Bagi masyarakat Belanda di era kolonial,Toko Oen Malang bukan sekadar tempat singgah. Ia adalah titik temu di mana waktu seolah melambat di tengah hiruk-pikuk kota. Di sinilah para ekspatriat dan keluarga Belanda menghabiskan waktu senggang mereka. Menariknya, daya tarik toko ini begitu kuat hingga pengunjungnya tidak hanya datang dari lingkup internal kota, melainkan juga dari luar wilayah Malang yang rela menempuh perjalanan jauh demi suasana khasnya.
Lokasi Strategis di Jantung "Paris van East Java"
Secara geografis, Toko Oen menempati posisi yang sangat prestisius. Berdiri mencolok dengan arsitektur kolonial yang khas, lokasinya tepat berada di seberang pusat perbelanjaan legendaris Sarinah dan Gereja Hati Kudus (Gereja Kayutangan). Aksesibilitas yang mudah di pusat kota menjadikannya landmark yang mustahil dilewatkan oleh siapapun yang melintasi kawasan bersejarah ini.
Sejarah dan Ekspansi: Dari Empat Menjadi Dua
Didirikan pertama kali pada tahun 1930, Toko Oen sebenarnya pernah memiliki jaringan yang cukup luas dengan empat cabang utama di Indonesia, yakni Semarang, Malang, Jakarta, dan Surabaya. Namun, sejarah menyisakan hanya dua cabang yang tetap eksis hingga saat ini, yaitu di Malang dan Semarang.
Di Malang, periode 1940-1959 menjadi masa keemasan di mana toko ini menjadi pusat gravitasi sosial bagi komunitas Tionghoa dan Belanda. Moch Andi Septian dalam bukunya, Aktivitas Sosial Ekonomi Etnis Tionghoa di Malang 1940-1959, memberikan catatan penting:
“Tempat ini menjadi ruang sosial bagi kalangan elit Belanda, Indo-Eropa dan pejabat lokal, serta tetap eksis hingga kini sebagai warisan budaya kuliner Malang,” tulisnya.
Bukan hanya sekadar tempat makan dan minum, Toko Oen juga menjadi pusat hiburan. Terdapat area khusus berbentuk busur di dalam ruangan yang dahulu digunakan sebagai lantai dansa bagi orang-orang Belanda. Andi menjelaskan lebih lanjut:
“Toko Oen sendiri mencerminkan keberhasilan integrasi ekonomi dan budaya.”
Harmoni Kuliner: Perpaduan Cita Rasa Lokal dan Eropa
Pendiri toko ini, Liem Gien Nio dan Oen Tjoen Hok, dengan cerdas mengintegrasikan budaya melalui lidah. Mereka menyajikan menu hibrida yang memadukan teknik Eropa dengan bahan lokal, seperti es krim handmade, steak lidah, dan nasi goreng. Hingga hari ini, resep-resep orisinal tersebut masih dipertahankan dengan setia.
Keunikan lain terletak pada tata ruangnya. Toko Oen menyediakan dua jenis meja: kursi tinggi untuk menyantap hidangan utama (main course), serta meja dan kursi pendek yang lebih santai untuk menikmati kopi, teh, hingga hidangan pencuci mulut.
Destinasi Wajib Wisatawan Mancanegara
Bagi turis, kunjungan ke Toko Oen bukan sekadar soal rasa, melainkan perjalanan nostalgia. Andi Septian kembali memaparkan nilai historis tempat ini:
“Dengan arsitektur kolonial dan interior khas era Hindia Belanda, tempat ini tidak hanya menjadi pusat kuliner, tetapi juga destinasi wisata sejarah yang memperkuat identitas multikultural Malang.”
Hubungan emosional ini begitu kuat hingga hampir seluruh biro perjalanan di Belanda memasukkan Toko Oen ke dalam daftar destinasi wajib. Ansori, seorang tourist informan, memberikan kesaksian mengenai antusiasme turis asing:
“Bahkan ada statement kalau tidak ke Toko Oen, berarti tidak ke Kota Malang. Walau tidak makan di sini, kadang mereka datang untuk berfoto-foto, ya karena nilai historisnya.”
Konservasi Arsitektur dan Status Cagar Budaya
Salah satu alasan utama mengapa atmosfer masa lampau begitu terasa adalah komitmen menjaga orisinalitas bangunan. Di fasad depan, pengunjung akan disambut tulisan ikonik dalam bahasa Belanda: “Welkom in Malang Toko Oen Die Sinds 1930 Aan de Gasten Gezzeligheid” yang berarti Selamat Datang di Toko Oen Malang yang memberikan kegembiraan bagi Para Tamu Sejak Tahun 1930.
Meskipun sudah berusia hampir satu abad, struktur utama bangunan ini tetap utuh. Upaya rehabilitasi hanya dilakukan pada bagian-bagian yang rusak atau bocor tanpa mengubah esensi arsitekturnya. Ansori menekankan pentingnya status bangunan ini:
“Keduanya (Semarang dan Malang) menjadi cagar budaya. Dan semuanya ini masih orisinal, mulai dari lantai, plafon baja. Jadi memang selain restoran, toko ini juga cagar budaya. Jadi ini tidak hanya restoran dan toko makanan Belanda.”
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


