Rangkayo Rasuna Said atau R.A. Rasuna Said bukan hanya dikenal sebagai pahlawan nasional, tetapi juga sebagai salah satu jurnalis perempuan Indonesia paling berpengaruh pada masa awal pergerakan kemerdekaan.
Di tengah dominasi suara laki-laki dalam ruang publik Hindia Belanda, Rasuna Said hadir sebagai figur yang menembus batas, menjadikan pers dan mimbar sebagai alat perlawanan. Artikel ini mengulas secara mendalam kiprah Rasuna Said sebagai jurnalis perempuan Indonesia, sekaligus menempatkannya dalam konteks sejarah pers, politik, dan emansipasi perempuan.
Latar Sosial dan Intelektual
Rasuna Said lahir di Maninjau, Sumatra Barat, pada 14 September 1910, dari lingkungan Minangkabau yang relatif terbuka terhadap pendidikan perempuan. Tradisi matrilineal Minangkabau (pola yang menempatkan perempuan sebagai pusat garis keluarga dan warisan) memberi ruang bagi perempuan untuk belajar dan berperan di ruang sosial, meski tetap dibatasi kolonialisme dan sistem patriarki.
Sejak remaja, Rasuna sudah menunjukkan ketertarikan pada dunia kata, gagasan, dan perdebatan publik. Ia belajar di sekolah agama dan pendidikan modern, yang membentuk perspektif kritis terhadap kolonialisme Belanda dan ketidakadilan sosial.
Dari ruang kelas, ia melangkah ke ruang redaksi dan podium pidato. Di sinilah jurnalisme menjadi medium utama bagi Rasuna untuk menyampaikan gagasan kebangsaan dan emansipasi.
Bagi Rasuna Said, menulis bukan sekadar aktivitas literer, melainkan tindakan politik. Setiap artikel, pamflet, dan pidato merupakan upaya untuk membangkitkan kesadaran kolektif bahwa bangsa ini berhak menentukan nasibnya sendiri.
Dalam konteks ini, Rasuna dapat diposisikan sebagai jurnalis ideologis, yakni jurnalis yang sadar bahwa kata-kata memiliki daya transformasi sosial.
Rasuna Said dan Tradisi Pers Pergerakan
Sebagai jurnalis perempuan Indonesia, Rasuna Said aktif menulis di sejumlah media pergerakan, terutama yang berafiliasi dengan organisasi Islam dan nasionalis. Ia tercatat terlibat dalam pengelolaan dan penulisan di media seperti Raya, Menara Poetri, dan beberapa publikasi organisasi Sarekat Rakyat serta Persatuan Muslim Indonesia (PERMI).
Tulisan-tulisannya tajam, argumentatif, dan sering kali langsung menyasar struktur kolonial. Rasuna tidak hanya mengkritik kebijakan Belanda, tetapi juga menyentuh persoalan pendidikan, kemiskinan, serta subordinasi perempuan. Dalam banyak artikelnya, ia menegaskan bahwa kemerdekaan politik tidak mungkin tercapai tanpa kemerdekaan berpikir.
Keberanian Rasuna Said sebagai jurnalis perempuan Indonesia mencapai puncaknya ketika ia berani mengkritik pemerintah kolonial secara terbuka, baik melalui tulisan maupun pidato. Pada 1932, Rasuna menjadi perempuan pertama yang dijerat hukum spreekdelict, pasal kolonial yang mengkriminalisasi ujaran yang dianggap menghasut atau melawan pemerintah.
Penangkapan dan pemenjaraannya justru mempertegas posisi Rasuna sebagai simbol perlawanan pers. Ia membuktikan bahwa jurnalisme bukan ruang aman, melainkan medan konflik ideologis yang sarat risiko, terutama bagi perempuan pada masa itu.
Jurnalisme sebagai Perlawanan Ideologis
Berbeda dengan jurnalisme netral yang berkembang pasca-kemerdekaan, jurnalisme Rasuna Said berakar pada tradisi pers pergerakan. Dalam tradisi ini, wartawan tidak berpura-pura netral terhadap penjajahan. Sebaliknya, mereka secara sadar memihak pada pembebasan bangsa.
Rasuna menggunakan bahasa yang lugas, kadang konfrontatif, tetapi selalu berbasis argumen. Ia tidak hanya menuduh kolonialisme sebagai sistem penindasan, tetapi juga menjelaskan bagaimana kolonialisme bekerja melalui pendidikan yang timpang, ekonomi eksploitatif, dan hukum yang diskriminatif. Di sinilah kualitas intelektual Rasuna tampak sebagai jurnalis dimana kritiknya tidak berhenti pada slogan, tetapi pada analisis struktural.
Sebagai jurnalis perempuan Indonesia, Rasuna juga membawa isu gender ke dalam diskursus kebangsaan. Ia menolak anggapan bahwa perempuan hanya berperan di ruang domestik.
Baginya, perempuan adalah subjek politik yang memiliki hak untuk berbicara, menulis, dan memimpin. Dalam banyak tulisannya, Rasuna mengaitkan penindasan kolonial dengan penindasan terhadap perempuan, seolah mengatakan bahwa keduanya adalah wajah dari sistem dominasi yang sama.
Fakta Unik dan Jejak Sejarah Rasuna Said
Salah satu fakta unik tentang Rasuna Said adalah keberaniannya berpidato di hadapan publik laki-laki pada era ketika suara perempuan sering dianggap tidak pantas berada di ruang politik. Pidato-pidatonya terkenal berapi-api, penuh retorika, dan mampu memobilisasi massa. Banyak yang menyebut Rasuna sebagai “orator perempuan paling radikal” di Sumatra Barat pada masanya.
Selain itu, Rasuna juga dikenal sebagai jurnalis yang disiplin dan konsisten. Ia tidak sekadar menulis sesekali, melainkan menjadikan pers sebagai alat perjuangan jangka panjang. Bahkan setelah keluar dari penjara, Rasuna tetap aktif dalam dunia organisasi dan media.
Jejak sejarah Rasuna Said juga terlihat dalam penamaan salah satu jalan utama di Jakarta, Jalan H.R. Rasuna Said, yang menjadi bagian dari kawasan bisnis modern. Ironis sekaligus simbolik, karena jalan itu berdiri di atas sejarah seorang perempuan yang dahulu melawan struktur kekuasaan kolonial dengan kata-kata.
Relevansi Rasuna Said bagi Jurnalisme Indonesia Hari Ini
Membicarakan Rasuna Said sebagai jurnalis perempuan Indonesia bukan sekadar nostalgia sejarah. Ia memberikan kerangka etik dan politik bagi jurnalisme hari ini. Di tengah arus komersialisasi media dan banjir informasi digital, teladan Rasuna mengingatkan bahwa jurnalisme sejatinya berpihak pada kebenaran dan keadilan sosial.
Keberanian Rasuna menghadapi represi negara kolonial juga relevan dengan kondisi jurnalis modern yang kerap berhadapan dengan tekanan politik, ekonomi, dan hukum. Meski konteksnya berbeda, prinsip dasarnya tetap sama: jurnalis tidak boleh tunduk pada kekuasaan yang menindas.
Bagi jurnalis perempuan Indonesia masa kini, Rasuna Said adalah figur referensial yang menunjukkan bahwa gender bukan penghalang untuk menjadi suara kritis publik. Ia membuktikan bahwa perempuan mampu berada di garis depan produksi pengetahuan dan perlawanan politik.
R.A. Rasuna Said adalah lebih dari sekadar pahlawan nasional. Ia adalah jurnalis perempuan Indonesia yang meletakkan dasar bagi pers yang berani, kritis, dan berpihak pada rakyat tertindas. Melalui tulisan dan pidatonya, Rasuna mengubah kata menjadi senjata, dan media menjadi ruang perlawanan.
Dalam sejarah pers Indonesia, nama Rasuna Said layak ditempatkan sejajar dengan para tokoh besar laki-laki. Ia bukan pengecualian, melainkan bukti bahwa sejak awal, perempuan telah menjadi bagian integral dari perjuangan melalui jurnalisme.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


