Momen Ramadan selalu menjadi waktu yang tepat bagi umat Muslim untuk menyelami kembali sejarah peradaban Islam. Salah satu caranya adalah dengan mengapresiasi karya-karya klasik yang menjadi bukti nyata penyebaran agama ini di masa lampau.
Bagi masyarakat yang ingin melihat langsung bukti sejarah tersebut, Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS) menjadi destinasi yang tepat. Di sini, pengunjung bisa menemukan berbagai peninggalan ulama klasik, termasuk sebuah Alquran kuno yang diperkirakan telah berusia lebih dari satu abad.
“Setahun lalu, pada 27 Januari 2023, ada jamaah yang menghibahkan Alquran kuno yang ditulis tangan dan berusia lebih dari 100 tahun kepada Masjid Al Akbar,” ujar Humas MAS H Helmy M Noor, Minggu, 31 Maret 2024.
Alquran raksasa ini memiliki spesifikasi yang mengagumkan: berat 25 kilogram, panjang 110 sentimeter, dan lebar 180 sentimeter dengan total 121 lembar. Namun, sosok penulis di balik mahakarya ini masih menjadi tanda tanya.
“karena jamaah yang mewakafkan Alquran kuno itu juga masih lost contact,” ungkap Helmy yang juga menjabat sebagai Sekretaris MAS tersebut.
Misteri di Balik Mushaf Klasik
Pihak pengelola masjid terus berupaya menggali informasi lebih dalam mengenai asal-usul naskah tersebut. Sayangnya, keterbatasan data membuat sejarah lengkap Alquran ini masih menjadi teka-teki yang menarik untuk dipecahkan.
Di sisi lain, Kabid Pelayanan Perpustakaan Pemprov Jatim, Arif Widodo, memberikan pandangannya. Ia menduga usia pasti Alquran tersebut akan terungkap melalui uji kimia oleh Tim Perpustakaan Nasional. Namun, jika dilihat dari coraknya, ada indikasi kuat naskah ini berasal dari pesisir Jawa.
“Yang jelas, kami mendukung apa yang dilakukan pengelola Masjid Al-Akbar untuk melakukan perawatan naskah kuno, termasuk Al-Qur’an, karena upaya itu akan menumbuhkan Cinta Al-Qur’an dan menambah wawasan tentang perkembangan Agama Islam di Tanah Air,” katanya.
Kehadiran Alquran bersejarah ini bukan hanya sekadar koleksi, melainkan cerminan dari keindahan dan kedalaman kisah yang tersimpan dalam artefak masa lalu.
Kekayaan Literasi Ulama Nusantara
Pustakawan Dodik Irawan menjelaskan bahwa Jawa Timur memang menjadi gudang naskah kuno karya ulama-ulama besar Nusantara. Sebut saja karya Syaikhana Muhammad Kholil Bangkalan, Syekh Mahfud At-Tarmasi Pacitan, hingga warisan Sunan Giri (Raden Paku).
Selain itu, banyak pula naskah kuno hasil goresan tangan para kiai yang tersimpan di berbagai pondok pesantren maupun di tangan masyarakat Jawa Timur.
“Kita menggali naskah-naskah itu yang ada di Jawa Timur untuk memperkenalkan lagi kepada masyarakat terutama generasi muda yang sekarang bahwa dulu ulama-ulama Nusantara khususnya di Jawa Timur itu sangat berperan dalam menyebarkan agama Islam terbukti dengan banyaknya naskah-naskah atau tulisan berupa kitab fiqih atau kitab kuning hasil karya mereka,” ucap Dodik yang dinukil dari Pustaka Media News.
Dodik menekankan betapa pentingnya warisan intelektual ini bagi dunia. “Karya-karya intelektual para ulama kita sangat memberikan manfaat besar, utamanya terhadap perkembangan Islam di dunia,” tambahnya.
Saat ini, upaya memperkenalkan manuskrip kuno karya ulama Nusantara terus dilakukan secara masif melalui berbagai agenda tahunan. Menariknya, karya-karya ini ternyata juga diakui di mancanegara, bahkan menjadi bahan pembelajaran di Mesir.
“Kita atas dukungan pemerintah sedang menelusuri kesana (Mesir, red) sejak tahun kemarin dan masih berlanjut sampai sekarang,” tutup Dodik.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


