Sekitar tahun 1909, KH Muhammad Munawwir pulang dari Makkah. Ia membawa bekal ilmu yang didapat setelah 21 tahun belajar.
Ia pulang ke rumah orang tuanya, KH Abdullah Rasyad yang berada di Kauman, Yogyakarta. Letaknya tepat di dalam benteng Keraton Yogyakarta, di sisi barat Alun-Alun Utara.
Di rumah kecil itu, ia mulai mengajarkan ilmunya. Pengajaran difokuskan pada Al-Qur’an.
“Pengajian Al-Qur’an menjadi konsentrasi sesuai dengan disiplin ilmu KHM Munawir…,” sebagaimana dikutip dari NU Online, 2012.
Saat itu, santrinya memang belum banyak. Tempatnya juga terbatas. Meski demikian, cara pengajaran yang diterapkan mudah diterima masyarakat sehingga seiring waktu, santri terus bertambah.
Nah yang menarik, KH Muhammad Munawwir tidak bergerak sendirian. Ada satu lagi tokoh berpengaruh di Kauman yang juga menggelar pendidikan untuk masyarakar sekitar kala itu. Ia adalah KH Ahmad Dahlan, sosok pendiri Muhammadiyah.
Rumah KH Abdullah Rasyad, ayah dari KH Muhammad Munawwir hanya berjarak beberapa meter dari rumah KH Ahmad Dahlan.
Keduanya—KH Muhammad Munawwir dan KH Ahmad Dahlan—sama-sama baru pulang dari tanah suci. Di Kauman, keduanya sama-sama mengajar. Tapi menurut catatan NU Online, cara dan konsep mengajar mereka berbeda.
“Dalam kiprahnya, kedua kiai muda tersebut menggunakan pola yang berbeda. KHM Munawir menggunakan sistem pesantren, sementara KH Ahmad Dahlan menggunakan sistem madrasi (klasikal).”
Santri yang Semakin Banyak Membuat Tempat Pengajaran Harus Berpindah
Setahun kemudian, sekitar tahun 1910, Kauman makin padat. Tak heran, sebab wilayah ini adalah jantung aktivitas religi.
Sebagai pusat peradaban santri dan kediaman para abdi dalem urusan agama, Kauman adalah zona paling mapan di zamannya.
Rumah KH Munawwir di sana pun tak lagi mampu menampung ledakan santri yang datang. Ia merencanakan untuk memindahkan pusat pendidikan ke kawasan lain.
Ulama asal Cirebon, KH Sa’id, saat itu memberikan saran untuk mencari lokasi di luar benteng keraton. Ini artinya, KH Munawwir diminta keluar dari area dalam keraton yang sudah mapan sebagai pusat aktivitas keagamaan, lalu mencari tempat baru di luar yang belum berkembang.
KH Munawwir harus merintis dari nol di wilayah yang belum punya tradisi keilmuan atau komunitas santri yang kuat.
Meski dinilai lebih berat, tapi perpindahan ini membuka peluang untuk membangun pusat keilmuan baru yang tumbuh secara mandiri.
Krapyak Jadi Identitas Baru
Pilihan itu akhirnya jatuh ke Krapyak. Tapi saat itu, Krapyak bukan seperti yang dikenal sekarang. Krapyak masih berupa lahan liar dan dikenal cukup rawan. Praktik keagamaan masyarakatnya pun belum kuat.
Namun bagi KH Munawwir, justru di situlah medan dakwah yang sesungguhnya. Sekitar tahun 1910–1911, ia memindahkan pengajian dari rumah sempit di Kauman ke kawasan di selatan kota itu.
Tahun-tahun berikutnya, nama KH Munawwir dan tempat ia mengajar semakin dikenal seantero Nusantara. Santri pun datang dari berbagai daerah.
Nama-nama seperti KH Arwani Kudus dan KH Muntaha Wonosobo pun muncul dari sini.
Mereka bukan sekadar alumni tetapi sekaligus menjadi pengajar di wilayahnya masing-masing. Dari Krapyak, jaringan itu menyebar.
Masa yang Sulit bagi Pesantren Krapyak
Tahun 1942 menjadi masa yang sulit bagi Pesantrean Krapyak. KH Munawwir wafat. Di saat yang hampir bersamaan, Jepang masuk ke Indonesia.
Selama dua tahun, pesantren nyaris tidak berjalan. Di tengah kondisi itu, keluarga memanggil KH Ali Maksum dari Lasem.
KH Ali Maksum adalah ulama besar yang kemudian menjadi pengasuh Pesantren Krapyak (Al-Munawwir) setelah masa KH Munawwir.
Ia berasal dari Lasem, Rembang—wilayah pesisir yang sejak lama dikenal sebagai pusat tradisi keilmuan Islam. Sosoknya dikenal alim, tenang, dan memiliki kedalaman ilmu, terutama dalam Al-Qur’an dan kitab-kitab klasik.
Ia memiliki hubungan keluarga dengan KH Munawwir, karena menikah dengan putrinya, Ny. Hj. Rr. Hasyimah Munawwir.
Berkat kepemimpinan KH Ali Maksum, pesantren kembali hidup dan berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang berpengaruh.
Krapyak yang Mulai Bangkit
Jika sebelumnya fokus pada Al-Qur’an, kini mulai ditambah pengajian kitab kuning. Kitab kuning adalah kitab klasik berbahasa Arab yang membahas fiqih, tafsir, dan hadis. Dari sini, Krapyak tidak hanya mencetak penghafal, tetapi juga pengkaji.
Perubahan itu berlanjut pada pembentukan sistem pendidikan yang lebih terstruktur. Muncul madrasah diniyah, madrasah huffadh, hingga jenjang lanjut seperti Al-Ma’had Al-‘Aly, bahkan pendidikan kejuruan. Pesantren yang awalnya sederhana pun berkembang menjadi kompleks pendidikan yang lebih lengkap.
Nama “Al-Munawwir” baru digunakan kemudian, untuk mengenang pendirinya. Pesantren ini disebut sebagai pesantren tertua di Yogyakarta.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


