sastia prama putri 21 tahun di jepang paspor tetap indonesia dan membuka jalan untuk puluhan phd pulang - News | Good News From Indonesia 2026

Sastia Prama Putri: 21 Tahun di Jepang, Paspor Tetap Indonesia dan Membuka Jalan untuk Puluhan PhD Pulang

Sastia Prama Putri: 21 Tahun di Jepang, Paspor Tetap Indonesia dan Membuka Jalan untuk Puluhan PhD Pulang
images info

Sastia Prama Putri: 21 Tahun di Jepang, Paspor Tetap Indonesia dan Membuka Jalan untuk Puluhan PhD Pulang


“21 tahun di jepang bangga masih paspor indonesia. Terus ngapain aja? Membantu tempe mendunia lewat inovasi anak bangsa, meningkatkan ekspor komoditas prioritas indonesia ke jepang, mendidik puluhan mahasiswa indonesia yang sudah dan akab kembali ke tanah air,” tulis Sastia dalam akun Instagram pribadinya pada 21 Februari 2026.

Kalimat itu jadi ringkasan kontribusi dua dekade perjalanan Sastia Prama Putri, ilmuwan asal Jakarta yang kini berkarier di Jepang. Prestasinya di Jepang membuat Sastia menjadi perempuan asing pertama penerima Ando Momofuku Award.

Walaupun sudah punya nama di Jepang, Sastia tetap tetap memilih jadi WNI. Ia tetap memegang paspor Indonesia dan berkontribusi dari luar negeri.

baca juga

Raih Penghargaan Berkat Tempe

Sastia meraih Ando Momofuku Award atas risetnya menemukan senyawa aktif dalam tempe yang dapat membantu menurunkan kolesterol.

Tempe memang makanan tradisional yang sangat dekat dengan meja masyarakat Indonesia. Selain murah, tempe juga mudah diolah. Yang menarik, tempe ternyata banyak manfaatnya.

Tempe merupakan hasil fermentasi kedelai oleh mikroba. Dalam proses fermentasi itu, terbentuk berbagai senyawa bioaktif. Senyawa inilah yang diteliti lebih jauh melalui metabolomik.

Penghargaan yang diterima Sastia ini istimewa sebab ia menjadi orang asing pertama yang menerimanya. Selain Ando Momofuku Award, Sastia juga pernah meraih L’Oreal-UNESCO for Women in Science 2015.

baca juga

Metabolomik: Ilmu yang Jarang Dibahas, Sastia Menyelam di Sana

Kini Sastia menjadi asisten profesor di Osaka University. Ia masih menekuni metabolomik.

Metabolomik adalah studi tentang metabolit. Metabolit adalah senyawa kimia kecil yang terbentuk dalam proses metabolisme makhluk hidup. Sederhananya, metabolomik memetakan sidik jari kimia suatu organisme atau produk pangan.

Di Asia Tenggara, bidang ini masih relatif sedikit ahlinya. Padahal aplikasinya luas, dari biofuel, pangan, hingga peningkatan kualitas ekspor.

Sastia menggunakan metabolomik untuk membuat standar kualitas komoditas Indonesia, di antaranya tempe, kopi, manggis, hingga pisang. Ini juga termasuk untuk riset mikroba sebagai cell factory dalam produksi biofuel. Cell factory berarti memanfaatkan mikroorganisme sebagai pabrik biologis untuk menghasilkan bahan bakar atau bahan kimia industri.

Metode ini dibutuhkan karena pasar global menilai lebih dari sekadar fisik produk. Profil kimia menjadi bagian dari penilaian.

baca juga

Nasionalisme yang Tidak Sesederhana Pulang

Sudah lebih dari 20 tahun Sastia tinggal di Jepang. Ia belum kembali menetap di Indonesia. Meski demikian, ia menolak jika itu dianggap tidak nasionalis. Sebab, ia telah banyak berkontribusi membawa nama Indonesia walaupun dari luar negeri.

“Sebenarnya banyak orang yang menyalahartikan arti nasionalis, ya. Kadang-kadang orang yang bilang kalau orang yang di luar negeri itu enggak nasionalis, kalau kita melihat hampir 2 per 3 dari paper saya itu dengan instansi Indonesia,” ujarnya.

Sastia membuka kolaborasi dengan lembaga Indonesia. Banyak publikasinya terbit di jurnal Q1 dan Q2. Q1 adalah jurnal internasional dengan peringkat tertinggi dalam kategori Scopus. Q2 berada satu tingkat di bawahnya. Artinya, riset tersebut memiliki dampak dan sitasi yang kuat di komunitas ilmiah global.

baca juga

Yang lebih menarik, ia juga membina mahasiswa Indonesia di Jepang.

“Saat ini ada 10 mahasiswa Indonesia yang lagi S2 dan S3. Mereka semuanya rata-rata udah punya posisi, ya. Apakah mereka di BRIN, apakah mereka di kampus sebagai PNS. Nantinya mereka akan pulang ke Indonesia. Bukan satu Sastia yang pulang tapi 10, 20, bahkan 50 PhD holder di bidang teknologi akan pulang membangun Indonesia,” jelasnya, dikutip dari Kumparan.

Sastia memandang bahwa kontribusi untuk negeri tidak selalu diartikan pulang cepat. Bisa juga berarti membangun jaringan, membuka akses laboratorium, dan mempercepat transfer teknologi.

Ia bahkan berkata, “Kalau saya merasa bahwa opsi ada dan kesempatan itu ada, dan saya mampu untuk memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk berkontribusi balik ke Indonesia, ya, saya merasa belum waktunya saya pulang.”

baca juga

 

 

 

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.