uniknya presma ugm tiyo ardianto penyair lulusan paket c pernah ragu kuliah - News | Good News From Indonesia 2026

Uniknya Presma UGM Tiyo Ardianto: Penyair, Lulusan Paket C, Pernah Ragu Kuliah

Uniknya Presma UGM Tiyo Ardianto: Penyair, Lulusan Paket C, Pernah Ragu Kuliah
images info

Uniknya Presma UGM Tiyo Ardianto: Penyair, Lulusan Paket C, Pernah Ragu Kuliah


“Pada tanggal 14 Juni 2021, saya lolos SBMPTN pada pilihan pertama, filsafat Universitas Gadjah Mada. Dengan skor rata-rata yang bahkan saya sendiri tak menduga, 753,” kata Tiyo Ardianto.

“Saya lulus jenjang Paket C pada tahun 2021, dan pada tahun 2021 pula, saya menjadi mahasiswa dari Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada,” imbuh sosok yang saat ini jadi Presma UGM.

Ya, benar. Siapa sangka Presiden Mahasiswa (Presma) UGM saat ini merupakan lulusan dari Paket C, program pendidikan kesetaraan selevel dengan SMA/MA yang kerap dipandang sebelah mata.

Tiyo adalah alumni PKBM Omah Dongeng Marwah (ODM). ODM adalah sebuah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat yang dirintis sejak 2015 dan resmi menjadi PKBM pada 2017.

Ada BEM dan UKM, Inilah Jenis-Jenis Organisasi Kampus dan Strukturnya

Mitos Kuliah Mahal dan Titik Balik Januari 2021

Sebelum jadi mahasiswa, bahkan jadi Presma, Tiyo sebenarnya sempat berpikir untuk tidak melanjutkan kuliah. Sebab, menurut informasi yang pernah ia dapat, biaya kuliah sangatlah tinggi.

“Sebelumnya, saya tidak pernah ada niat untuk kuliah. Penyebabnya mungkin karena saya sempat tertipu oleh mitos bahwa kuliah itu mahal,” jelasnya.

Tiyo tidak langsung percaya. Ia riset sendiri dan mencari tahu segalanya, mulai dari jalur masuk, program studi, dan faktor yang menentukan biaya studi.

baca juga

“Ada banyak faktor yang mempengaruhinya, seperti jalur masuk, program studi, dan pendapatan orang tua,” jelasnya.

Januari 2021 menjadi titik balik. Ia akhirnya mendaftar ke Universitas Gadjah Mada.

“Dan setelah saya riset pula, saya langsung jatuh cinta pada Universitas Gadjah Mada. Alasan utamanya adalah karena ia di Yogyakarta.”

Baginya, Yogyakarta adalah ruang tumbuh. Apalagi, menurut data yang dicatat GoodStats, Yogyakarta memang menempati peringkat pertama dalam kota pilihan untuk belajar.

“Saya percaya Yogyakarta adalah lahan yang subur untuk tumbuh.”

baca juga

Yang menarik, Tiyo justru tidak mengambil program studi yang spesifik atau teknis. Ia memilih filsafat yang dianggap sebagai ruang dialog semua cabang ilmu.

“Karena saya percaya, di antara fakultas yang universal adalah filsafat. Semua cabang ilmu tidak hanya disapa, tapi juga diajak berbicara,” terangnya

Filsafat memang sering disalahpahami. Banyak yang mengira jurusan ini tidak punya masa depan. Padahal, filsafat melatih logika, analisis, dan kemampuan berpikir kritis. Ia adalah fondasi banyak disiplin ilmu.

baca juga

Diremehkan, Gagal, Bangkit Lagi

Lulus dari PKBM Omah Dongeng Marwah, Tiyo tak lepas dari keraguan banyak orang terhadap pendidikan nonformal.

“Sebenarnya, tidak sedikit orang yang meragukan mimpi saya. Ragu-raguan itu lahir dari latar belakang sekolah saya, yang bagi mereka tak setara,” terangnya

Ia tidak menolak kenyataan itu. Ia justru tertantang.

“Saya justru semakin merasa tertantang untuk membuktikan bahwa pendidikan kesetaraan sesuai namanya setara.”

baca juga

Tiyo pernah gagal di UGM dan juga di UIN Sunan Kalijaga. Padahal ia memiliki tiga sertifikat prestasi: juara satu nasional Lomba Baca Puisi Inspiratif Penegak Kelangga, juara dua nasional Monolog Bahasa Jawa UNES, dan peserta event internasional Pertemuan Penyair Nusantara.

“Tiga sertifikat itu gagal. Tapi saya tak putus asa.”

Tiyo belajar tiga bulan tanpa bimbingan belajar khusus. Ia lantas mengulang pelajaran ekonomi, geografi, sejarah, sosiologi, matematika dasar, bahasa, dan pengetahuan umum.

Tanggal 14 Juni 2021 menjadi jawaban. Tiyo akhirnya resmi menjadi mahasiswa UGM pada 16 Agustus 2021.

baca juga

Prestasi Tiyo Ardianto

Selain di dunia aktivisme, nama Tiyo Ardianto sebenarnya tidak asing di ruang sastra. Ia berasal dari Kota Kretek. Sejak muda, ia aktif menulis dan tampil di berbagai forum kepenyairan.

Karyanya tergabung dalam antologi Sesapa Mesra Selinting Cinta (BBJT, 2019), bersama lebih dari 140 penyair Asia Tenggara. Dalam buku itu, namanya berdampingan dengan Sutardji Calzoum Bachri, D. Zawawi Imron, dan KH Ahmad Musthofa Bisri. Bagi penyair muda dari jalur pendidikan kesetaraan, capaian ini bukan hal kecil.

Pada 2019, ia diundang dalam Pertemuan Penyair Nusantara XI sebagai penyair termuda. Forum ini mempertemukan sastrawan dari berbagai negara serumpun. Kehadirannya menunjukkan bahwa ruang sastra tidak mempersoalkan asal sekolah, melainkan kualitas karya.

baca juga

Di tingkat lokal, Tiyo juga menjadi inisiator Kemah Sastra Kudus 2020. Ia turut menyunting buku Boeng – Antologi Puisi Kebangkitan Kaum Muda (PARIST, 2020). Perannya bukan hanya sebagai peserta, tetapi penggerak.

Di panggung pertunjukan, ia meraih predikat Penyaji Terbaik 2 dalam Festival Monolog Bahasa Jawa FBS UNNES 2020. Pada 2021, ia meraih Juara 1 Lomba Baca Puisi Inspiratif Tingkat Nasional yang diselenggarakan Penerbit Erlangga. Prestasi ini menegaskan konsistensinya di dunia literasi.

Semua capaian itu diraih sebagai lulusan Paket C dari PKBM Omah Dongeng Marwah.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.