Selama hampir tiga dekade, langit Nusantara telah dijaga oleh deru mesin Rolls-Royce Adour milik armada BAE Hawk 109/209. Didatangkan pada pertengahan 1990-an untuk memperkuat Skadron Udara 1 dan Skadron Udara 12. Jet tempur ringan buatan Inggris ini pernah menjadi tulang punggung kekuatan udara Indonesia dalam berbagai operasi kedaulatan. Namun, waktu tidak bisa dilawan. Memasuki tahun 2026, teknologi analog dan sistem avionik pada Hawk mulai menunjukkan keterbatasan di tengah perkembangan peperangan elektronik yang kian kompleks. Suku cadang yang semakin langka serta biaya perawatan yang melonjak membuat armada ini mulai kehilangan efisiensi operasionalnya.
Kesadaran akan usangnya teknologi lama inilah yang mendorong Kementerian Pertahanan RI untuk melirik Leonardo M-346 F Block 20 sebagai pengganti yang sepadan. Penandatanganan Letter of Intent (LoI) di Singapore Airshow 2026 menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia siap meninggalkan era analog menuju digitalisasi kekuatan udara. M-346 bukan sekadar pesawat baru. Ia adalah jembatan teknologi yang dibutuhkan untuk melatih pilot TNI AU agar siap mengawaki jet generasi terbaru seperti Rafale atau F-15ID.
Jembatan Menuju Teknologi Digital
Perbedaan paling mendasar antara armada lama dengan M-346 F terletak pada arsitektur digitalnya. Jika Hawk masih mengandalkan instrumen dial mekanik yang banyak diperbarui secara parsial. M-346 sejak awal dirancang sebagai pesawat digital penuh. Varian Block 20 yang dipilih Indonesia mengusung kokpit masa depan dengan Large Area Display (LAD).

M-346 menggunakan dua mesin turbofan Honeywell F124-GA-200 | Adrian Pingstone. - Public Domain,
Layar tunggal berukuran besar ini memberikan kesadaran situasional yang jauh lebih tinggi bagi pilot. Teknologi ini identik dengan apa yang ditemukan pada jet tempur kelas atas masa kini. Dengan berlatih di M-346. Pilot tidak akan lagi mengalami gegar budaya saat harus mengoperasikan sistem radar dan navigasi pada jet tempur garis depan karena logika pengoperasiannya yang serupa.
Keunggulan Radar dan Sensor Modern
Salah satu fitur kunci yang membuat varian Block 20 begitu istimewa adalah integrasi radar AESA (Active Electronically Scanned Array). Radar ini memungkinkan pesawat mendeteksi sasaran dari jarak yang lebih jauh dengan presisi tinggi. Keunggulan radar AESA dibandingkan radar konvensional pada armada lama adalah kemampuannya untuk melacak banyak target sekaligus tanpa kehilangan fokus pada target utama.

M-346 Block 20 dirakit di Italia | Foto Leonardo
Selain radar. Pesawat ini dilengkapi dengan sistem Link 16. Ini adalah jalur komunikasi data militer yang memungkinkan M-346 bertukar informasi secara otomatis dengan unit lain. Seperti kapal perang. Pesawat radar (AWACS). Hingga baterai pertahanan udara di darat. Kemampuan ini memastikan bahwa M-346 tidak terbang sendirian tetapi menjadi bagian dari ekosistem pertahanan yang saling terhubung secara real-time.
Performa Mesin Ganda untuk Keamanan
Berbeda dengan Hawk yang menggunakan mesin tunggal. M-346 menggunakan dua mesin turbofan Honeywell F124-GA-200. Penggunaan mesin ganda memberikan tingkat keamanan yang jauh lebih tinggi bagi para instruktur dan siswa penerbang. Jika salah satu mesin mengalami gangguan di tengah misi atau saat melakukan patroli di atas lautan luas. Pesawat masih memiliki cadangan tenaga untuk kembali ke pangkalan dengan aman.
Mesin ini juga sangat efisien dalam penggunaan bahan bakar namun tetap mampu memberikan performa tinggi untuk manuver ekstrem. Struktur badan pesawat yang menggunakan material komposit ringan membuat M-346 sangat lincah di udara. Menjadikannya lawan tanding yang sangat kompetitif dalam simulasi pertempuran udara jarak dekat (dogfight).
Kemampuan Tempur Nyata
Meski menyandang predikat jet latih. Huruf "F" pada varian M-346 F menandakan fungsinya sebagai Fighter. Pesawat ini memiliki tujuh titik cantelan senjata yang mampu mengangkut beban hingga 3 ton. Indonesia bisa melengkapinya dengan rudal udara-ke-udara untuk perlindungan wilayah atau bom pintar berpemandu laser untuk menyerang sasaran di permukaan dengan akurasi tinggi.
Kemampuan pengisian bahan bakar di udara (Air-to-Air Refueling) juga menjadi keunggulan tambahan yang tidak dimiliki oleh Hawk versi lama secara maksimal. Fitur ini memungkinkan M-346 melakukan patroli lebih lama di wilayah perbatasan tanpa harus sering mendarat untuk mengisi tangki. Hal ini menjadikannya pesawat multifungsi yang sangat ekonomis namun efektif untuk menjaga kedaulatan ruang udara nasional.
Simulasi Canggih LVC
Kecanggihan paling unik dari sistem Leonardo adalah teknologi Live, Virtual, and Constructive (LVC). Melalui sistem ini. Pilot yang terbang secara nyata bisa berlatih melawan "musuh virtual" yang dimunculkan di layar radar oleh komputer pesawat. Bahkan. Pilot di udara bisa berinteraksi dengan rekannya yang berada di simulator di darat dalam satu misi yang sama.
Teknologi simulasi tertanam (Embedded Tactical Training System) ini membuat biaya latihan menjadi jauh lebih murah dibandingkan menerbangkan jet tempur berat. TNI AU tidak perlu menerbangkan banyak pesawat nyata hanya untuk menciptakan skenario latihan pertempuran yang kompleks. Semua bisa disimulasikan secara digital di dalam kokpit M-346 F Block 20.
Keterlibatan PT E-System Solutions Indonesia dalam kesepakatan ini juga menjamin bahwa alih teknologi dan pemeliharaan akan dilakukan di dalam negeri. Dengan demikian. Indonesia tidak hanya membeli alutsista baru. Tetapi juga membangun ekosistem pertahanan yang mandiri dan berkelanjutan untuk generasi mendatang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


