Masyarakat Gorontalo memiliki cara unik dalam menyambut bulan suci Ramadan melalui tradisi Koko’o atau ketuk sahur. Tradisi membangunkan warga untuk makan sahur ini kembali digelar dengan penuh antusiasme pada Kamis (19/2).
Ribuan warga dari berbagai penjuru memadati sejumlah titik di Gorontalo untuk mengikuti perayaan tahun ini, yang pelaksanaannya dinilai jauh lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Inovasi dan Peningkatan Peserta
Ketua Koko’o Gorontalo, Fiqram Idrus, menjelaskan bahwa pada tahun 1477 Hijriah ini, para peserta melakukan aksi jalan kaki sambil menabuh kentungan bambu. Kemeriahan semakin terasa dengan adanya iring-iringan truk hias yang dilengkapi sistem suara dan permainan lampu.
"Setiap tahun kita update terus untuk konsep Koko'o Gorontalo, kita bermain desain panggung dan kita tambah lagi elemen yang ada untuk diperbarui setiap tahun," ujar Fiqram.
Dari Jagung Menjadi Identitas: Cerita Gorontalo Sebagai Sentra Jagung Nasional
Fiqram juga mencatat adanya peningkatan signifikan jumlah partisipan. "Peserta bisa dikatakan cukup membludak, karena perkiraan hampir 2.000 orang itu tadi yang hadir di titik start," tambahnya.
Upaya Melestarikan Tradisi Lokal
Penggunaan kentungan kayu dalam kegiatan ini bukan tanpa alasan. Menurut Fiqram, hal tersebut merupakan langkah nyata untuk menjaga agar tradisi lokal tetap dikenal oleh generasi muda di Gorontalo.
"Tradisi itu kita tetap bangun dari mulai anak kecil sampai dewasa, mereka harus tahu tradisi Gorontalo itu seperti apa," katanya.
Kegiatan Koko’o tahun ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Gorontalo dan dibuka secara resmi oleh Wakil Wali Kota Gorontalo, Indra Gobel.
Sejarah Terbentuknya Gorontalo dari Masa ke Masa
Kemeriahan ini bahkan menarik perhatian warga pendatang, salah satunya Sri Desni Anjani Laia asal Nias, Sumatera Utara.
"First time saya lihat Koko'o ini, saya agak terkejut karena banyak masyarakat yang antusias dalam melihat dan ikut serta," kata Desni.
Meski terkesan, ia menitipkan pesan terkait ketertiban pelaksanaan di lapangan. "Mungkin masyarakat boleh lebih tertib lagi dalam hal ini keamanan dan ketertiban pejalan kaki dan pengendara motor," tambahnya.
Transformasi dari Konflik Menjadi Persahabatan
Di balik keriuhannya, tradisi Koko’o ternyata memiliki latar belakang sejarah yang kontras. Dahulu, tradisi ini lahir dari perselisihan antara dua wilayah, yakni Kelurahan Talumolo dan Kampung Bugis, yang kerap terlibat tawuran di malam hari saat bulan Ramadan.
Seiring waktu, kedua pihak sepakat untuk berdamai. Hubungan baik tersebut kemudian dirayakan melalui kegiatan ketuk sahur bersama yang kini dikenal sebagai Koko'o.
Aan Karim mengungkapkan bahwa transformasi ini adalah buah dari persahabatan dua kampung yang dulu sering bertikai.
Taman Laut Olele: Surga Bawah Laut Gorontalo yang Menunggu untuk Dijelajahi
"Namun entah kenapa konflik yang berkepanjangan itu tiba-tiba menjadi sebuah kegiatan besar selama Ramadan dan sudah menjadi agenda tahunan yang bukan hanya diikuti oleh dua kampung itu akan tetapi ratusan orang ikut kegiatan ini," jelas Aan sebagaimana dimuat di Liputan6.
Ketuk sahur ini merupakan agenda rutin selama 30 hari penuh di bulan Ramadan, dengan puncak kemeriahan pada awal dan akhir bulan. Aan berharap kegiatan ini terus membawa dampak positif bagi warga Kota Gorontalo.
"Minimal kebersamaan kita pada kegiatan ketuk sahur ini bisa menjalin silaturahmi sesama muslim Kota Gorontalo," pungkasnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


