda Persija
images info

Mengenal Tan Hoan Liong, Pecatur Top Indonesia yang Sering Dikira Legenda Persija


Sejarah olahraga Indonesia memiliki kekayaan cerita menarik sehingga sering dituturkan kembali demi menghadirkan rasa bangga kepada generasi penerus terhadap perjuangan atlet tanah air zaman dahulu. Celakanya para penutur tidak jarang menyajikan kisah yang mengandung kekeliruan.

Biasanya kekeliruan itu lahir karena nama atlet Indonesia tempo dulu kerap memiliki nama identik satu dengan lainnya. Alhasil para penutur yang tidak dibekali pengetahuan, referensi, sikap kritis, dan proses verifikasi lebih lanjut bisa “kegocek” saat memaparkan kisah salah satu di antara mereka.

Kekeliruan semacam itu misalnya bisa dilihat dalam buku Dokter Bola Indonesia, drg. Endang Witarsa (Liem Soen Joe) karya H. Isyanto. Di situ disebutkan bahwa Endang Witarsa adalah pemain Timnas Indonesia untuk Olimpiade Melbourne 1956. Itu keliru, karena faktanya “Witarsa” yang membela Indonesia di ajang tersebut ialah Aang Witarsa, pesepak bola asal Kota Bandung.

Endang Witarsa sendiri juga merupakan orang bola yang terkenal di Indonesia bahkan sejak zaman Hindia Belanda. Akan tetapi, pada tahun itu ia sudah terjun ke dunia kepelatihan dan tidak pernah sekalipun memperkuat tim nasional.

Kekeliruan fatal bisa dilihat juga dalam unggahan tim sepak bola Persija Jakarta beberapa tahun lalu. Saat itu, mereka mengucapkan ulang tahun kepada pemain legendanya, Tan Liong Houw. Sayangnya dalam grafis unggahannya mereka memajang sosok lain yang sebenarnya adalah pemain catur top Indonesia yang menyandang gelar Master Internasional yaitu Tan Hoang Liong.

Imbangi Grandmaster Catur

Nama sosok pemain catur Indonesia tersebut ialah Tan Hoan Liong atau Tan Hiong Liong. Sama seperti Tan Liong Houw, Tan Hoan Liong juga merupakan orang Indonesia peranakan Tionghoa.

Tan Liong Houw, legenda sepak bola Persija dan Timnas Indonesia. Tentu dari foto ini bisa dilihat parasnya berbeda dengan Tan Hoan Liong sang pecatur yang memiliki struktur wajah oval. (Sumber: X/@ravandolie)
info gambar

Tan Liong Houw, legenda sepak bola Persija dan Timnas Indonesia. Tentu dari foto ini bisa dilihat parasnya berbeda dengan Tan Hoan Liong sang pecatur yang memiliki struktur wajah oval. (Sumber: X/@ravandolie)


Tan Hoan Liong adalah putra Tan Eng Djin yang lahir di Bogor, Jawa Barat pada 20 Agustus 1938. Sejak zaman Jepang, Tan Hoan mengasah bakat caturnya dengan melawan kakaknya sendiri Hoan Boen yang menyandang runner-up kejuaran catur Jakarta 1949-1950.

Permainan Tan Hoan lantas berkembang setelah pindah ke Bandung. Di kota tersebut ia bergabung klub catur Sin Ming Hui dan di situlah teori dan taktik bermainnya kian berkembang.

Tan Hoan yang masih remaja pelan-pelan dikenal namanya di dunia catur nasional. Ia pun diberi kesempatan bertanding melawan jago catur Belanda, Lodewijk Prins yang bertamu ke Indonesia pada 1956. Saat itu Tan Hoan menjadi salah seorang yang menang ketika meladeni Prins dalam pertandingan catur simultan.

Setelah lulus SMA pada tahun tersebut, Tan Hoan kemudian melanjutkan studi pendidikan tinggi ke Belanda. Di negeri kincir angin mahasiswa jurusan Matematika ini bergabung dengan klub Verenigd Amsterdams Schaakgenootschap. Kemampuannya kian meningkat dan bahkan sampai pernah menyandang juara catur Amsterdam pada 1958.

Ferry Sonneville pada saat yang sama juga ada di Belanda untuk kuliah. Sosok kapten tim bulu tangkis Indonesia saat merebut Piala Thomas 1958 itu adalah saksi mata perkembangan permainan catur Tan Hoan selama di Belanda. Melalui rubrik “Ruang Tjatur” majalah Star Weekly edisi 23 Juli 1960, Ferry lalu melaporkan bahwa Tan Hoan semakin andal dan mulai pantas menyandang gelar Master Internasional. Penilaian itu diberikannya setelah Tan Hoan mampu berbagi gelar juara dengan Grandmaster Belanda, Jan Hein Donner dalam “Ritmeester Toernooi”.

“Menurut saya sudah dapat dipastikan bahwa Tan Hoan Liong tidak lama lagi akan mencapai gelar meester. Orang-orang yang kenal permainannya menyatakan pada saya bahwa tingkat permainannya sudah lama mencapai mutu meester,” kata Ferry.

Nama Melejit di Olimpiade Catur

Indonesia mendapat kesempatan mengikuti ajang Olimpiade Catur yang digelar oleh Federasi Catur Dunia, Fédération Internationale des Échecs(FIDE) pada 26 Oktober – 9 November 1960. Seleksi pun dilakukan. Ajang pertempuran jago catur dari banyak negara yang digelar dua tahunan itu pada tahun tersebut diadakan di Leipzig, Jerman.

Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) pun berbenah. Mereka harus mengirim lima wakil ke sana, sehingga mesti menggelar seleksi mempersiapkan diri pada tengah tahun.

Menariknya, Percasi langsung meloloskan Arovah Bachtiar dan Tan Hoan Liong karena keduanya sudah dianggap mumpuni untuk dimajukan. Alhasil, slot tersisa tiga di mana kemudian diisi oleh jago catur level nasional yang lain yaitu Max Wotulo, Abubakar Baswedan, dan Hasian Panggabean.

Tan Hoan sebelum Olimpiade Catur sudah mempersiapkan diri. Ia ikut dalam rombongan tim Belanda dalam turnamen mahasiswa antarbangsa di Leningrad, Uni Soviet. Amerika Serikat juara, Uni Soviet runner-up, sementara Belanda kalah. Namun, bagi Tan sendiri itu adalah kemenangan karena pengalamannya menjadi bertambah.

Kemampuan Tan Hoan meningkat dan itu ditunjukkannya dengan baik di Leipzig. Dalam perebutan medali individu ia berbagi gelar dengan wakil Mongolia, Lhamsuren Myagmarsuren di Papan Keempat.

Semakin Populer di Belanda

Seusai Olimpiade, Tan kembali ke Belanda di mana namanya kian berkibar di sana. Namanya kian harum karena menjadi juara kompetisi catur seantero Belanda pada Mei 1961.

“Dunia catur Belanda memiliki juara baru: Mahasiswa matemarika Indonesia berusia 22 tahun, Tan Hoan Liong. Kejuaraan yang dimenangkan oleh warga negara asing merupakan hal baru,” lapor surat kabar De Telegraaf dalam artikel “Schaaktechnisch Blonk de Kampioen Tan Uit” terbitan 30 Mei 1961.

Tan Hoan Liong dengan trofi juara catur Belanda pada 1961. (Sumber: De Volkskrant)
info gambar

Tan Hoan Liong dengan trofi juara catur Belanda pada 1961. (Sumber: De Volkskrant)


Puncak popularitasnya bisa dibilang didapatkan Tan Hoan pada 1963. Saat itu ia sukses memenuhi syarat meraih gelar Master Internasional yang diberikan oleh FIDE.

“Juara catur Belanda berkebangsaan Indonesia ini menjadi pusat perhatian kemarin selama babak kedua belas Turnamen Catur Hoogoven. Dengan permainan konsisten, ia berhasil memaksa (Alberic) O’Kelly dari Belgia bermain imbang, sehingga total poinnya menjadi enam, cukup untuk memenuhi syarat meraih gelar Master Internasional,” lapor Twentsch Dagblad Tubantia dalam artikel “Schaken – Tan Bereikte de Meestertitel” terbitan 22 Januari 1963.

Tan Hoan Liong saat beraksi merebut titel Master Internasional pada 21 Januari 1963. Tampak berdiri di sampingnya Carel van den Berg, pecatur Belanda yang juga meraih gelar yang sama pada tahun tersebut. (Sumber: Algemeen Handelsblad)
info gambar

Tan Hoan Liong saat beraksi merebut titel Master Internasional pada 21 Januari 1963. Tampak berdiri di sampingnya Carel van den Berg, pecatur Belanda yang juga meraih gelar yang sama pada tahun tersebut. (Sumber: Algemeen Handelsblad)


Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dimas Wahyu Indrajaya lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dimas Wahyu Indrajaya.

DW
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.