bertahun tahun jadi satpam ugm teguh saksikan putrinya lulus doktor di kampus yang sama - News | Good News From Indonesia 2026

Bertahun-tahun Jadi Satpam UGM, Teguh Saksikan Putrinya Lulus Doktor di Kampus yang Sama

Bertahun-tahun Jadi Satpam UGM, Teguh Saksikan Putrinya Lulus Doktor di Kampus yang Sama
images info

Bertahun-tahun Jadi Satpam UGM, Teguh Saksikan Putrinya Lulus Doktor di Kampus yang Sama


“Saya percaya ini memang sudah rezeki, semua sudah diatur,” ucap Teguh dalam rilis Humas UGM, 19 April 2018 lalu.

Betapa bangga Teguh Tuparman saat putri sulungnya berhasil menyelesaikan jenjang doktoral di UGM, kampus yang ia jaga.

Kala itu, Teguh hadir di Grha Sabha Pramana dengan seragam lengkap dan sepatu botnya. Bukan untuk berjaga, tapi untuk menyaksikan anaknya, Retnaningtyas Susanti diwisuda sebagai doktor.

Ingatan tentang kelahiran Tyas cukup membekas bagi Teguh. Tahun itu menjadi awal dua perjalanan dimulai bersamaan. Sebab, tahun saat ia mulai bekerja di UGM, putri sulungnya lahir. Teguh menjadi satpam; anaknya, Tyas memulai hidupnya.

baca juga

Mimpi Itu Tumbuh Saat Teguh Berpatroli

Dulu, saat akhir pekan, Teguh sering membawa Tyas kecil ke kampus. Teguh mengajak putrinya ikut berkeliling. Di situ lah keinginan agar anaknya bisa mengenyam pendidikan tinggi muncul.

“Kan saya kerja di tempatnya orang-orang pintar, jadi saya ingin juga anak saya nanti bisa jadi seperti orang-orang ini,” katanya.

Komitmen Teguh kuat. Ia ingin anaknya bisa kuliah walaupun kondisinya tidak mudah. Teguh lulusan SMP dan istrinya tidak pernah sekolah.

Bisa dibilang gajinya sebagai satpam pas-pasan. Tapi ketika Tyas ingin masuk Prodi Antropologi UGM, Teguh tidak menahan.

baca juga

Untuk membiayai kuliah itu, Teguh berutang. Ia berkorban.

“Dulu ya harus korban moril dan materiil, hutang sana sini. Tapi saya yakin kalau uang itu digunakan untuk hal yang baik nanti akan ada penggantinya,” tuturnya.

Memang, jika tekat orang tua dan anak sama-sama kuat, mimpi yang terasa jauh akan terasa mudah digapai. Buktinya, empat anak Teguh, semuanya kuliah. Bahkan, di tengah ekonomi yang serba terbatas.

“Dan nyatanya sampai sekarang kami bisa hidup cukup, dan empat anak kami semua kuliah,” tegasnya.

baca juga

Ketika Ayah Tidak Lagi Bisa Membiayai

Tyas lulus S1 dalam 3 tahun 7 bulan. Ia bekerja sebagai peneliti di Pusat Studi Kebijakan dan Kependudukan (PSKK) UGM. Pusat ini mengkaji isu kependudukan dan kebijakan publik. Dari situ ia berangan menjadi dosen.

Tyas pun ingin lanjut S2.

Sayangnya, Tyas tidak bisa egois. Sebagai anak pertama, ia harus melihat adik-adiknya yang masih sekolah.

“Waktu saya kuliah S1 Bapak dukung penuh. Meski awalnya saya tidak yakin bisa kuliah, Bapak yakinkan bahwa saya bisa kuliah. Tapi waktu saya mau S2 Bapak tidak bisa membiayai lagi karena adik-adik saya juga masih sekolah semua,” kata Tyas.

baca juga

Tantangan itu tidak mampu meruntuhkan keinginan Tyas. Untuk menggapai mimpinya, Tyas memutuskan kuliah sambil bekerja.

“Saya masih ingat dulu sering berjualan salak di depan sini,” ujarnya, menunjuk sisi selatan kampus.

Tyas juga bekerja di warung kopi. Ia mencari biaya sendiri.

Tahun 2011, Tyas lulus S2 bidang pariwisata. Gelar itu membawanya menjadi dosen di Universitas Andalas.

baca juga

Tahun 2013, Tyas kembali ke Yogyakarta untuk S3 dengan beasiswa BPPDN Dikti. BPPDN adalah Beasiswa Pendidikan Pascasarjana Dalam Negeri dari pemerintah untuk meningkatkan kualifikasi dosen.

Dan pada 2018, ia resmi menyandang gelar doktor.

“Saya ingin Bapak dan Ibu melihat saya dikukuhkan sebagai guru besar suatu hari kelak,” ucapnya setelah wisuda.

baca juga

Ayah yang Menolak Punya Satu Profesi Saja

Cerita Teguh tidak hanya tentang satu anak. Ia dan Sri Retnanik membesarkan empat putri yang sama-sama lulus dari perguruan tinggi.

Gajinya sebagai satpam tidak cukup. Teguh pun mencari tambahan untuk mendukung pendidikan anak-anaknya.

“Dulu saat anak-anak masih sekolah semua saya menjalani semua pekerjaan, pernah jadi sopir bus kota dan penjaga,” kisahnya.

Teguh menjadi sopir bus kota di Yogyakarta. Ia juga menjadi penjaga gedung fasilitas kesehatan kampus.

baca juga

“Saya ingin anak-anak bisa sekolah tinggi, tidak seperti saya yang hanya lulusan SMP,” katanya.

Tahun 2018, ia menerima penghargaan Keluarga Hebat dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Ia dinilai berhasil menjalankan fungsi keluarga dalam mendidik dan membimbing anak.

“Bangga rasanya, meskipun saya ini orang biasa yang hanya lulusan SMP dan isteri tidak pernah sekolah bisa menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi,” ungkapnya.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.