Omah Dongeng Marwah, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan kesetaraan Paket B (setara SMP) dan Paket C (setara SMA) telah melahirkan generasi cerdas, salah satunya Tiyo Ardianto, Presma UGM.
Prestasi itu sekaligus menjadi bukti bahwa jalur pendidikan nonformal tidak selalu identik dengan keterbatasan. Rumah belajar di Kudus, Omah Dongeng Marwah justru menjadi wadah bagi anak-anak untuk berkembang sesuai minat dan bakatnya.
Lembaga ini beralamat di Jalan Ngasinan No. 9, Desa Purworejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Secara administratif, Omah Dongeng Marwah tercatat sebagai PKBM dengan NPSN P9970420 dan menyelenggarakan program pendidikan kesetaraan di bidang pendidikan masyarakat (Dikmas).
Namun yang membuat tempat ini berbeda bukan hanya statusnya sebagai PKBM. Sejak awal berdiri, Omah Dongeng Marwah mengembangkan pendekatan belajar yang unik. Mereka menjadikan dongeng sebagai metode pendidikan. Melalui cerita, anak-anak diajak memahami pelajaran, menumbuhkan imajinasi, sekaligus menyerap nilai moral.
Omah Dongeng Marwah Langgengkan Mendongeng
Pendiri Omah Dongeng Marwah, Hasan Aoni Aziz, mengatakan lembaga ini lahir dari keprihatinan melihat tradisi mendongeng yang semakin jarang ditemui. Konsep pendidikan yang anti-mainstream ini tidak lahir dari gagasan satu orang.
Omah Dongeng Marwah melibatkan aktivis sosial, jurnalis, mahasiswa, hingga pegiat lingkungan dalam perintisannya.
“Omah Dongeng Marwah berdiri tahun 2015 atas inisiasi aktivis sosial, aktivis lingkungan, jurnalis, guru, dan mahasiswa. Kami bergerak bersama menghidupkan kembali tradisi mendongeng yang belakangan mulai luntur,” kata Hasan Aoni.
Sebab, menurut Hasan, dongeng bukan sekadar cerita pengantar tidur. Dongeng pun bisa menjadi alat belajar yang efektif dan interaktif.
“Nah, keprihatinan itulah yang kemudian mendorong kami untuk mengajak anak-anak memulai kembali dengan dongeng. Tetapi yang kemudian kita kembangkan, dongeng tidak sekadar sebagai metode mengenal cerita dengan pesan moral tetapi sekaligus kami jadikan dalam lembaga pendidikan yang kami sebut dengan PKBM Omah Dongeng Marwah berijazah,” ujarnya.
Melalui pendekatan ini, hampir semua pelajaran bisa disampaikan lewat cerita. Bahkan, pelajaran yang sering dianggap sulit oleh anak-anak, termasuk matematika.
“Misalnya ada anak yang tidak suka pelajaran matematika, bisa dibantu dengan dongeng yang di dalamnya ada pesan-pesan atau hitungan terselubung sehingga ia bisa belajar menghitung,” kata Hasan.
Kepala sekolah Omah Dongeng Marwah, Edy Supratno, mengatakan metode dongeng membuat anak-anak lebih mudah menerima pelajaran.
“Dongeng menjadi salah satu media belajar yang efektif bagi anak-anak. Dengan kemasan yang menyenangkan dan menghibur, materi edukasi serta pesan-pesan moral bisa lebih diterima,” kata Edy.
Karena itu, visi Omah Dongeng Marwah cukup unik. Mereka ingin menjadi pelopor pendidikan anak berbasis dongeng.
Bebas Kembangkan Minat dan Bakat
Di Omah Dongeng Marwah, kegiatan belajar tidak hanya berkutat pada materi akademik. Anak-anak juga diajak mengembangkan kreativitas melalui berbagai aktivitas seni, mulai dari mendongeng, musik, menulis lagu, tari, hingga teater dan film.
Salah satu karya mereka adalah film Mata Jiwa, yang pernah diputar dalam Festival Anak dan Remaja di Gedung A Graha Plaza Insan Berprestasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Senayan, Jakarta. Tidak hanya itu, ODM tercatat telah menelurkan banyak karya film dari anak didiknya.
Saat ini sekitar 80 anak belajar di Omah Dongeng Marwah. Mereka bebas memilih bidang yang ingin dikembangkan sesuai bakatnya. Ada yang menekuni musik, ada yang tertarik pada teater, ada pula yang gemar menulis cerita.
Model belajar seperti ini membuat pendidikan terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari dan mendukung penuh minat masing-masing.
Sekolah Kesetaraan yang Lulusannya Masuk Kampus Besar
Meskipun berbasis pendidikan alternatif, lulusan PKBM Omah Dongeng Marwah tidak berhenti di pendidikan nonformal. Beberapa di antaranya diterima di perguruan tinggi ternama, seperti Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Negeri Semarang (UNNES)
Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan kesetaraan melalui PKBM tetap memiliki peluang melanjutkan studi ke perguruan tinggi.
Ijazah program ini diakui negara dan dapat digunakan untuk melanjutkan pendidikan atau melamar pekerjaan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


