robot robot penari di beijing dan sinyal abad tiongkok benar benar sudah datang - News | Good News From Indonesia 2026

Robot-robot Penari di Beijing, dan Sinyal Abad Tiongkok Benar-Benar Sudah Datang

Robot-robot Penari di Beijing, dan Sinyal Abad Tiongkok Benar-Benar Sudah Datang
images info

Robot-robot Penari di Beijing, dan Sinyal Abad Tiongkok Benar-Benar Sudah Datang


Malam itu, 16 Februari 2026, di pusat kota Beijing, tepatnya di dalam studio megah milik CCTV, televisi negara utama di Republik Rakyat Tiongkok (mungkin seperti TVRI di Indonesia). Di sanalah perayaan Spring Festival Gala membius dunia. Tapi malam itu bukan lagi pendekar Shaolin yang jadi bintang utama. Bukan pula artis papan atas. Tapi mesin.

Ada rombongan robot dari Unitree Robotics, yang kantor pusatnya di Hangzhou, China. Mereka bisa berdiri tegak. Mereka bisa memegang pedang secara mantap, lalu..... Wuuut. Mereka bermain kungfu. Gerakannya patah-patah tapi pasti. Puncaknya: mereka melakukan backflip. Salto ke belakang secara bersamaan. Sempurna.Rapi. Satu irama bersamaan. Gila ! 

Hanya dalam hitungan menit. Dari Beijing, video robot-robot penari itu meledak ke seluruh planet. Menyebar ke miliaran ponsel lewat TikTok, Instagram, X. Algoritma media sosial membuatnya viral tanpa ampun. Miliaran orang menontonnya sambil terkagum-kagum. Melongo tidak percaya. 

Mari sedikit kita bedah. Selama ini, dunia mengenal Boston Dynamics, pembuat robot-robot canggih dari Amerika Serikat. Mereka sering masuk YouTube dengan video robot yang lincah. Tapi ada perbedaan besar yang kini mulai disadari Wall Street. Jika Amerika punya Boston Dynamics yang membuat robot sangat canggih tapi mahal dan jumlahnya terbatas. Tiongkok punya Unitree sebagai penantang utamanya.

Inilah yang membedakan mereka. Unitree tidak hanya fokus pada kecanggihan. Mereka fokus pada cara membuat robot canggih dengan harga terjangkau dan bisa diproduksi ribuan unit sekaligus. Di saat Barat masih terjebak di laboratorium. Tiongkok sudah berada di jalur perakitan massal.

Di Wall Street, para investor tidak lagi melihat video itu sebagai hiburan. Mereka melihatnya sebagai ancaman. Saham-saham perusahaan teknologi Barat mulai bergoyang. Mereka tahu, yang sedang dipamerkan di Beijing adalah masa depan manufaktur. Masa depan logistik. Dan yang paling krusial: masa depan peperangan.

Penonton umum mungkin menganggapnya lucu. Menarik. "Tiongkok sudah sangat maju ya." Begitu komentar yang paling banyak muncul.

Tapi bagi para analis pertahanan, video pendek dari Beijing itu adalah horor.

Melakukan salto untuk robot itu bukan sekadar gaya, tapi itulah puncaknya matematika terapan. Harus menghitung pusat gravitasi yang bergeser cepat, harus menghitung torsi motor di setiap sendi, harus menghitung gesekan kaki dengan lantai panggung yang licin. Semuanya dilakukan dalam hitungan milidetik. Real-time processing

Jika meleset sedikit saja, robot seharga miliaran itu akan jatuh berkeping-keping di depan miliaran mata. Tapi malam itu, tidak ada yang jatuh. Terpeleset sedikit pun tidak. Presisinya berada di level yang tidak masuk akal.

Tiongkok tidak sedang pamer mainan. Tiongkok sedang menunjukkan sebuah blueprint. Panggung hiburan itu hanyalah baju sipil, di dalamnya ada tulang-tulang militer.

Apa yang kita lihat di panggung itu adalah demonstrasi empat pilar kekuatan masa depan; koordinasi 'kawanan' robot, pergerakan otonom. pemrosesan kecerdasan buatan secara instan (real-time), dan faktor bentuk humanoid yang stabil meski bergerak secara ekstrim.

Pesannya tertangkap sangat jelas, jika mereka bisa memerintahkan robot untuk menjadi penari kungfu dengan pedang di bawah lampu sorot Beijing, bayangkan apa yang bisa dilakukan mesin-mesin itu di medan tempur yang gelap.

Tiongkok tidak sedang mengejar ketertinggalan, abad Tiongkok sudah datang.

Dulu, dekuatan bangsa diukur dari kemegahan fisik. Roma membangun Colosseum, Soviet meluncurkan Sputnik, Amerika menancapkan bendera di bulan. Sekarang, ukurannya adalah siapa yang paling ahli menguasai dual-use technology; teknologi yang kelihatannya untuk pesta dan bergempira, namun jika diswitch kegunaannya, bisa menjadi senjata mematikan dalam sekejap.

Lihatlah data di tahun 2026 ini, kini Tiongkok sudah memiliki lebih banyak perusahaan robotika, lebih banyak paten AI, dan lebih banyak unit robot yang sudah diterjunkan dibanding negara mana pun di bumi.

Di Hangzhou, di Shenzhen, pabrik-pabrik robot bekerja tanpa henti. Manusia-manusia besi ini tidak pernah lelah, tidak butuh upah, tidak punya rasa takut. Dan yang paling mengerikan bagi strategi pertahanan mana pun: Tiongkok bisa memproduksi massal mesin-mesin ini jauh lebih cepat daripada sebuah negara bisa menghasilkan tentara melalui kelahiran bayi.

Kita sedang berada di titik engsel sejarah. The hinge of history.

Robotika bukan lagi fiksi ilmiah di masa depan. Robotika adalah hari ini. Perubahan besar ini tidak datang lewat memo diplomatik yang membosankan. Perubahan ini datang dengan dentuman drum di Beijing dan video viral yang ditonton miliaran manusia di layar ponsel mereka.

Logikanya sangat sederhana: jangan cari perkara.

Secara matematis, jika sebuah negara memiliki kemampuan perangkat keras dan algoritma untuk mengoordinasikan gerakan salto secara kolektif, maka mereka memiliki kemampuan untuk melumpuhkan lawan tanpa perlu mengirim satu pun manusia ke garis depan. Mereka akan membiarkan lawan kehilangan seluruh populasinya terlebih dahulu. Sementara mereka hanya kehilangan beberapa tumpukan besi dan sirkuit.

Matematika maut itu sudah dimulai. Tepat di malam Imlek yang penuh kembang api itu, dunia baru saja menyaksikan sebuah pertunjukan. Tapi para jenderal di seberang samudera sedang sibuk mencatat.

Abad Tiongkok tidak lagi mengetuk pintu. Ia sudah berada di dalam rumah. Dan ia bisa melakukan salto. Gong Xi Fa Cai

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

AH
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.