Sebelum aktivitas lari menjadi tren, komunitas ini sudah berdiri sejak 13 tahun lalu dan tetap konsisten sedari awal. Tiap Kamis malam, ratusan anggotanya berkumpul. Komunitas ini bernama PlayOn Jogja.
PlayOn Jogja sering disebut sebagai salah satu komunitas lari tertua di Jogja. 13 tahun lalu berdiri, komunitas ini masih aktif hingga sekarang bahkan anggotanya makin merambah.
Sebelumnya, PlayOn Jogja lahir dari empat orang, tanpa sponsor, tanpa iuran, bahkan pernah diusir saat latihan pertama.
Lari Malam Pernah Dianggap Mengganggu
PlayOn Jogja didirikan pada 2012 dengan nama IndoRunners Yogyakarta. Komunitas ini merupakan cabang dari IndoRunners Indonesia yang lebih dulu berdiri di Jakarta pada 2008.
Pendiri IndoRunners Jogja adalah Thea Rizkia, yang sebelumnya aktif berlari bersama IndoRunners Jakarta.
“Awalnya itu Mbak Thea dulu kerja di Jakarta dan bergabung dengan IndoRunners di sana. Setelah menikah dan kembali ke Jogja, beliau izin ke pengurus pusat untuk mendirikan IndoRunners Jogja. Itu tahun 2012,” kata Koordinator PlayOn Jogja, Robertus Indra.
Pada fase awal, aktivitas lari apalagi malam hari masih terlihat aneh bagi warga sekitar. Lari malam belum dianggap sebagai kebiasaan sehat seperti sekarang. Anggapan tersebut berdampak pada pelaksanaan lari PlayOn Jogja yang perdana. Pada sesi lari perdana yang digelar di bulan puasa 2012, komunitas ini mengalami pengalaman yang tidak terlupakan.
Thursday Night Run (TNR) pertama hanya diikuti empat orang. Titik kumpulnya berada di sebuah restoran cepat saji di Jogja. Seusai berlari, beberapa peserta melakukan pendinginan seperti push-up dan sit-up. Keempatnya, ditegur oleh petugas keamanan karena dinilai mengganggu.
“Lari Kamis malam pertama itu langsung diusir satpam. Karena habis lari masih ada yang push-up dan sit-up, dianggap mengganggu tamu,” ujar Indra, dikutip dari Detik.
Mereka tidak langsung kena mental. Pengurus kemudian mencari lokasi yang lebih aman dan ramah. Berkat relasi pendiri dengan salah satu operator seluler, aktivitas TNR akhirnya mendapat izin untuk berlangsung di area Telkomsel, yang kini dikenal sebagai Gedung Bank Jateng.
“Akhirnya bersurat dan karena ada relasi, diizinkan. Untuk selanjutnya aktivitas TNR-nya itu di Telkomsel, yang sekarang jadi Bank Jateng,” ungkap Indra.
Dari Tabu Menjadi Tren
Berkat keyakinan dan konsistensi, jumlah peserta komunitas meningkat signifikan pada 2013–2014. Awalnya yang hanya terdiri dari empat orang menjadi puluhan. Pada tahun itu, dalam satu sesi TNR, jumlah pelari bisa mencapai 50 hingga 80 orang.
Indra sendiri bergabung pada 2015. Saat itu, PlayOn Jogja sudah mulai dikenal sebagai ruang aman untuk pelari pemula. Yang jelas, tidak ada tuntutan performa dalam komunitas ini.
Lonjakan terbesar terjadi setelah pandemi COVID-19. Ketika kesadaran akan kesehatan meningkat, lari menjadi pilihan yang mudah dan murah. Masalahnya sekarang, mereka membutuhkan ruang yang dapat menampung ratusan pelari.
“Sekarang tantangannya justru mencari lokasi yang bisa menampung ratusan orang, mulai dari pemanasan sampai parkir. Di venue tertentu, peserta bisa lebih dari 400 orang,” jelas Indra.
Sebelum pandemi, peserta TNR berada di kisaran 80–120 orang. Kini, angka itu melonjak menjadi 300–400 pelari setiap Kamis malam.
Non-Komersial di Tengah Tren Industri Lari
Saat banyak komunitas berubah menjadi entitas komersial, PlayOn Jogja memilih tetap berada di komitmen awal. Tidak ada iuran dan tidak ada sistem keanggotaan. Komunitas ini bersifat terbuka. Siapa pun boleh datang dan ikut berlari.
“Agenda PlayOn Jogja ini komunitas lari yang non-komersial, yang terbuka. Kita nggak ada sistem membership, nggak ada formulir, nggak ada iuran,” kata Indra.
Konsep ini membuat PlayOn Jogja menjadi ruang inklusif. Pesertanya datang dari berbagai latar belakang. Usia pun beragam, dari anak-anak hingga lansia. Mayoritas berada di rentang 20–40 tahun, didominasi mahasiswa dan pekerja.
Nah, agar ratusan pelari tetap tertib dan aman, PlayOn Jogja membagi peserta ke dalam beberapa pace. Pace adalah kecepatan lari yang dihitung dalam menit per kilometer.
Pembagiannya sebagai berikut:
- Pace 7–8 (paling santai)
- Pace 6–7
- Pace 5 (lebih cepat)
Setiap kelompok didampingi pacer, yaitu pelari yang menjaga kecepatan tetap stabil, serta marshall, yang bertugas mengatur lalu lintas dan memastikan keamanan peserta di jalan.
Sistem ini membantu pelari pemula agar tidak tertinggal dan membuat pelari berpengalaman tetap nyaman.
Bertahan sebagai Warisan
PlayOn Jogja kini telah berusia 13 tahun. Akun Instagram mereka, @playon_jogja, memiliki lebih dari 36 ribu pengikut. Angka ini jauh berbeda dibanding awal berdiri yang hanya puluhan.
Dari empat orang yang diusir satpam, PlayOn Jogja tumbuh menjadi ruang sosial yang hidup. Tanpa iuran, tanpa eksklusivitas, hanya konsistensi dan rasa kebersamaan.
“Harapannya PlayOn Jogja tetap eksis puluhan tahun ke depan dan terus mengajak masyarakat Jogja hidup sehat lewat lari,” tutup Indra.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


