Jika dilihat dari Pangkalan Data Pendidikan Tinggi semester ganjil 2025, STAB Negeri Raden Wijaya Wonogiri punya sekitar 905 mahasiswa. Yang menarik, meskipun basisnya Perguruan Tinggi Agama Buddha, profil mahasiswa malah beragam.
Rinciannya terdiri dari 440 mahasiswa beragama Buddha, 356 Islam, 34 Protestan, 13 Katolik, dan 3 Hindu. Data ini dirilis melalui unggahan resmi kampus di Instagram. Artinya, hampir setengah mahasiswa di kampus agama Buddha ini berasal dari keyakinan lain.
“Keberagaman di STAB Negeri Raden Wijaya adalah bukti nyata bahwa ilmu pengetahuan mekar paling indah di taman toleransi. Statistik ini adalah cermin harmoni,” katanya, dalam unggahan resmi pada 9 Februari 2026.
Kampus Agama, Mahasiswa Lintas Iman
Secara regulasi, STAB Negeri Raden Wijaya adalah perguruan tinggi keagamaan Buddha negeri. Statusnya ditetapkan melalui Peraturan Presiden Nomor 11 Tahun 2011 tanggal 24 Februari 2011. Struktur organisasinya diatur dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 20 Tahun 2011 tanggal 23 Juli 2011.
Secara umum, perguruan tinggi agama biasanya identik dengan mahasiswa satu keyakinan. Namun komposisi dari catatan sebanyak 846 mahasiswa di kampus ini menunjukkan realitas unik.
Mahasiswa Muslim malah mencapai 356 orang. Jumlahnya mendekati mahasiswa Buddha. IDalam unggahan yang sama juga disebutkan:
“Di STAB Negeri Raden Wijaya, perbedaan agama bukanlah pembatas melainkan ruang mulia untuk mempraktikkan Compassion (Welas Asih) dan mendewasakan Wisdom (Kebijaksanaan).”
Compassion berarti welas asih atau kepedulian terhadap sesama, sedangkan Wisdom berarti kebijaksanaan dalam berpikir dan bertindak.
Dua istilah ini merupakan nilai inti ajaran Buddha yang diterapkan dalam tindakan sehari-hari di lingkungan kampus.
Akar Sejarah STAB Negeri Raden Wijaya
STAB Negeri Raden Wijaya hadir di tanah Jawa sekitar tahun 80-an, berawal dari pembangunan Vihara Cipta Sarana Buddhi pada 1983 oleh umat Buddha di Bulusari, Bulusulur, dan Pokoh Wonoboyo.
Vihara selesai 1987 dan diresmikan Bupati Wonogiri Drs. Oemarsono pada 28 Februari 1987. Prasastinya ditulis dengan huruf Jawa dan memuat Condro Sengkolo Sabto Pandito Trus Manunggal.
Tahun 1990, vihara mendapat bantuan fasilitas listrik dari Wakil Presiden.
Gagasan mendirikan perguruan tinggi kemudian muncul pada 1993. Bhikkhu Dewa Dharma Sutra dan Resi Surya Madya Wiryana bersama pengurus vihara memulai pembangunan gedung kampus.
Peletakan batu pertama pembangunan kampus dilakukan 22 Juni 1993 oleh Drs. Budi Setiawan yang saat itu Direktur Urusan Agama Buddha Departemen Agama RI, perwakilan Bupati Wonogiri Drs. Soeyato, dan Kapolres Wonogiri Letkol. Slamet.
Dua gedung perkuliahan selesai dibangun. Awalnya digunakan untuk penataran remaja Buddhis dan Sekolah Minggu Buddhis. Dari ruang pembinaan komunitas, kampus ini berkembang menjadi perguruan tinggi.
Dari 224 Mahasiswa ke 905
Melalui SK Dirjen Bimas Buddha Depag RI No. Dj.VI/155/SK/Tahun 2007 tanggal 14 Desember 2007, kampus memperoleh kewenangan mengelola perguruan tinggi agama Buddha.
Tahun 2010 tercatat 224 mahasiswa aktif dan 23 wisudawan. Program studinya meliputi: Dhammacarya (pendidikan guru agama Buddha), Dharmaduta (penyuluh agama Buddha), dan Kepanditaan (rohaniawan atau pandita Buddha). Ketiganya berjenjang Strata Satu (S1).
Status negeri lantas resmi berlaku sejak 24 Februari 2011 melalui Perpres Nomor 11 Tahun 2011. Izin operasional tiga program studi ditegaskan melalui SK Dirjen Bimas Buddha No. 39 Tahun 2011.
Kini jumlah mahasiswa mencapai 846 orang dengan komposisi lintas agama. Selain itu, program studi yang ditawarkan juga lebih beragam, mencakup S1 Ilmu Komunikasi Buddha, S1 Kepanditaan Buddha, S1 & S2 Kepenyuluhan Buddha, S1 Pariwisata Buddha, S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Buddha, S1 Pendidikan Keagamaan Buddha, dan Profesi Pendidikan Profesi Guru.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


