dino patti djalal jadi wamenlu cuma 3 bulan tapi reputasinya bukan kelas amatiran - News | Good News From Indonesia 2026

Dino Patti Djalal: Jadi Wamenlu “Cuma” 3 Bulan, tapi Reputasinya Bukan Kelas Amatiran

Dino Patti Djalal: Jadi Wamenlu “Cuma” 3 Bulan, tapi Reputasinya Bukan Kelas Amatiran
images info

Dino Patti Djalal on Instagram


Dino Patti Djalal bukanlah orang baru di dunia diplomasi Indonesia. Mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat ini adalah seorang diplomat karier yang sudah melanglang buana dengan sederet pengalaman mumpuni.

Dino merupakan salah satu diplomat senior yang dihormati. Kariernya di Kementerian Luar Negeri sudah dimulai sejak tahun 1987, sebelum akhirnya memutuskan pensiun dari dunia birokrasi di tahun 2015.

Profil Dino Patti Djalal

Lahir pada 10 September 1965 di Beograd, Yugoslavia, Dino adalah putra kedua dari mendiang Prof. Hasjim Djalal dan Zurni Djalal. Sang ayah, Hasjim Djalal, juga merupakan diplomat ulung Indonesia.

Sebagai informasi, Hasjim merupakan pakar hukum laut internasional sekaligus salah satu orang yang berjasa di balik lahirnya UNCLOS (United Nations Convention on the Law of theSea) UNCLOS. Selain itu, Hasjim juga pernah menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kanada, hingga Jerman.

Terlahir dari keluarga diplomat membuat Dino terbiasa dengan kehidupan yang sangat dinamis. Ia pernah tinggal di Jakarta, Yugoslavia, Guinea, Singapura, Washington DC, New York, Ottawa, dan Vancouver.

baca juga

Dino menyelesaikan pendidikan sarjananya di Carleton University Kanada dengan gelar Sarjana Ilmu Politik. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan magisternya di Simon Fraser University Kanada jurusan Ilmu Politik, serta meraih gelar Ph.D. di London School of Economics and Political Science di Inggris di bidang Hubungan Internasional.

Dino bergabung di Kemlu RI di tahun 1987. Semasa bertugas, ia pernah ditempatkan di London, Dili, hingga Washington DC.

Rekam Jejak Dino Patti Djalal

Disadur dari situs web miliknya, Dino pernah menjadi sorotan saat ia ditunjuk sebagai juru bicara pemerintah Indonesia dalam referendum PBB di Timor Leste tahun 1999. Saat itu, ia merupakan Jubir Satgas Pelaksana Penentuan Pendapat di Timor Timur (P3TT).

Tahun 2002, Dino diangkat sebagai Direktur Urusan Amerika Utara. Kemudian, di masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di tahun 2004-2010, ia diangkat sebagai Staf Khusus Presiden untuk Urusan Internasional.

Di sini, ia memegang berbagai tugas, mulai dari juru bicara Presiden, penasihat kebijakan luar negeri Presiden, hingga penulis pidatp. Uniknya, jabatan ini diembannya selama enam tahun dan menjadikannya sebagai juru bicara Presiden dengan masa jabatan terlama.

Dino diangkat menjadi Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat di tahun 2010-2013. Selama menjabat, Dino berhasil meningkatkan hubungan bilateral dua negara menjadi Kemitraan Komprehensif.

Lebih lanjut, di bulan Juli 2014, Dino diangkat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri RI. Jabatannya ini ia emban hingga bulan Oktober di tahun yang sama, membuatnya menjabat di posisi tersebut hanya selama tiga bulan.

Mungkin Kawan GNFI bertanya-tanya, mengapa masa jabatan Dino sebagai Wamenlu hanya tiga bulan saja?

Usut punya usut, jabatan itu memang memiliki tenggat waktu yang “terbatas”. Kala itu, masa pemerintahan Presiden SBY hanya tinggal tiga bulan. Di sisi lain, Wamenlu sebelum Dino, Wardana, ditunjuk SBY untuk menjadi Duta Besar Indonesia untuk Turki.

Dalam kurun waktu yang tersisa, kursi Wamenlu yang kosong harus diisi dengan sosok yang kompeten. Dengan rentetan pengalaman Dino sebelumya, ia dinilai sebagai figur yang cocok untuk menggantikan Wardana.

baca juga

Setelah Presiden SBY “lengser”, birokrasi pemerintahan pun diganti dengan orang-orang baru yang ditunjuk Presiden Jokowi. Dino sendiri memutuskan untuk pensiun dini dari pemerintahan di pertengahan tahun 2015.

Setelah pensiun, Dino tidak tinggal diam. Ia mendirikan Foreign Policy Community of Indonesia (FCPI). Saat ini, FCPI menjadi komunitas kebijakan luar negeri terbesar di Indonesia dengan lebih dari 100 ribu orang di dalam jaringannya.

Dino juga dikenal sebagai “Bapak Diaspora Indonesia”. Ia adalah sosok di balik peluncuran Kongres Dunia Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles pada 2012 silam. Ia jugalah yang menggagas Jaringan Diaspora Indonesia (IDN) di seluruh dunia.

Atas jasa-jasanya, Dino pernah dianugerahi Bintang Jasa Utama di tahun 2010 dan Bintang Mahaputera Utama di tahun 2014. Kemudian, di tahun 2025, Dino juga mendapatkan penghargaan Bintang Mahaputera Adipradana dari Presiden Prabowo.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.