keputusan bustaman pada 1972 melahirkan rm sederhana masakan padang di bendungan hilir jakarta - News | Good News From Indonesia 2026

Keputusan Bustaman pada 1972: Melahirkan RM Sederhana Masakan Padang di Bendungan Hilir, Jakarta

Keputusan Bustaman pada 1972: Melahirkan RM Sederhana Masakan Padang di Bendungan Hilir, Jakarta
images info

Keputusan Bustaman pada 1972: Melahirkan RM Sederhana Masakan Padang di Bendungan Hilir, Jakarta


Sebelum menjadi jaringan rumah makan dengan ratusan cabang, RM Sederhana Masakan Padang hanyalah makanan gerobakan yang dijajakan di trotoar Bendungan Hilir. Dulu, lokasinya sangat dekat dengan got. Pelanggannya para karyawan kantor.

Setelah nama “Sederhana” menempel di ingatan banyak orang, merek tersebut pernah diperebutkan di pengadilan.

Cerita tentang RM Sederhana Masakan Padang cukup menarik. Di balik bisnis makanan yang besar itu, ternyata ada kisah seorang anak kampung yang hidup penuh cobaan. Namanya Bustaman.

Dari trotoar di Bendungan Hilir, Jakarta, Bustaman membangun usaha yang kelak menjadi legenda kuliner nasional.

baca juga

Masa Kecil Pemilik RM Sederhana Masakan Padang

Bustaman lahir di Tanah Datar, Sumatra Barat, pada 11 September 1942. Sejak kecil hidupnya sudah dipenuhi cobaan. Ia kehilangan ibunya saat berusia enam tahun. Tak lama, ayahnya menikah lagi dan pergi meninggalkan anak-anaknya.

Bustaman dan saudara-saudaranya hidup sendiri di Lintau Buo. Tanpa sokongan biaya, mereka terpaksa berhenti sekolah. Bustaman pun hanya menamatkan pendidikan sampai Sekolah Dasar.

Untuk bertahan hidup, ia bekerja serabutan. Keadaan makin sulit ketika rumah mereka hancur akibat longsor.

baca juga

Pada Februari 1954, ayahnya kembali dan mengajak Bustaman merantau ke Riau. Di usia 12 tahun, ia bekerja sebagai petani karet. Setahun kemudian, ia berpindah ke Jambi dan menjadi kernet angkot.

Di sana, Bustaman mulai melihat peluang. Ia memperhatikan kebiasaan para pekerja yang hampir selalu merokok. Ia lalu berhenti menjadi kernet dan berjualan rokok.

Usaha itu sempat membuat hidupnya membaik. Namun konflik di Jambi memaksanya meninggalkan semua yang sudah dibangun.

baca juga

Belajar dari Dapur Orang

Awal 1960-an, Bustaman bekerja di sebuah warung makan Padang milik kenalan keluarganya. Di sinilah ia mulai mengenal dunia kuliner.

Di warung Padang itu, Bustaman mengerjakan semua hal, mulai dari mencuci piring, mengulek bumbu, melayani pelanggan, dan belanja ke pasar.

Pengalaman itu jelas tidak mudah. Tapi dari situ Bustaman banyak belajar terkait bisnis dan pelayanan.

Usai bekerja di rumah makan itu, Bustaman merantau ke Jakarta. Awalnya, ia kembali berjualan rokok. Hidup di ibu kota jauh dari nyaman. Ia kerap berhadapan dengan preman dan Satpol PP.

Situasi itu membuatnya berpikir ulang. Ia ingin usaha yang lebih stabil.

baca juga

Merintis dari Trotoar Benhil dan Awal Nama “Sederhana”

Berbekal pada pengalamannya di warung makan Padang, pada 1972, Bustaman memulai usaha makanannya sendiri. Modalnya hanya sebuah gerobak. Lokasinya di atas trotoar, persis di samping got kawasan Bendungan Hilir. Ia menamai usahanya Rumah Makan Sederhana.

Tempatnya memang tidak ideal, namun makanannya cepat dikenal. Pelanggannya kebanyakan karyawan kantor di sekitar Benhil.

Masalah datang ketika ia kembali berhadapan dengan Satpol PP. Kali ini, gerobaknya disita. Bustaman lalu memutuskan untuk menyewa tempat tetap.

Ia sempat khawatir dan takut pelanggan mengira harga makanannya naik, mengingat lokasinya sudah lebih layak. Akan tetapi, kekhawatiran itu tidak terbukti. Pelanggan Bustaman justru bertambah.

baca juga

Bustaman Mulai Ekspansi

Kesuksesan di Benhil mendorong Bustaman membuka cabang, yakni RM Singgalang Jaya di Roxy pada 1975 dan RM Sederhana di Pasar Sunan Giri pada 1978.

Berbeda dari banyak rumah makan Padang saat itu, Bustaman menetapkan standar baru. Setiap cabang harus berada di ruko besar. Kapasitas minimal 60 kursi dengan kondisi bersih dan nyaman.

Strategi yang diterapkan ini mengubah persepsi. Rumah makan Padang tidak lagi identik dengan kelas bawah. Kalangan menengah atas mulai datang.

Setelah hampir sepuluh tahun, Bustaman menyatukan semua cabangnya dalam satu nama; RM Sederhana Masakan Padang. Pada 1997, nama “Sederhana” akhirnya dipatenkan.

baca juga

Waralaba Berbasis Rasa Memiliki

Untuk berkembang, Bustaman tidak mengandalkan modal pribadi. Ia memilih sistem waralaba. Ia menerapkan sistem kemitraan berbasis bagi hasil.

Tujuannya agar pengelola cabang merasa memiliki. Selain itu, agar mereka menjaga kualitas dan pelayanan dari RM Sederhana Masakan Padang.

Model ini terbukti efektif. Hingga kini, RM Sederhana Masakan Padang memiliki lebih dari 200 cabang di Indonesia dan negara tetangga.

baca juga

Sengketa Nama yang Menguji Warisan Usaha

Sukses dengan usahanya, Bustaman tidak lantas lepas dari ujian. Pada 2014, nama “Sederhana” menjadi sengketa hukum.

Bustaman sebelumnya memiliki rekan bisnis bernama Djamilus Djamil. Setelah berpisah, Djamilus mendirikan RM Sederhana Bintaro. Bustaman menggunakan nama RM Sederhana.

Masalah muncul karena kedua pihak sama-sama memakai nama “Sederhana”. Pihak Bustaman meminta penghapusan nama tersebut agar tidak membingungkan pelanggan.

Permintaan itu tidak diindahkan. Alasannya, pihak RM Sederhana Bintaro memiliki sertifikat merek dari Kementerian Hukum dan HAM.

Kasus ini berujung ke pengadilan. Mahkamah Agung akhirnya menetapkan kepemilikan merek RM Sederhana Masakan Padang kepada Bustaman sebagai pendiri asli.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.