Jika kita memperhatikan peta Pulau Papua, pemandangan yang paling mencolok adalah sebuah garis vertikal yang membagi pulau tersebut menjadi dua bagian besar. Garis tegak lurus ini membentang dari utara ke selatan pada koordinat 141 derajat Bujur Timur. Namun, jika Anda memperbesar peta di wilayah selatan, ada sebuah anomali geografis yang sangat unik. Garis yang semula lurus sempurna itu tiba-tiba meliuk mengikuti aliran sungai sebelum akhirnya kembali ke jalur lurus menuju laut.

Lengkungan ini bukanlah sebuah kesalahan cetak atau ketidaksengajaan kartografi. Fenomena ini adalah hasil dari diplomasi kolonial abad ke-19 yang melibatkan salah satu sungai raksasa di dunia, yaitu Sungai Fly.
Jejak Kapal HMS Fly dan Kepentingan Inggris
Nama sungai ini diambil dari sebuah kapal korvet milik Angkatan Laut Inggris yang bernama HMS Fly. Pada tahun 1842, Kapten Francis Blackwood memimpin ekspedisi pertama untuk mengeksplorasi muara sungai tersebut. Sungai Fly bukanlah aliran air biasa. Ia merupakan sistem sungai terbesar di wilayah Oseania dengan debit air yang sangat masif. Bahkan, lebar muaranya saja mencapai 56 kilometer.

HMS Fly dalam misi eksplorasi. Sebuah simbol navigasi yang meninggalkan warisan sejarah pada peta wilayah selatan Papua. | National Library of Australia digital collections
Pada masa kolonial, terjadi negosiasi intens antara pemerintah Belanda yang menguasai wilayah barat dan Inggris yang menguasai wilayah timur. Inggris memiliki kepentingan strategis untuk menguasai seluruh badan Sungai Fly. Mereka membutuhkan akses patroli tanpa batas untuk memantau aktivitas suku-suku di pedalaman serta mencegah konflik antar-suku yang saat itu masih marak. Jika perbatasan tetap dipaksakan lurus pada garis 141 derajat, maka patroli kapal Inggris akan sering masuk ke wilayah Belanda secara ilegal.
Sistem "Barter" Wilayah: Dari Sungai Fly ke Sungai Torasi
Kesepakatan unik akhirnya tercapai antara kedua kekuatan kolonial tersebut. Belanda setuju untuk membiarkan garis perbatasannya melengkung ke arah barat (masuk ke wilayah Indonesia saat ini) agar seluruh aliran Sungai Fly berada di bawah kendali penuh Inggris. Keputusan ini secara teknis membuat luas wilayah Belanda di Papua sedikit berkurang.

Sebagai bentuk kompensasi atas wilayah yang hilang, Inggris bersedia menggeser garis batas di bagian paling selatan ke arah timur. Perbatasan di area muara kemudian ditarik mengikuti aliran Sungai Torasi (Bensbach). Pergeseran kompensasi inilah yang menyebabkan titik paling timur Indonesia sebenarnya terletak di muara Sungai Torasi, bukan tepat di garis 141 derajat Bujur Timur. Pertukaran wilayah ini menunjukkan betapa krusialnya bentang alam sungai dalam menentukan kedaulatan negara di masa lalu.
Urat Nadi di Jantung Rimba yang Terjaga
Hingga saat ini, wilayah perbatasan ini menjadi salah satu daerah dengan biodiversitas tertinggi di dunia. Sungai Fly tetap mengalir bebas tanpa ada satu pun bendungan yang menghambatnya. Bagi masyarakat lokal, batas negara di sungai ini terasa sangat cair. Mereka adalah saudara serumpun yang sering melintas hanya dengan perahu tradisional untuk mengunjungi kerabat atau berdagang.

Peta aliran Sungai Fly | Wikimedia commons
Keberadaan Sungai Torasi di sisi Indonesia juga menjadi bagian penting dari ekosistem Taman Nasional Wasur. Wilayah ini merupakan tempat persinggahan ribuan burung migran dari Australia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


