Jalan HR Rasuna Said adalah salah satu jalan protokol di ibu kota. Membentang sepanjang 4,9 kilometer, nama jalan ini diambil dari tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia, Hjjah Rangkayo (HR) Rasuna Said.
Jalan Rasuna Said terletak di kawasan Segitiga Emas (Golden Triangle) Jakarta. Segitiga emas sejatinya merupakan garis imajiner yang membentuk tiga sudut selayaknya segitiga di beberapa jalan utama, yakni, Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan M. H. Thamrin, Jalan H. R. Rasuna Said, serta Jalan Gatot Subroto.
Kawasan Segitiga Emas dikenal sebagai pusat kawasan bisnis, ekonomi, komersial, dan perdagangan (Central Business District/CBD). Banyak gedung perkantoran bertingkat di sekitarnya.
Jalan HR Rasuna Said, “Titik Kumpulnya” Kedutaan dan Pusat Bisnis
Merangkum dari berbagai sumber, Jalan HR Rasuna Said dibangun pada tahun 1973 di era pemerintahan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Pembangunannya rampung di tahun 1979 dan diresmikan oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Listrik (PUTL) kala itu, Ir. Sutami.
Sejak dahulu, kawasan di sekitar itu memang direncanakan sebagai Kompleks Kuningan Masa Depan. Kompleks ini dibuat untuk menampung kedutaan besar. Kemudian, kawasan tersebut dikembangkan sebagai Mega Kuningan.
Titik itu menjadi salah satu daerah termahal di Jakarta. Banyak negara-negara sahabat yang membuka gedung kedutaannya di sana, seperti Swiss, Rusia, Belanda, Singapura, India, Arab Saudi, Malaysia, dan sebagainya. Konon, sudah ada lebih dari 30 negara yang membuka kedutaan di kawasan Jalan HR Rasuna Said.
Jalan ini menjadi urat nadi yang sangat penting dalam hubungan diplomatik Indonesia dengan negara sahabat. Selain gedung kedutaan, banyak ada pula gedung kementerian, lembaga negara, perkantoran, pusat perbelanjaan, hingga rumah sakit di sekitarnya.
Jalan Rasuna Said juga semakin strategis karena dilewati jalur TransJakarta. Tak hanya itu, ada pula Stasiun MRT dan KRL yang semakin mempermudah akses dan mobilisasi masyarakat.
Siapa HR Rasuna Said?
Namanya jelas tak asing bagi sebagian besar telinga masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak, Rasuna Said adalah pejuang wanita asal Bumi Minang yang ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sekaligus hak-hak perempuan.
Wanita kelahiran 14 September 1910 di Kabupaten Agam, Sumatra Barat, itu lahir dari keluarga yang taat agama. Sejak kecil, ia dikenal pandai, cerdas, dan berani.
Rasuna Said pernah mengenyam pendidikan di Diniyah Putri Padang Panjang, di mana ia bertemu dengan Rahmah El Yunusiyah yang juga merupakan pejuang yang fokus pada pendidikan kaum wanita.
Semasa hidupnya, ia banyak terlibat dalam gerakan perjuangan. Menurutnya, setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, adalah pejuang. Di matanya, politik adalah bagian dari perjuangan.
Ia tercatat bergabung dengan Sarekat Rakyat (SR). Tak hanya itu, Rasuna Said juga berperan dalam pendirian Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI).
Sosoknya sangat lihai berpidato, utamanya saat mengecam Belanda. Bahkan, Rasuna Said dikatakan sebagai wanita pertama yang dihukum Speek Delict akibat menentang pemerintah kolonial saat itu. Akibatnya, ia dijatuhi hukuman beberapa bulan penjara.
Saat masa pendudukan Jepang, ia juga sempat ditangkap. Namun, saat itu penahanannya tidak lama, sehingga ia segera dibebaskan.
Di sisi lain, Rasuna Said turut banyak menulis. Tulisannya banyak menyoroti pergerakan dan perlawanan terhadap kolonialisme.
Rasuna Said berpulang pada tahun 1965. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.
Sebagai bentuk apresiasi atas jasa besarnya, Pemerintah Indonesia resmi menganugerahi Rasuna Said dengan gelar Pahlawan Nasional. Hal ini sesuai dengan SK Presiden RI No: 084/TK/Tahun 1974 tanggal 13 Desember 1974.
Di masa kini, namanya masih harum karena dipilih sebagai nama jalan arteri utama di Jakarta. Selain itu, ada pula Stasiun LRT Jabodebek yang menggunakan namanya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


