Guru Besar IPB University, Prof. Dr. Arief Sabdo Yuwono, menilai Indonesia sudah memasuki fase darurat sampah. Ketergantungan pada Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dengan sistem open dumping menjadi akar persoalan.
Memang, masalah sampah di kota-kota Indonesia telah menjadi persoalan yang kompleks. Dampaknya bisa merambah ke sektor kesehatan, lingkungan, dan tata kelola.
Penimbunan sampah pun tidak bisa lagi dilakukan. Apalagi, sampah juga banyak berasal dari bahan-bahan yang sulit didaur ulang. Oleh karena itu, pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste-to-energy (WtE) mulai dipandang sebagai bagian dari solusi alternatif.
“Dalam kondisi ini, WtE dapat berfungsi sebagai instrumen pengelolaan sampah yang efektif, selama diterapkan dengan prasyarat teknologi dan lingkungan yang ketat,” kata Arief dalam diskusi yang digelar Tenggara Strategic di Jakarta.
Arief tidak menutup mata pada realitas di lapangan. Sistem open dumping di banyak TPA memicu pencemaran tanah, air, dan udara. Limbah cair atau air lindi merembes ke tanah dan berpotensi mencemari tanah bahkan air. Bau menyengat menjadi keluhan harian warga. Belum lagi lalat berkembang dan membawa risiko penyakit.
Dalam kondisi ini, WtE menawarkan pendekatan yang sebenarnya solusi lama tapi dengan pembaruan. Sampah diproses dengan cara dibakar. Tapi, jelas bukan pembakaran konvensional.
Apa yang Dimaksud Waste-to-Energy?
Kawan, waste-to-energy adalah pendekatan pengelolaan sampah yang diperlakukan sebagai sumber energi. Sampah dibakar dan panas yang dihasilkan dari proses pengolahan dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik.
“Panas hasil pembakaran selanjutnya dapat dikonversi menjadi energi listrik yang berkontribusi pada penurunan emisi karbon nasional,” kata Arief.
Berbeda dengan TPA konvensional yang membutuhkan lahan luas dan waktu lama, WtE dirancang bekerja cepat. Sampah diolah dalam sistem tertutup dan menghasilkan sisa akhir yang jauh lebih sedikit.
“WtE berpotensi mempercepat waktu pengolahan sampah sekaligus mereduksi volumenya secara signifikan,” ujar Arief.
Tapi perlu dicacat juga bahwa WtE tidak berdiri sendiri. WtE menuntut pemilahan sampah, pengendalian emisi, serta pengawasan yang konsisten.
Artinya, WtE tidak hanya berbicara soal sampah, tapi juga terkait dengan agenda transisi energi dan upaya menekan emisi karbon.
Insinerator sebagai Inti Sistem WtE
Dalam praktiknya, WtE dijalankan melalui fasilitas yang disebut insinerator. Inilah komponen utama yang mengolah sampah menjadi panas.
Insinerator bekerja dengan membakar sampah dalam ruang tertutup pada suhu tinggi dan terkontrol. Tujuannya adalah memastikan pembakaran berlangsung stabil dan aman. Dalam proses pemanasan, mikroorganisme penyebab penyakit akan hancur. Panas yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik. Kabar baiknya, sisa sampah dari porses ini juga lebih sedikit.
“Insinerator modern mampu mengurangi volume sampah hingga lebih dari 90 persen dengan standar pengendalian emisi yang ketat,” jelas Arief.
Dalam sistem modern, insinerator dilengkapi pengendalian emisi berlapis. Gas buang tidak dilepas mentah-mentah tetapi disaring dan dinetralkan sebelum keluar melalui cerobong.
Sebagaimana yang disoroti Arief, sistem flue gas treatment perlu dalam proses pembakaran. Flue gas treatment yakni teknologi pengendalian gas buang hasil pembakaran.
Sistem ini berfungsi menyaring partikel berbahaya sebelum dilepas ke udara. Tanpa pengendalian ketat, WtE justru berpotensi menciptakan masalah baru.
“Insinerator itu memang cara efektif untuk menyelesaikan sampah dalam waktu yang singkat, tetapi harus dijalankan dengan tata kelola dan pengawasan yang kuat agar benar-benar menjadi solusi, bukan sumber masalah baru,” katanya.
Tantangan Utama: Sampah Indonesia Itu Basah
Teknologi WtE dinilai mampu membantu menurunkan emisi kebauan, memperbaiki sanitasi lingkungan, serta mengurangi produksi air lindi dan populasi lalat sebagai vektor penyakit.
Namun Arief menegaskan, WtE bukan teknologi serba cocok. Kunci utamanya ada pada karakteristik sampah nasional. Sampah perkotaan Indonesia masih didominasi sampah organik dengan kadar air tinggi.
“Teknologi harus dipilih setelah karakteristik sampah diketahui, bukan sebaliknya,” ujar Arief dalam keterangannya kepada media di Jakarta, Rabu (21/01/26).
Sampah yang basah membutuhkan pengolahan awal. Pemilahan di sumber menjadi penting. Tanpa itu, proses pembakaran tidak efisien dan berisiko bagi lingkungan.
Arief menyebut sejumlah kota dunia yang berhasil mengelola WtE dengan pendekatan lingkungan yang ketat. Di antaranya Osaka dan Yokohama di Jepang, Zurich di Swiss, serta Dubai. Praktik serupa juga dijalankan di Tiongkok, Singapura, Jerman, dan Belgia.
Keberhasilan itu, menurutnya, ditopang oleh pengawasan lingkungan yang transparan dan berkelanjutan. Fokusnya satu, melindungi kesehatan masyarakat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


