dari stovia ke ui evolusi lembaga pendidikan tinggi pertama yang menjadi rahim intelektual bangsa - News | Good News From Indonesia 2026

Dari STOVIA ke UI: Evolusi Lembaga Pendidikan Tinggi Pertama yang Menjadi Rahim Intelektual Bangsa

Dari STOVIA ke UI: Evolusi Lembaga Pendidikan Tinggi Pertama yang Menjadi Rahim Intelektual Bangsa
images info

Dari STOVIA ke UI: Evolusi Lembaga Pendidikan Tinggi Pertama yang Menjadi Rahim Intelektual Bangsa


Sejarah Universitas Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang pendidikan tinggi di Nusantara. Bermula dari sebuah sekolah kedokteran pada masa kolonial, institusi ini berkembang menjadi universitas modern yang melahirkan banyak pemimpin dan pemikir bangsa.

Evolusi tersebut bukan sekadar perubahan nama, melainkan transformasi intelektual yang membentuk arah Indonesia.

Awal Mula: STOVIA dan Politik Etis

Cikal bakal Universitas Indonesia berakar pada pendirian STOVIA pada tahun 1898 di Batavia. Nama STOVIA merupakan singkatan dari School tot Opleiding van Inlandsche Artsen, yaitu sekolah untuk mendidik dokter pribumi.

Lembaga ini didirikan pemerintah kolonial Belanda sebagai bagian dari kebijakan Politik Etis, yang secara resmi bertujuan meningkatkan kesejahteraan penduduk bumiputra melalui pendidikan.

Namun di balik motif kolonial tersebut, STOVIA menjadi ruang pertemuan gagasan dan kesadaran baru.

Para pelajar dari berbagai daerah di Hindia Belanda berkumpul, tinggal di asrama, dan menjalani pendidikan modern berbasis ilmu kedokteran Barat. Interaksi lintas etnis dan daerah itu melahirkan solidaritas baru yang melampaui identitas kedaerahan.

Di lingkungan STOVIA pula benih-benih nasionalisme mulai tumbuh. Akses terhadap literatur, diskusi intelektual, serta paparan terhadap ketidakadilan kolonial memicu kesadaran politik di kalangan mahasiswa.

Sekolah kedokteran ini secara tidak langsung menjadi wadah pembentukan elite terdidik pribumi yang kritis terhadap kekuasaan kolonial.

Dari Ruang Kuliah ke Gerakan Kebangsaan

Salah satu tonggak penting dalam sejarah pergerakan nasional lahir dari rahim STOVIA. Pada 1908, sejumlah mahasiswa yang terinspirasi oleh gagasan kemajuan dan persatuan mendirikan Budi Utomo. Organisasi ini sering disebut sebagai pelopor kebangkitan nasional Indonesia.

Kehadiran Budi Utomo menandai pergeseran perlawanan dari bentuk fisik ke perjuangan berbasis organisasi dan gagasan.

Mahasiswa STOVIA membuktikan bahwa pendidikan tinggi bukan hanya sarana mobilitas sosial, melainkan juga alat emansipasi politik. Kampus menjadi ruang dialektika antara ilmu pengetahuan dan kesadaran kebangsaan.

Dalam periode berikutnya, semakin banyak lulusan STOVIA yang berperan sebagai dokter, pendidik, dan pemimpin masyarakat. Mereka menyebarkan ide-ide modernitas, rasionalitas, dan solidaritas kebangsaan ke berbagai wilayah.

Dengan demikian, STOVIA berfungsi sebagai rahim yang melahirkan intelektual awal Indonesia, yang tidak hanya terampil secara profesional tetapi juga memiliki visi kebangsaan.

Transformasi Menuju Universitas Modern

Memasuki abad ke-20, struktur pendidikan tinggi di Hindia Belanda berkembang. STOVIA mengalami perubahan dan pada 1927 bertransformasi menjadi Geneeskundige Hogeschool.

Selain pendidikan kedokteran, pemerintah kolonial juga mendirikan lembaga pendidikan tinggi lain di bidang hukum dan sastra.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 1945, kebutuhan akan institusi pendidikan tinggi nasional semakin mendesak.

Pada 1950, berbagai sekolah tinggi tersebut dilebur dan secara resmi berdiri Universitas Indonesia sebagai universitas negeri. Tanggal ini sering diperingati sebagai momentum kelahiran UI dalam bentuknya yang modern.

Transformasi ini bukan sekadar administratif. Ia mencerminkan peralihan dari institusi kolonial menjadi universitas nasional yang berdaulat.

Bahasa pengantar berubah, kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan bangsa merdeka, dan orientasi pendidikan diarahkan pada pembangunan nasional.

UI kemudian berkembang dengan membuka berbagai fakultas di bidang hukum, ekonomi, teknik, sastra, dan ilmu sosial politik.

Perkembangan ini menandai perluasan peran dari sekolah kedokteran menjadi universitas komprehensif yang mencakup hampir seluruh cabang ilmu pengetahuan.

Rahim Intelektual Bangsa

Sepanjang sejarahnya, UI dikenal sebagai salah satu pusat produksi intelektual terkemuka di Indonesia.

Banyak tokoh nasional lahir dari lingkungan kampus ini, baik sebagai mahasiswa maupun pengajar. Mereka berkiprah dalam pemerintahan, hukum, ekonomi, kebudayaan, hingga diplomasi internasional.

Peran UI sebagai rahim intelektual tidak lepas dari tradisi akademik yang menekankan kebebasan berpikir dan diskusi kritis.

Sejak masa STOVIA, semangat mempertanyakan otoritas dan mencari kebenaran ilmiah telah menjadi bagian dari identitas institusi. Tradisi tersebut berlanjut dalam berbagai periode, termasuk masa demokrasi parlementer, Orde Baru, hingga era reformasi.

Kampus UI juga kerap menjadi arena perdebatan publik dan gerakan mahasiswa. Dalam berbagai momentum sejarah nasional, mahasiswa UI turut menyuarakan aspirasi perubahan.

Hal ini menunjukkan kesinambungan antara peran intelektual dan tanggung jawab sosial yang telah mengakar sejak era STOVIA.

Selain menghasilkan pemimpin politik, UI juga melahirkan ilmuwan, profesional, dan akademisi yang berkontribusi dalam pembangunan ilmu pengetahuan di Indonesia.

Riset dan publikasi yang dihasilkan memperkaya khazanah akademik nasional serta memperkuat posisi Indonesia dalam jejaring ilmiah global.

Kontinuitas Sejarah dan Tantangan Masa Depan

Perjalanan dari STOVIA pada 1898 hingga menjadi Universitas Indonesia modern mencerminkan dinamika sejarah bangsa. Institusi ini telah melewati masa kolonial, revolusi kemerdekaan, konsolidasi negara, hingga globalisasi pendidikan tinggi.

Meski konteks zaman berubah, esensi perannya sebagai pusat pembentukan intelektual tetap relevan.

Tantangan kini bukan lagi kolonialisme, melainkan kompetisi global, revolusi teknologi, dan kebutuhan akan inovasi berkelanjutan. UI dituntut untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan akar sejarahnya.

Dengan memahami evolusinya, kita melihat bahwa UI bukan sekadar institusi pendidikan, melainkan simbol transformasi bangsa melalui ilmu pengetahuan.

Dari asrama sederhana STOVIA di Batavia hingga kampus modern di Depok, perjalanan tersebut menegaskan bahwa pendidikan tinggi dapat menjadi rahim lahirnya kesadaran, kepemimpinan, dan masa depan Indonesia.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Daniel Sumarno lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Daniel Sumarno.

DS
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.