kisah ponpes al asyariyah kalibeber lahir dari perang diponegoro hingga ciptakan al quran akbar - News | Good News From Indonesia 2026

Kisah Ponpes Al-Asy’ariyah Kalibeber: Lahir dari Perang Diponegoro hingga Ciptakan Al-Qur’an Akbar

Kisah Ponpes Al-Asy’ariyah Kalibeber: Lahir dari Perang Diponegoro hingga Ciptakan Al-Qur’an Akbar
images info

Kisah Ponpes Al-Asy’ariyah Kalibeber: Lahir dari Perang Diponegoro hingga Ciptakan Al-Qur’an Akbar


Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Asy’ariyah di Kalibeber, Wonosobo, adalah salah satu pesantren tertua di Jawa. Ponpes ini lahir pasca perang dan lolosnya seorang prajurit dari kejaran Belanda.

Tentu menarik untuk dibahas. Dari pelarian, Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Asy’ariyah kini menjadi ponpes besar yang menaungi berbagai jenjang pendidikan formal.

Sejarah pesantren ini tidak bisa dilepaskan dari Perang Diponegoro, perang besar yang meletus pada 1825–1830. Konflik itu berakhir dengan penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Belanda di Magelang pada tahun 1830.

baca juga

Penangkapan tersebut terjadi pada hari kedua Idulfitri, bulan Syawal, ketika Pangeran Diponegoro memenuhi undangan Residen Kedu. Undangan itu ternyata jebakan yang disusun Jenderal De Kock.

Sejak saat itu, para pengikut Diponegoro diburu dan dilucuti. Namun tidak semuanya tertangkap.

Salah satu yang berhasil lolos adalah Raden Hadiwijaya. Untuk menghindari kejaran Belanda, ia menggunakan nama samaran KH. Muntaha bin Nida’ Muhammad.

Catatan sejarah pesantren menyebutkan, pada 1832, KH. Muntaha tiba di Desa Kalibeber, wilayah yang saat itu menjadi pusat Kawedanan Garung. Kedatangannya diterima oleh tokoh setempat bernama Mbah Glondong Jogomenggolo.

baca juga

Di Dusun Karangsari, Ngebrak, Kalibeber, KH. Muntaha mendirikan sebuah masjid dan padepokan santri di tepi Sungai Prupuk. Dari situlah pendidikan Islam mulai ditanamkan dan dikenalkan kepada masyarakat setempat.

Saat itu, materi yang diajarkan KH. Muntaha masih bersifat dasar. Masyarakat dan santri belajar membaca dan menulis Al-Qur’an. Tak hanya itu, Tauhid dan Fikih juga menjadi pelajaran utama.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat sekitar memeluk Islam atas kesadaran sendiri, tanpa paksaan. Kebiasaan lama seperti berjudi, menyabung ayam, dan minum khamr mulai ditinggalkan.

baca juga

Pindah dari Bantaran Sungai ke Kauman Kalibeber

Ajaran KH. Muntaha berhasil diterima masyarakat. Jumlah santri pun terus bertambah. Padepokan di tepi Sungai Prupuk tidak lagi mampu menampung semuanya. Masalah alam juga muncul. Sungai kerap meluap dan membanjiri kawasan pesantren.

Tokoh PPTQ Al-Asy’ariyyah
info gambar

Tokoh PPTQ Al-Asy’ariyyah


 

Kondisi itu mendorong pemindahan pusat kegiatan pendidikan ke lokasi baru yang kini dikenal sebagai Kauman, Kalibeber. Daerah selatan pesantren yang sebelumnya dihuni komunitas etnis Tionghoa perlahan ditinggalkan. Meski begitu, jejak sejarahnya tetap hidup melalui nama Gang Pecinan yang masih digunakan hingga sekarang.

Muntaha wafat pada 1860, setelah sekitar 26 tahun memimpin pesantren. Estafet perjuangan kemudian diteruskan oleh putranya, KH. Abdurrochim bin KH. Muntaha (1860–1916).

baca juga

Menulis Mushaf di Perjalanan Haji

Abdurrochim (1860–1916) dikenal sebagai sosok yang ahli dalam tasawuf dan pertanian. Meskipun dalam catatan disebutkan, KH. Abdurrochim tidak banyak membuat perubahan, ada satu peristiwa yang membuat namanya dikenang lintas generasi.

Dalam perjalanan menunaikan ibadah haji, KH. Abdurrochim menulis mushaf Al-Qur’an dengan tangan sendiri. Penulisan itu dilakukan sepanjang perjalanan dan rampung 30 juz saat beliau kembali ke tanah air.

Peristiwa inilah yang kelak menginspirasi cucunya, KH. Muntaha Al-Hafidz, untuk membuat Al-Qur’an Akbar, mushaf raksasa yang kemudian dikenal sebagai Al-Qur’an terbesar di dunia.

baca juga

Pesantren di Tengah Agresi Militer

Sepeninggal KH. Abdurrochim, kepemimpinan dilanjutkan oleh KH. Asy’ari bin KH. Abdurrochim (1917–1949). Masa ini menjadi periode paling berat. Indonesia berada dalam pusaran perang dan agresi militer. Banyak santri terlibat dalam gerilya melawan penjajah.

Pada Agresi Militer Belanda II, wilayah Wonosobo ikut diserang. Pesantren pun tidak luput dari serangan. Mushaf Al-Qur’an tulisan tangan KH. Abdurrochim dibakar.

Asy’ari yang sudah lanjut usia terpaksa mengungsi ke Dero Duwur. Di tempat pengungsian itulah beliau wafat pada 1949.

Ada hal yang menarik dari peristiwa ini. Menurut saksi sejarah, bom yang dijatuhkan Belanda di area pesantren saat itu, tidak meledak. Bom tersebut justru berubah menjadi singkong, atau bodin dalam bahasa Kalibeber. Cerita ini yang kemudian menjadi legenda masyarakat sekitar dan dikisahkan secara turun temurun.

baca juga

KH. Muntaha Al-Hafidz dan Perkembangan Pesat Pesantren

Nama KH. Muntaha Al-Hafidz menjadi penanda babak baru. Di bawah kepemimpinannya, Pondok Pesantren Al-Asy’ariyah berkembang pesat. Jumlah santri melonjak hingga ribuan.

Pesantren tidak lagi hanya dikenal sebagai tempat menghafal Al-Qur’an. Lembaga pendidikan formal mulai dibangun dan diperluas.

Selain mengembangkan pendidikan, KH. Muntaha Al-Hafidz dikenal luas sebagai Maestro Al-Qur’an. Karya paling monumental dari masa ini adalah Al-Qur’an Akbar, yang kini disimpan di Bait Al-Qur’an Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Dari periode ini pula lahir IIQ, yang kemudian bertransformasi menjadi UNSIQ (Universitas Sains Al-Qur’an).

baca juga

Kini, di bawah asuhan KH. Achmad Faqih Muntaha, PPTQ Al-Asy’ariyah tetap menjaga tradisi tahfidz dan kajian kitab kuning, mengikuti kebutuhan zaman.

PPTQ Al-Asy’ariyyah berada di bawah naungan Yayasan Al-Asy’ariyyah. Yayasan ini menjadi payung bagi berbagai lembaga pendidikan dan layanan sosial.

Di bawahnya berkembang SD, SMP, SMA, dan SMK Takhassus Al-Qur’an, serta unit layanan seperti Balai Pengobatan Hajah Maryam dan Dewan Ekonomi Pesantren. Seluruh lembaga tersebut tetap menempatkan Al-Qur’an sebagai fondasi utama pembelajaran.

baca juga

 

 

 

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.