khoirul anam tamatkan s2 demi cita cita mengajar kisah inspiratif dari satpam bank - News | Good News From Indonesia 2026

Khoirul Anam Tamatkan S2 Demi Cita-Cita Mengajar: Kisah Inspiratif dari Satpam Bank

Khoirul Anam Tamatkan S2 Demi Cita-Cita Mengajar: Kisah Inspiratif dari Satpam Bank
images info

Khoirul Anam Tamatkan S2 Demi Cita-Cita Mengajar: Kisah Inspiratif dari Satpam Bank


“Motivasi saya sebenarnya ingin mencerdaskan bangsa. Cita-cita saya menjadi pengajar, guru atau dosen. Untuk saat ini saya bertahan sebagai satpam sambil berusaha mencapai titik tersebut,” ujar Khoirul Anam.

Anam setiap hari berjaga di pintu masuk BRI Kantor Cabang Tanjung Priok. Di luar jam jaga, ia menulis buku, menyusun artikel ilmiah, dan menempuh pendidikan tinggi hingga jenjang magister.

Ya, di balik seragam satpam, Anam telah lebih dari sekali mengenakan toga. Ia telah menyelesaikan pendidikan S2 Manajemen di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma.

baca juga

Sebelumnya, ia telah memiliki dua gelar sarjana: S1 Manajemen dari Universitas Pamulang melalui kelas karyawan sejak 2019, serta S1 Pendidikan Agama Islam dari STIT Bustanul Ulum, Lampung Tengah.

Kelas karyawan dipilih karena memungkinkan kuliah sambil bekerja penuh waktu. Skema ini lazim diikuti pekerja sektor layanan, dengan jadwal kuliah malam dan akhir pekan. Memang tampak memudahkan, tapi waktu istirahat sering dikorbankan.

“Untuk kesulitannya paling pengelolaan waktu. Terkadang kita korbankan waktu tidur untuk menyelesaikan penelitian,” kata Anam.

baca juga

Awal Tahun Sudah Keluarkan Buku

Produktivitas akademiknya tidak berhenti di bangku kuliah. Hingga awal 2026, Anam telah menerbitkan delapan buku ber-ISBN yang tercatat di Perpustakaan Nasional. Tiga buku lain sedang ia garap melalui kolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan lewat program Dana Indonesiana.

“Untuk karya buku, yang sudah publikasi sekitar delapan buku dan tiga buku lagi sedang saya garap sekarang,” ujarnya.

Selain buku, Anam menulis artikel ilmiah. Total 13 karya ilmiah telah terbit di jurnal nasional dan internasional. Dua naskah lainnya diserahkan ke kampus sebagai bagian dari skripsi dan tesisnya.

baca juga

Atas capaian itu, ia dianugerahi rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai satpam dengan karya ilmiah terbanyak. Penghargaan tersebut diterimanya pada Jumat (30/1/2026).

Meski demikian, Anam tetap menemui kesulitan lain. Ia menyebut biaya sebagai hambatan terbesar.

“Kalau saya sih jujur dari segi pendanaan untuk publikasinya sih. Karena untuk publikasi jurnal maupun buku itu memerlukan biaya,” katanya.

Dalam sistem akademik, banyak jurnal menerapkan biaya publikasi atau article processing charge. Article processing charge (APC) adalah biaya yang harus dibayar penulis agar artikelnya diproses dan diterbitkan di jurnal ilmiah, terutama jurnal akses terbuka.

baca juga

Biaya ini digunakan untuk proses penilaian, penyuntingan, dan publikasi, sehingga artikel bisa dibaca gratis oleh publik. Besarnya APC sering menjadi hambatan karena nilainya bisa mencapai jutaan rupiah, terutama di jurnal bereputasi.

Karena keterbatasan tersebut, Anam harus menyesuaikan target jurnal dengan penghasilannya sebagai satpam.

“Sangat pengin sih, Pak. Penginnya itu karya tulis saya itu terakreditasi mungkin Sinta 2, Sinta 3, atau Scopus 3, Scopus 4. Tetapi karena biaya tadi ya, untuk dari saya belum bisa,” ujarnya.

Sinta adalah sistem indeks jurnal nasional Indonesia. Scopus adalah basis data jurnal internasional bereputasi. Semakin tinggi peringkatnya, semakin ketat seleksi dan semakin mahal biaya publikasinya.

baca juga

Bagaimana Kisah Anam, Jadi Satpam tapi Bisa Capai Magister?

Perjalanan hidup Anam sendiri berangkat dari keputusan nekat. Tahun 2018, ia merantau dari Kabupaten Tanggamus, Lampung, ke Jakarta dengan modal Rp 1 juta.

“Saya nekat merantau dari Lampung sampai ke Jakarta hanya modal biaya Rp 1 juta untuk bertahan hidup di Jakarta,” katanya .

Di tahun yang sama, Anam sempat mengalami sakit berat hingga koma. Kondisi itu menjadi titik balik hidupnya.

“Saya harus hidup di umur kedua ini harus menjadi yang lebih baik,” ujar Anam.

baca juga

Kini, Anam masih berdiri di pos satpam BRI Tanjung Priok. Ia tetap menyapa nasabah, mengarahkan antrean, dan menjalankan tugas seperti biasa. Di sela itu, ia tetap menulis dan belajar, meski jalannya tidak selalu mudah.

Baginya, seragam satpam bukan akhir perjalanan. Ia melihatnya sebagai fase sementara menuju ruang yang ia impikan sejak lama.

Suatu hari, ia ingin berdiri di depan kelas untuk mengajar; mencerdaskan bangsa, seperti yang selalu ia sebut sebagai alasan mengapa ia tidak berhenti belajar, apa pun profesinya.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.