resign dari staf it dewi bangun ketahanan pangan lewat dw farm karena khawatir teknologi tak selamanya bisa diandalkan - News | Good News From Indonesia 2026

Resign dari Staf IT, Dewi Bangun Ketahanan Pangan Lewat DW Farm karena Khawatir Teknologi Tak Selamanya Bisa Diandalkan

Resign dari Staf IT, Dewi Bangun Ketahanan Pangan Lewat DW Farm karena Khawatir Teknologi Tak Selamanya Bisa Diandalkan
images info

Resign dari Staf IT, Dewi Bangun Ketahanan Pangan Lewat DW Farm karena Khawatir Teknologi Tak Selamanya Bisa Diandalkan


“Konsep slow living itu bukan bagaimana kita harus punya tabungan berapa, tapi soal mindset tentang bagaimana kita itu bisa tetap menghasilkan uang, bisa tetap bekerja yang kita sendiri yang mengatur ritmenya, waktunya. Slow living itu bukan tentang nominal, tapi tentang bagaimana kita bisa tetap produktif,” tutur Dewi.

Dewi Apriyani memilih keluar dari pekerjaannya. Bukan karena burnout, PHK, atau ikut-ikutan tren pindah ke desa. Keputusan Dewi Apriyani resign dari pekerjaannya sebagai staf IT justru dipicu oleh kekhawatiran tentang masa depan.

“Bagaimana jika 10–20 tahun ke depan teknologi dan listrik benar-benar tidak bisa diandalkan?”

baca juga

Pertanyaan tersebut telah menghantuinya sejak 2016, saat ia berbincang dengan atasan dan seniornya. Dari situ, cara pandangnya berubah. Ia mulai memikirkan ulang soal ketergantungan manusia pada sistem yang rapuh.

Alih-alih panik, ia bersiap.

Dewi lantas menabung selama satu dekade. Ia menyusun rencana. Setelah tabungannya dirasa cukup, ia beralih. Pekarangan rumahnya di Cibinong disulap jadi lahan peternakan dan pertanian yang dinamai DW Farm.

“Di 10 tahun sebelumnya, saya fokus untuk mengumpulkan dana dan saya langsung beralih ke dunia peternakan juga pertanian. Kenapa? Karena ketahanan pangan ini berkaitan dengan keberlangsungan makhluk hidup, baik manusianya maupun tanaman dan juga hewan. Jadi artinya segala sesuatu yang hidup itu tidak akan punah,” ungkap Dewi.

baca juga

Slow Living Versi Dewi: Tetap Produktif

Banyak orang mengasosiasikan slow living dengan hidup santai tanpa target. Dewi menolak definisi itu. Menurutnya, slow living itu tentang bagaimana tetap bisa produktif dengan ritme kerja yang bisa diatur sendiri.

“Konsep slow living itu … soal mindset tentang bagaimana kita itu bisa tetap menghasilkan uang, bisa tetap bekerja yang kita sendiri yang mengatur ritmenya, waktunya. Slow living itu bukan tentang nominal, tapi tentang bagaimana kita bisa tetap produktif,” kata Dewi.

Nah, langkah pertama Dewi untuk produktif di rumah adalah mengamankan protein hewani untuk keluarga. Ia mulai beternak di pekarangan rumah.

baca juga

 Protein hewani adalah sumber protein dari hewan seperti telur, ayam, dan ikan. Dalam pengeluaran rumah tangga, komponen ini sering menyedot anggaran lebih besar dibanding sayuran.

“Karena kan bagaimanapun juga dari budget (kebutuhan) dapur, protein hewani ini lebih banyak memakan biaya,” jelasnya.

Setelah kebutuhan protein dirasa cukup, Dewi mulai merencanakan untuk menjual hasil ternaknya. Karena ternyata, produksi hasil ternaknya telah melampaui batas kebutuhannya sendiri.

“ Awalnya untuk ketahanan pangan mandiri keluarga saya pribadi. Nah, seiring berjalannya waktu, ternyata lebihnya itu bisa dijual. Baik dari telur, anak ayam maupun daging ayamnya, tapi dalam bentuk hidup bukan karkas,” sambungnya.

Karkas berarti ayam yang sudah dipotong dan dibersihkan. Dewi memilih menjual ayam hidup.

baca juga

DW Farm Hanya dari Sembilan Ekor Ayam

DW Farm tidak lahir dengan ratusan ekor ayam. Awalnya hanya terdiri dari dua jantan dan tujuh betina. Total sembilan ekor. Kini, jumlahnya sudah mencapai ratusan.

Jenis ayam ysng dikonsumsi sekaligus dijual pun tidak sembarangan. Untuk petelur, Dewi menyediakan ISA Brown, Elba, dan Ayam Arab. ISA Brown dikenal sebagai ayam ras petelur dengan produksi telur tinggi dan stabil.

Sedangkan untuk pedaging, Dewi memelihara KUB 1 dan KUB 2. KUB adalah Kampung Unggul Balitbangtan, ayam hasil pemuliaan yang dirancang lebih cepat tumbuh dibanding ayam kampung biasa.

baca juga

“Untuk jenis ayamnya saat ini ada ras ayam pedaging, dan juga ras ayam petelur. Kalau untuk ras ayam petelur itu menggunakan Ayam ISA Brown, Ayam Elba serta Ayam Arab. Adapun untuk ras ayam pedagingnya, di sini ada Ayam KUB 1 dan juga Ayam KUB 2. Dan totalnya sekarang sudah terjual sekitar 300-400 ekor,” terangnya, sebagaimana dikutip dari Jagat Tani.

Dewi tidak menjual anakan ayam. Ia hanya menjual telur konsumsi, ayam usia remaja, hingga indukan siap produksi usia 4,5–5 bulan. Ia tidak menjual DOC. DOC adalah Day Old Chick, anak ayam usia sehari. Dewi memilih menjual ayam usia satu bulan ke atas.

“Untuk saat ini DW Farm sudah menjual semua segmentasi baik dari telur konsumsi, berupa telur ayam kampung atau telur ayam ras. Karena DW Farm tidak menjual anak ayam atau Daily Of Chicken (DOC). Jadi yang dijual adalah yang berumur 1 bulan ke atas. Kemudian ada juga penjualan ayam usia remaja atau pullet,” paparnya.

baca juga

Pullet adalah ayam betina muda yang belum bertelur. Biasanya berusia 12–20 minggu. Banyak pembeli memilih fase ini karena lebih praktis, tinggal menunggu masa produksi.

Harga yang ditawarkan beragam. Telur ayam kampung Rp10.000 per tiga butir. Telur fertil Rp5.000 per butir. Telur fertil berarti telur yang sudah dibuahi dan bisa ditetaskan. Ayam pullet dijual sekitar Rp100.000 per ekor.

Dengan harga yang sudah dipatok dan pasar yang mulai terbentuk, DW Farm memang terlihat mapan. Akan tetapi, Dewi mengingat betul bagaimana fase awal ia membentuk usaha itu. Oleh karena itu, ia selalu menekankan satu hal: jangan tunggu modal sempurna. Usaha dapat dimulai dari hal kecil.

“Untuk teman-teman yang mau memulai slow living dengan berternak dan juga berkebun, cobalah dari hal yang paling sederhana. Kalau misalnya ibu-ibu mungkin bisa dimulai dengan menanam sayuran seperti kangkung, bayam, cabe, dan tomat. Kalaupun ada yang lebih suka betenak, pilihlah ayam kampung ori yang mana bisa dibudidaya tanpa harus keluar modal untuk membeli mesin penetas,” pungkasnya.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.