Sudah begitu lama, narasi sejarah dunia mengasosiasikan kekuasaan besar dengan tentara darat yang besar, penaklukan wilayah, dan batas-batas kekaisaran yang jelas di peta. Kita banyak membaca sejarah tentang legiun Roma yang menaklukkan Eropa dan Afrika Utara, kavaleri Mongol yang menyapu Asia hingga Eropa Timur, atau infanteri Napoleon yang mengubah peta benua dalam hitungan tahun. Kekuasaan, dalam narasi itu, selalu berbentuk pasukan yang bergerak dan wilayah yang jatuh.
Dalam kerangka tersebut, Kerajaan Sriwijaya hampir tidak terlihat. Kerajaan ini tidak membangun tembok besar seperti Cina, tidak punya legiun seperti Roma, dan tidak meninggalkan piramida seperti Mesir. Yang dimilikinya adalah selat, angin musim, dan pemahaman yang cerdas tentang bagaimana dunia bekerja.
Selama kurang lebih enam abad, dari abad ke-7 hingga ke-13, kerajaan maritim yang berpusat di Palembang, Sumatra Selatan ini mengendalikan Selat Malaka, salah satu jalur perdagangan tersibuk dan terpenting di Asia pada masanya, yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Laut Cina Selatan. Siapa pun yang menguasai selat ini menguasai arus barang antara dua peradaban terbesar di planet ini.
Geografi dan Diplomasi Sebagai Senjata
Posisi geografis Sriwijaya bukan sekadar keberuntungan, tapi juga dimanfaatkan dengan kecerdasan luar biasa. Karena angin musim, para pedagang dari Cina atau India yang menuju ke arah berlawanan harus singgah di Sriwijaya selama berbulan-bulan sambil menunggu arah angin berubah. Akibatnya, Sriwijaya berkembang menjadi pusat perdagangan internasional yang besar, lengkap dengan pasar dan infrastruktur bagi para pedagang. Hal ini seolah jebakan geografis yang menguntungkan, dan Sriwijaya membangun seluruh peradabannya di atas kenyataan itu.

Wilayah kekuasaan Sriwijaya yang paling luas pada sekitar abad ke-8 hingga abad ke-11 | Gunawan Kartapranata - Own work by uploader,redrawed from Munoz "Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula" page 128, CC BY-SA 3.0,
Kunci kekuasaannya bukan penaklukan, tapi kontrol atas pilihan pedagang. Sriwijaya menjamin pedagang asing jalur yang aman dan fasilitas pelabuhan yang memadai, sekaligus memimpin ekspedisi militer melawan pesaing potensial. Catatan Arab tidak menyebut adanya perompakan di ujung selatan Selat Malaka; menunjukkan bahwa penduduk maritim kawasan itu mengidentifikasi diri dengan kepentingan para maharaja, sehingga mereka tidak mengganggu kapal-kapal dagang dan justru bekerja sama mengendalikan pesaing Sriwijaya.
Di hadapan Cina, Sriwijaya memainkan peran yang sangat cerdas. Catatan Cina mencatat misi upeti dari Sriwijaya pada abad ke-6 hingga ke-11. "Upeti" Sriwijaya terdiri dari lada, resin, rotan, gading, dan sarang burung; sementara "hadiah balik" dari kaisar Cina berupa pewarna industri, besi, keramik, dan sutra. Bukan penundukan, melainkan perdagangan yang dibingkai sebagai upeti, sebuah fiksi diplomatik yang menguntungkan kedua pihak.
Sriwijaya juga merupakan pusat pembelajaran Buddha yang diakui seluruh dunia Asia. Biksu Cina Yijing yang singgah di Sriwijaya pada akhir abad ke-7 mencatat: "Di kota yang dibentengi Bhoga, terdapat lebih dari 1.000 pendeta Buddha. Jika seorang pendeta Cina ingin pergi ke Barat untuk mempelajari kitab suci asli, lebih baik ia tinggal di sini satu atau dua tahun terlebih dahulu." Sriwijaya bahkan mendanai biara di Nalanda, India; diplomasi lunak abad pertengahan dalam bentuknya yang paling canggih.
Mengapa Sriwijaya Tidak Populer dalam Sejarah Dunia
Tidak seperti Majapahit yang meninggalkan candi batu, Sriwijaya adalah kerajaan kayu dan air. Ibu kotanya kemungkinan besar terdiri dari rumah-rumah terapung di Sungai Musi; struktur yang tidak bertahan di iklim tropis. Kerajaan yang kekuasaannya berbasis jaringan dan fleksibilitas, bukan monumen dan batas, lebih sulit dikisahkan ulang dalam format sejarah konvensional yang menyukai narasi penaklukan.
Namun warisannya tetap relevan hingga hari ini. Petualang Portugis Tomé Pires menulis pada abad ke-16, setelah negaranya merebut Malaka: "Siapa pun yang menjadi tuan Malaka, tangannya ada di tenggorokan Venesia." Maksudnya; Venesia (saat ini bagian dari negara Italia) saat itu adalah pusat perdagangan rempah-rempah di Eropa, dan seluruh pasokannya bergantung pada jalur yang melewati Selat Malaka. Menguasai selat Malaka berarti menguasai sumber penghidupan kota terkaya di Eropa.
Tomé Pires menulis kalimat itu untuk menggambarkan betapa strategisnya Selat Malaka bagi perdagangan dunia di zamannya. Tanpa disadarinya, ia juga sedang menggambarkan mengapa Sriwijaya bisa bertahan selama enam abad. Kerajaan yang menguasai selat itu; dengan atau tanpa tentara darat yang besar, menguasai urat nadi yang menghubungkan Cina, Asia Tenggara, India, dan Timur Tengah. Selat Malaka hari ini masih menjadi salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia, dan logika yang sama masih berlaku.
**
Referensi:
Leira, H., & de Carvalho, B. (2015). Thinking through Srivijaya: Polycentric networks in traditional Southeast Asia. ISA Global South Caucus Conference. https://web.isanet.org/Web/Conferences/GSCIS%20Singapore%202015/Archive/23e81aa1-2e38-42a5-86f5-d95c45e4d9ce.pdf
Wikiratne, S. (2024, August 21). Srivijaya: Trade and connectivity in the pre-modern Malay world. Academia.edu. https://www.academia.edu/108035173/Srivijaya_Trade_and_Connectivity_in_the_Pre_modern_Malay_World
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


