Sebuah unggahan di platform X pada 9 Februari 2026 menarik perhatian warganet. Unggahan menampilkan foto dan video jamur berwarna putih dengan jaring-jaring yang menjuntai dari tubuhnya. Jamur ini dikenal sebagai jamur tudung pengantin.
Pengunggahnya, @AdyKristanto, menuliskan, “Ada yang pernah menemukan jamur tudung pengantin di Jakarta? yup beberapa bulan lalu saya sempat memvideokan jamur ini mekar di GBK, dia hanya mekar selama 2 jam abis itu kuncup dan menghilang.”
Hal itu membuat publik penasaran. Unggahan tersebut diramaikan ebih dari 100 komentar dan lebih dari 2 ribu kali dibagikan ulang.

Keberadaan jamur tudung pengantin di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), yang merupakan ruang terbuka hijau di tengah kota Jakarta, dinilai tidak biasa. Jamur ini dikenal memiliki siklus hidup yang sangat singkat. Ia dapat muncul, mekar sempurna, lalu meluruh dan menghilang hanya dalam hitungan jam. Fenomena inilah yang kemungkinan besar membuat banyak orang jarang menyadari keberadaannya.
Kenapa Dinamakan Jamur Tudung Pengantin?
Jamur tudung pengantin memiliki nama ilmiah Phallus indusiatus. Spesies ini pertama kali dideskripsikan secara resmi oleh ahli botani asal Perancis, Étienne Pierre Ventenat, pada tahun 1798. Ventenat pula yang memberikan nama ilmiahnya. Hingga kini, tercatat ada 181 varietas dari genus Phallus yang tersebar di berbagai belahan dunia.
Jamur ini tumbuh secara soliter di atas tanah gembur yang biasanya ditumbuhi ilalang atau vegetasi liar. Dalam beberapa kasus, jamur ini juga dapat ditemukan hidup berkelompok, meski jumlahnya terbatas. Habitat alaminya umumnya berada di daerah yang mengalami gangguan, seperti tanah terbakar, serasah bambu, maupun lantai hutan.
Di Asia, jamur ini kerap ditemukan di hutan bambu sehingga dikenal pula dengan sebutan bamboo mushroom. Lingkungan yang kaya humus dan lembap menjadi kondisi ideal bagi pertumbuhannya. Meski umur tubuh buahnya sangat singkat, jamur ini dapat tumbuh sepanjang tahun di wilayah tropis.
Nama “tudung pengantin” merujuk pada bentuk khas jamur ini. Bagian tubuhnya melonjong dengan tangkai silinder berwarna putih dan bagian dasar yang lebih besar. Pada bagian kepala terdapat tudung yang dilapisi ornamen eksudat cokelat kehitaman.
Dari bawah tudung tersebut menjuntai struktur menyerupai jaring atau renda berwarna putih yang hampir menyentuh tanah. Struktur inilah yang menyerupai veil atau tudung pengantin berenda, sehingga memunculkan nama populernya.
Mengeluarkan bau busuk
Jamur tudung pengantin memiliki bentuk tubuh yang unik sejak awal pertumbuhannya. Tubuh buahnya mula-mula berkembang dari struktur menyerupai “telur” yang tersembunyi di dalam tanah. Ketika telur tersebut pecah, terbentuklah volva di bagian dasar.
Dalam hitungan menit, tangkai jamur tumbuh dengan cepat dan tudungnya mengembang. Secara bertahap, jaring putih akan turun mengelilingi tangkai hingga hampir menyentuh permukaan tanah. Tinggi jamur ini dapat mencapai 25 sentimeter.
Eksudat cokelat kehitaman yang menutupi tudungnya mengeluarkan bau menyengat yang sering disamakan dengan bau bangkai. Bau ini berfungsi menarik serangga. Ketika serangga hinggap pada bagian tersebut, spora jamur akan menempel pada tubuh mereka dan terbawa ke tempat lain. Dengan cara ini, jamur tudung pengantin menyebarkan sporanya secara alami.
Siklus hidupnya relatif singkat. Setelah mekar sempurna, tubuh buah akan mulai meluruh dan akhirnya menghilang dari lokasi tumbuhnya.
Inilah yang terjadi pada jamur yang direkam di GBK, yang menurut pengunggahnya hanya bertahan mekar selama sekitar dua jam sebelum menguncup dan lenyap.
Apakah bisa dikonsumsi?
Jamur tudung pengantin sebelumnya dilaporkan sebagai jamur yang dapat dimakan dan memiliki berbagai potensi manfaat. Habtemariam dalam publikasi tahun 2019 berjudul The Chemistry, Pharmacology and Therapeutic Potential of the Edible Mushroom Dictyophora indusiata (Vent ex. Pers.) Fischer (Synn. Phallus indusiatus) membahas potensi kimia dan farmakologinya.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa masih terdapat perdebatan mengenai keamanan konsumsinya. Ia menegaskan bahwa karena kontradiksi yang terus berlanjut terkait keamanannya, jamur ini tidak disarankan untuk dikonsumsi tanpa pengetahuan yang tepat dan pengalaman empiris.
Saat ini, jamur tudung pengantin telah banyak dibudidayakan untuk keperluan komersial dan biasanya dijual dalam bentuk kering. Sebelum dikeringkan, bagian tudung yang berlendir dibuang terlebih dahulu. Dalam penggunaannya, jamur kering perlu direndam atau dididihkan dengan api kecil hingga lunak sebelum dimasak.
Teksturnya halus dan padat, sering dibandingkan dengan cumi-cumi, dengan rasa gurih manis. Jamur ini dapat diolah menjadi tumisan, bahan pelengkap sup, hingga campuran dalam hidangan seperti chicken stew.
Jamur ini dahulu jarang ditemukan dan hanya dipanen dari alam liar, sehingga kerap disajikan dalam perjamuan khusus. Pada masa Dinasti Qing di Cina, jamur ini menjadi salah satu hidangan favorit Permaisuri Dowager Cixi dan termasuk dalam sajian “Bird’s Nest Eight Immortals Soup”. Jamur ini juga pernah dihidangkan dalam perjamuan untuk Henry Kissinger saat kunjungannya ke Cina pada 1970-an.
Kemunculan jamur tudung pengantin di ruang terbuka hijau perkotaan seperti GBK menunjukkan bahwa keanekaragaman hayati tetap dapat bertahan di tengah kota. Meski hanya hadir singkat, keberadaannya mengingatkan bahwa ekosistem mikro di ruang hijau perkotaan menyimpan dinamika yang jarang terlihat secara langsung.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


