Andaikan KH Muqoyyim memilih tetap nyaman di lingkungan Keraton Cirebon, mungkin Buntet Pesantren tidak pernah ada.
Namun ulama yang menjabat sebagai Mufti Kesultanan Cirebon itu memilih untuk membangun peradaban di luar keraton. Ketika pengaruh Belanda semakin kuat di lingkungan keraton, ia memilih meninggalkan pusat kekuasaan dan mengajar masyarakat biasa.
Dari langkah tersebut, lahir sebuah pesantren yang kini berusia hampir tiga abad, memiliki puluhan pondok, ribuan santri, dan masuk daftar pesantren tertua di Indonesia.
Berawal dari Penolakan terhadap Belanda
Sejarah Buntet Pesantren tidak bisa dilepaskan dari sosok KH Muqoyyim atau Mbah Muqoyyim, seorang Mufti Kesultanan Cirebon.
Menurut catatan sejarah yang dimuat dalam buku Sejarah Pondok Buntet Pesantren karya H. Amak Abkari dan sejumlah dokumen resmi pesantren, Mbah Muqoyyim memilih meninggalkan lingkungan keraton karena tidak sejalan dengan pengaruh kolonial Belanda yang semakin kuat saat itu.
Alih-alih tetap berada di pusat kekuasaan, ia memilih tinggal di tengah masyarakat dan mengajar agama.
Dari keputusan itulah sebuah pesantren sederhana lahir sekitar tahun 1750 M.
Awalnya hanya berupa langgar atau musala kecil dan beberapa kamar santri di kawasan Desa Bulak, sekitar setengah kilometer dari lokasi pesantren saat ini. Jejak awal tersebut masih bisa ditelusuri melalui situs makam yang berkaitan dengan Mbah Muqoyyim yang hingga kini tetap terawat.
Pilihan Mbah Muqoyyim meninggalkan kenyamanan lingkungan istana justru melahirkan salah satu pusat pendidikan Islam paling berpengaruh di Jawa Barat.
Masuk Daftar Pesantren Tertua di Indonesia
Usia Buntet Pesantren kini telah melampaui dua setengah abad.
Data Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang diumumkan dalam rangkaian peringatan Satu Abad NU pada 2023 menempatkan Buntet Pesantren sebagai salah satu pesantren tertua di Indonesia. Saat itu Buntet berada di urutan keenam dari 56 pesantren tertua yang terdata.
Fakta ini menunjukkan bahwa Buntet tidak hanya berhasil melewati masa kolonial, masa kemerdekaan, hingga era digital, tetapi juga tetap menjadi pusat pendidikan yang relevan bagi masyarakat.
Yang Unik, Sulit Membedakan Mana Santri dan Mana Warga
Ada satu hal yang membuat Buntet berbeda dari banyak pesantren lain. Di sini, batas antara santri dan masyarakat hampir tidak terlihat.
Sebagian besar kehidupan warga berputar di sekitar aktivitas kepesantrenan. Banyak penduduk merupakan keturunan kiai, alumni pesantren yang menetap, atau keluarga yang sejak lama hidup berdampingan dengan pesantren.
Dalam laman resmi Buntet Pesantren disebutkan setidaknya terdapat tiga kelompok masyarakat yang hidup di kawasan ini, yaitu keturunan kiai, masyarakat umum atau magersari, serta para santri.
Magersari adalah sebutan bagi warga yang awalnya merupakan santri, khodim (asisten kiai), atau sahabat para kiai yang kemudian menikah dan menetap di lingkungan pesantren.
Akibatnya, Buntet berkembang bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi menjadi komunitas sosial yang terbentuk selama ratusan tahun.
Dari Pesantren Salaf Menjadi Salaf-Modern
Perubahan zaman memaksa banyak lembaga pendidikan beradaptasi. Buntet memilih untuk mempertahankan tradisi lama tanpa menolak pendidikan modern.
Kepala Bidang Kepesantrenan YLPI Buntet Pesantren, KH Mohammad Luthfi, menyebut model pendidikan yang diterapkan sebagai pesantren salaf-modern.
"Selain mempertahankan tradisi lama dengan kitab kuningnya, tapi tidak menutup diri terhadap modernitas," kata KH Mohammad Luthfi.
Sistem salaf merujuk pada pola pendidikan tradisional yang berfokus pada kitab-kitab klasik karya ulama terdahulu. Santri mempelajari fiqih, tafsir, hadis, akhlak, tasawuf, hingga nahwu dan sharaf.
Sementara sistem modern diwujudkan melalui sekolah formal dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Menurut KH Mohammad Luthfi, kombinasi ini memungkinkan pesantren melahirkan lebih banyak profesi.
"Sehingga pesantren bukan saja bisa menciptakan kiai, tetapi juga bisa menciptakan teknisi yang santri, perawat yang santri, dan lain-lain," ujarnya.
Pesantren ini memiliki jaringan pendidikan formal yang lengkap, mulai dari Madrasah Ibtidaiyah Wathoniyah, MTs NU Putra dan Putri, MANU Putra dan Putri, SMK Mekanika, hingga perguruan tinggi seperti Akademi Keperawatan Buntet Pesantren dan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT).
Selain itu terdapat pula Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK), PKBM, serta berbagai lembaga kursus keterampilan.
Keberadaan lembaga-lembaga tersebut menunjukkan bahwa pendidikan pesantren kini tidak lagi hanya berbicara soal urusan keagamaan, tetapi juga keterampilan kerja dan pengembangan profesi.
Memiliki 65 Pondok dan Ribuan Santri
Saat ini terdapat sekitar 65 pondok yang bernaung di bawah Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet Pesantren.
Jumlah santri yang tinggal dan belajar di lingkungan pesantren mencapai sekitar 6.000 orang. Jika ditambah santri kalong dan siswa yang bersekolah di lembaga pendidikan Buntet, jumlahnya diperkirakan bisa menembus 10.000 orang.
Santri kalong adalah sebutan bagi pelajar yang mengikuti pengajian di pesantren tetapi tidak tinggal di asrama. Mereka datang untuk belajar lalu kembali ke rumah masing-masing setelah kegiatan selesai.
Kini, para santri Buntet Pesantren berasal dari berbagai daerah seperti Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Jabodetabek, Jawa Tengah, hingga wilayah lain di Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


